Sejarah Berdirinya Patung Jenderal Sudirman Di Kementerian Pertahanan Jepang

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Kamis, 20 Agustus 2020
loading...

Indolinear.com, Tokyo – Tak seperti biasanya, tahun ini perayaan 17 Agustusan di depan Patung Jenderal Besar Sudirman (JBS) di dalam Kementerian Pertahanan Jepang ditiadakan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Sejak 2014 setelah patung JBS diresmikan, setiap tahun diselenggarakan upacara 17 Agustusan pada pagi hari oleh kelompok masyarakat Jepang pecinta JBS (Masyarakat untuk Diseminasi Fakta Sejarah) di depan patung tersebut bersama Duta besar Indonesia untuk Jepang.

Bagaimana sejarah tercipta munculnya patung JBS di Kementerian Pertahanan Jepang, satu-satunya patung yang ada di dalam kementerian tersebut hingga saat ini?

Sejak 2010 seseorang yang punya hubungan baik Indonesia – Jepang punya ide untuk memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi upaya semakin mempererat hubungan kedua negara yang kemudian “ditangkap” idenya oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat itu di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dilansir dari Tribunnews.com (18/08/2020).

Setelah dikonsultasikan dan dilobi dengan Jepang, akhirnya menyetujui hal tersebut di belakang layar.

Pada tanggal 14 Januari 2011 (Jumat), Menteri Pertahanan Jepang Toshimi Kitazawa mengadakan Pertemuan Tingkat Menteri Pertahanan Jepang-Indonesia dengan Menteri Pertahanan Indonesia Purnomo selama kurang lebih satu jam.

Menteri Pertahanan Purnomo menyumbangkan patung Jenderal Sudirman, pahlawan nasional kemerdekaan Indonesia yang menerima pendidikan dan pelatihan Jepang (di PETA = Pembela Tanah Air) kepada Kementerian Pertahanan.

Hal ini melambangkan kemajuan kerja sama dan pertukaran pertahanan Jepang-Indonesia, dan patung perunggu penyerahan diadakan sebelum rapat menteri pertahanan.

Menurut Menteri Kitazawa, Indonesia bukan hanya kekuatan besar di kawasan ini tetapi juga sebagai (saat itu) Ketua ASEAN tahun 2011, dan dalam garis besar rencana pertahanan yang baru dirumuskan pada Desember 2010.

Jepang sepakat akan memperkuat kerja sama keamanan dengan negara lain, khususnya Indonesia dan menyatakan ingin lebih mengembangkan dan memperkuat kerja sama dengan Indonesia.

Setelah rapat tersebut dengan resmi patung berada di halaman Kementerian Pertahanan Jepang sejak Januari 2011.

Letaknya dari pintu masuk utama ke arah kiri ujung lalu ke kanan. Patung ada di sebelah kiri di halaman belakang Kementerian Pertahanan.

Dengan demikian patung tersebut tak lepas dari ide bangsa Indonesia yang direalisasikan oleh Menteri Pertahanan Purnomo saat itu.

Patung Jenderal Sudirman ini berbeda dengan patung-patung Jenderal Sudirman lainnya yang selama ini selalu digambarkan dengan pakaian jas jubah lusuh dan blankon–sebuah penggambaran Sudirman saat memimpin perang gerilya.

Patung Sudirman di Kementerian Pertahanan Jepang ini mengenakan seragam PETA, organisasi tentara yang didirikan Jepang.

Setelah berdirinya patung JBS di dalam Kementerian Pertahanan Jepang, kelompok masyarakat pecinta PBS melobi pihak Kementerian Pertahanan agar bisa merayakan 17 Agustusan di depan patung tersebut bersama pihak KBRI Tokyo.

Akhirnya disetujui Kementerian Pertahanan, mulai tahun 2014 dilakukanlah pengumpulan tokoh tertentu, yang punya kaitan Perang Dunia II pecinta Indonesia di Jepang serta warga Indonesia, termasuk Tribunnews.com.com mulai melakukan upacara 17 Agustusan di depan patung JBS itu.

Upacara dilakukan setiap tahun hingga tahun 2019 dan tahun ini terhenti karena adanya pandemi Corona disamping juga Duta Besar Indonesia untuk Jepang diperkirakan baru tiba Oktober 2020 mendatang.

Hideaki Kase (79), kritikus diplomatik Jepang yang dikenal karena mempromosikan revisionisme historis, karateka ban hitam Dan-5.

Ayahnya adalah Toshikazu Kase, mantan Dubes Jepang pertama bagi PBB, adalah seorang diplomat tinggi di Kemlu Jepang di bawah Shigenori Togo yang menegosiasikan sebuah akhir dari Perang Pasifik.

Kemudian menandatangani perjanjian berakhirnya perang di depan Panglima perang AS, Jenderal McArthur. Saat itu Toshikazu Kase pun hadir di sana.

Orang nomor dua di masyarakat Jepang itu pendukung Indonesia adalah Profesor Fujii Gemki yang biasa menjadi Ketua Panitia Pelaksana perayaan 17 Agustusan di depan patung JBS.

“Jenderal Sudirman merupakan figur penting dalam sejarah Indonesia dan sekaligus juga dalam sejarah Indonesia-Jepang. Melalui tentara PETA, yang dibentuk Jepang, kontak antara tentara Jepang dengan Jenderal Sudirman terjadi. JBS menjadi salah satu simbol penting dalam hubungan kedua negara,” ungkap Fujii kepada Tribunnews.com beberapa waktu lalu.

Patung Sudirman ini merupakan satu-satunya patung pahlawan asing yang ada dan dipajang di Jepang. Ini merupakan fenomena yang unik dan sekaligus merupakan keistimewaan bagi Indonesia.

Panglima Besar Sudirman adalah Kepala Tentara Keamanan Rakyat (TKR, kini TNI), meniti karier kemiliterannya di Pusat Pendidikan Kyodo Boei Gyugun atau PETA di Bogor.

PETA adalah pasukan cadangan bentukan Jepang yang melatih para pemuda Indonesia dengan beragam pendidikan militer khas Jepang.

PETA dibentuk dan dipersiapkan seandainya sekutu (Belanda) masuk ke Indonesia di masa Perang Dunia II Front Pasifik, bisa dihajar balik oleh para pejuang bangsa Indonesia berkat didikan para tentara Jepang. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: