Sarjana Teknik dan Dior Di Balik Louis Vuitton Yang Mendunia

FOTO: detik.com/indolinear.com
Jumat, 3 September 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Siapa yang tak mengenal merek Louis Vuitton? Di seluruh dunia, merk ini terkenal sebagai raksasa barang fesyen mewah dengan harga selangit. Lalu, siapa sosok dibalik merek tersebut?

Dia adalah Bernard Arnault. Berkat bisnis barang mewahnya tersebut, Arnault tercatat sebagai orang terkaya ketiga di dunia, tepat di bawah CEO Amazon Jeff Bezos dan pendiri Microsoft Bill Gates. Bahkan, tahun lalu, Arnault sempat menyalip Bill Gates dengan total kekayaan saat itu US$ 108 miliar.

Meski tak lagi berada di posisi kedua orang terkaya di dunia, kekayaan Arnault tetap bertambah. Mengutip dari Detik.com (01/09/2021), kekayaan Arnault kini mencapai US$ 134,1 miliar atau naik sekitar 7,47% dari kekayaan sebelumnya.

Latar belakang pendidikan dan karier awal Arnault sebenarnya jauh sekali dari bidang fesyen maupun bisnis.

Ia merupakan lulusan teknik dari École Polytechnique di Palaiseau pada tahun 1971. Setelah lulus, ia langsung bergabung dengan ayahnya, mengembangkan perusahaan yang juga mengembangkan perusahaan di bidang konstruksi bernama Ferret-Savinel.

Tak lama setelah itu, tepat di usianya yang ke-25 tahun, Arnault mengambil alih bisnis keluarganya tersebut. Ambisi membesarkan perusahaan itu pun muncul. Tak hanya ingin jadi perusahaan nomor wahid di Prancis tapi jadi perusahaan kelas dunia.

Benar saja, tepat saat Presiden Prancis Francois Mitterrand memimpin pada tahun 1981, Arnault langsung pindah ke Amerika Serikat (AS) dan mencoba membangun divisi baru di sana. Namun, kemudian ambisinya itu sedikit berubah. Ia tiba-tiba ingin mengubah fokus perusahaan keluarganya tersebut. Akhirnya, bisnis fesyen menjadi pilihan hatinya.

Idenya masuk ke bisnis fesyen sebenarnya datang tanpa disengaja. Saat ia mengobrol dengan seorang sopir taksi New York, ia iseng bertanya. “Apakah kau mengenal siapa Presiden Prancis?”

Lantas, sopir itu menjawab, “Tidak, tapi saya mengenal Christian Dior.”

Dari situlah, Arnault sadar bahwa Prancis dikenal karena fesyennya. Bila ia berambisi memiliki perusahaan kelas dunia, bisnis inilah yang paling tepat untuk dikembangkan.

Pada 1984, ia pun mulai merambah bisnis fesyen mewah. Saat itu, ia tahu Christian Dior akan dijual pemiliknya. Dengan cepat kilat, ia langsung memburu perusahaan itu.

Begitu menguasai Christian Dior, Arnault langsung membuat gebrakan besar untuk perusahaan ini. Ia langsung memecat sebanyak 9.000 pekerja di sana. Hal itu cukup ekstrem di Prancis sampai-sampai ia mendapat julukan ‘Serigala Berjubah Kasmir’ karena kebijakannya tadi.

Setelah Dior, Arnault semakin agresif mengakuisisi berbagai merek-merek fesyen dan barang mewah lainnya seperti Moët & Chandon (produsen sampanye) dan Hennessy (produsen cognac).

Kemudian, ia mendirikan grup Louis Vuitton Moët Hennessy (LVMH). Sejak dari itu, Arnault terus-terusan menaklukkan perusahaan-perusahaan terkemuka di Eropa lainnya yang bergerak di bidang fesyen, wewangian, perhiasan, jam tangan hingga minuman beralkohol. Hingga akhirnya di 2008, LVMH tercatat sudah mengakuisisi sebanyak 79 merek ternama dari Prancis dan seluruh Eropa.

Namun, Arnault tak berpuas diri sampai di situ. Pada 2011, perusahaannya itu kembali melakukan akuisisi pasar, kali ini untuk perusahaan perhiasan Italia, Bulgari.

Dua tahun kemudian, ia membeli perusahaan pemasok wol halus Loro Piana seharga US$ 2,6 miliar.

Akuisisi terbarunya pada April 2019 terhadap grup hotel ternama yang berbasis di London, Belmond, yang kepemilikannya meliputi Hotel Cipriani di Venesia, jalur kereta api mewah Orient Express dan 3 pondok safari ultra-mewah di Botswana.

Namun, Arnault tak selalu sukses dalam setiap aksi penaklukannya. Ia juga pernah gagal menaklukkan sebuah merek dagang yang diincarnya. Salah satu yang terbesar adalah rumah mode Italia, Gucci. Merek ini berhasil dimenangkan oleh pesaingnya sendiri yakni François Pinault.

Namun, tak mau patah semangat begitu saja, selama dekade berikutnya, LVMH pun melanjutkan aksi akuisisinya tadi. Arnault menggunakan taktik tersembunyi, hingga akhirnya secara diam-diam berhasil mengakuisisi 17% produsen barang fesyen mewah Hermès. Namun, lagi-lagi semua tak berjalan mulus begitu saja. Hermès kemudian merebut kembali sebagian besar sahamnya dari Arnault. Hingga pada 2017, LVMH pun melepaskan sebagian besar saham Hermès.

Kini, kapitalisasi pasar LVMH mencapai US$ 194,3 miliar. Menjadikan grup ini sebagai salah satu perusahaan publik terbesar di dunia. (Uli)