RSU Tangsel Berikan Edukasi Pasien Prostodonsia

FOTO: Eksklusif RSU Tangsel for indolinear.com

Indolinear.com, Tangsel – Rumah Sakit Umum (RSU) Tangerang Selatan (Tangsel) kembali berinovasi. Kali ini Rumah Sakit ber plat merah ini mengenalkan kepada masyarakat tentang pelayanan poli gigi spesialistik khususnya Prostodonsia.

Dengan membuka praktek setiap Selasa, Rabu dan Jumat di lantai II gedung II yang diisi oleh dokter gigi spesialis, RSU Tangsel siap melayani pasien yang membutuhkan gigi tiruan.

Apa itu Prostodonsia? Prostodonsia adalah cabang kedokteran gigi yang mempelajari metode rehabilitasi dan pemeliharaan fungsi rongga mulut, kenyamanan dan kesehatan pasien dengan pembuatan restorasi gigi atau menggantikan gigi yang hilang serta jaringan lunak rongga mulut dan maksilofasial.

“Jadi disini (RSU Tangsel) memberikan pelayanan kepada pasien yang membutuhkan penggunaan protesa atau secara awam dikenal oleh masyarakat dengan gigi tiruan atau gigi palsu,” ucap dokter gigi spesialis Prostodonsia di layanan poli gigi RSU Tangsel, Achmad Royhan.

Royhan melanjutkan, penting baginya untuk memberikan pemahaman tentang perlunya mengembalikan fungsi pengunyahan dan rehabilitasi rongga mulut. Tindakan yang ia lakukan adalah merestorasi gigi yaitu mempertahankan fungsi rongga mulut dengan mengganti gigi-gigi yang sudah tanggal atau hilang. Juga tindakan memperbaiki jaringan rongga mulut yang sudah rusak dengan bahan pengganti.

“Tujuannya adalah mengembalikan fungsi ke aslinya, agar dapat mengunyah makanan dengan sempurna,” lanjut Royhan.

Dalam pembuatan gigi tiruan, sambungnya, diperlukan pertimbangan dari berbagai macam aspek dan disesuaikan dengan kondisi pasien. Jika pasien kehilangan seluruh giginya, maka dibuatkan gigi tiruan penuh. Jika hanya tanggal beberapa buah, maka dibuatkan gigi tiruan sesuai dengan jumlah gigi yang hilang.

“Secara garis besar, gigi tiruan terbagi menjadi 2 yaitu gigi tiruan fixed (tidak dapat dilepas) dan gigi tiruan removable (dapat dilepas pasang),” ungkapnya.

Dia juga menyarankan, bagi pasien pengguna gigi tiruan, agar rutin selama enam bulan sekali melakukan kontrol dan perawatan kepada dokter gigi spesialis, agar dapat diketahui kondisi gigi tiruan tersebut masih layak pakai atau tidak. “Namanya juga barang yang digunakan untuk mengunyah setiap hari yah, jika rusak harus diganti,” ucap pria jebolan Fakultas Kedokteran Gigi Spesialis Prostodonsia Universitas Indonesia ini.

Saat disinggung pasien Prostodonsia yang membutuhkan pelayanan di RSU Tangsel, Royhan mengatakan sejauh ini kebanyakan para Lansia, karena faktor usia yang menyebabkan gigi tanggal di usia lanjut. Namun faktor penyebab gigi tanggal bukan hanya karena usia lanjut saja, namun ada banyak faktor lain, misalnya karena gigi yang berlubang cukup parah, atau giginya sudah goyang sehingga harus diambil tindakan pencabutan gigi ataupun terjadinya kecelakaan yang menyebabkan hilangnya gigi.

“Karena pada pasien lansia biasanya giginya banyak yang sudah hilang atau rusak, sehingga mereka sulit untuk mengunyah makanan,” ucap Royhan.

Masih menurut Royhan, mekanisme dalam pemasangan gigi tiruan ini dilakukan secara bertahap tergantung dengan kondisi mulut dan jumlah kehilangan gigi pasien. Contohnya, ada pasien yang datang dengan keluhan giginya tanggal 3 buah di bagian kiri atas. Tahapan awalnya akan dilakukan pemeriksaan kondisi mulut secara menyeluruh, kemudian dilakukan pencetakan gigi, dan dilakukan proses pembuatan gigi tiruan di laboratorium.

“Kami identifikasi dulu masalah rongga mulut pasien, setelah dilakukan pemeriksaan, kemudian kami cetak sesuai indikasi pasien, karena indikasi kebutuhan gigi tiruan yang dibutuhkan tidak sama antara pasien yang satu dengan pasien yang lain. Dan jumlah tahap pembuatan gigi tiruannya pun berbeda-beda, intinya adalah sesuai dengan kebutuhan pasien,” demikian Royhan.(ADV)