Roti Buaya Dan Simbol Kelelakian

Rabu, 28 Oktober 2015
loading...

Indolinear – “Kalau dulu, roti buaya yang dibawa ke rumah perempuan itu enggak boleh dimakan karena dianggap keramat. Tapi karena kemudian dianggap mubazir, maka bolehlah itu dimakan, dipotong-potong dan dicocol pakai sirop Cap Pisang,” ujar Indra Sutisna, 46 tahun, Pemerhati Budaya Betawi sekaligus Pengelola Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan saat berbincang melalui sambungan seluler, Jumat pekan kemarin.

Indra menjelaskan jika tradisi palang pintu merupakan satu bagian dari prosesi adat budaya Betawi yang menyimbolkan upaya calon pengantin pria terhadap permintaan calon pengantin wanita. Bentuk itu terdapat pada dalam seserahan dibawa calon pengantin pria untuk calon wanita. Salah satu bentuknya adalah roti buaya.

Berdasarkan cerita rakyat, keberadaan roti buaya dalam seserahan di bawa calon pengantin pria merupakan bentuk hadiah pernikahan. Menurut cerita yang berkembang pada masyarakat Betawi, ada kepercayaan jika seorang jejaka akan meminang seorang wanita, sebagai syarat calon mertuanya meminta dibawakan buaya. Namun karena kesulitan, maka lelaki itu mengganti buaya dalam bentuk roti

“Ada yang menyebut buaya itu dibuat dari kain perca, ada yang bilang juga dari kapas,” kata Indra. Dia menjelaskan jika hakikat roti buaya merupakan simbol perjuangan seorang pria dalam memenuhi permintaan pihak wanita sebelum menikahinya. Ada kepercayaan, jika roti buaya tidak boleh dimakan. Namun, karena sifat relijius masyarakat Betawi yang kental akan ajaran Islam, hal ini justru dianggap mubazir. Pada perkembangannya roti buaya kemudian menjadi suguhan dalam barang bawaan seserahan yang dibawa mempelai pria.

“Tapi sekarang pun hal itu mengalami perubahan, di mana roti buaya itu sudah diisi pakai coklat agar bisa langsung dimakan,” ujarnya.

Indra menjelaskan jika saat ini penggunaan roti buaya sebagai simbol mengalami pergeseran makna. Di beberapa wilayah Betawi pinggiran dia menyebutkan seperti wilayah Pasar Minggu, Citayam, Kebayoran Lama, Tangerang dan Bekasi ada tradisi lain bernama ‘Tepak Dandang’. Yaitu, bawaan seserahan dari calon mempelai wanita berupa kue-kue yang disusun. Namun sejatinya, semua jenis seserahan merupakan simbol dari kesiapan pria untuk menjadi suami sekaligus penjaga bagi calon pengantin wanita.

Ada kepercayaan bagi orang Betawi zaman dulu jika menyerahkan anak perempuan harus kepada lelaki yang benar-benar dianggap mampu. Pria itu adalah seorang lelaki yang mampu secara ekonomi dalam arti mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya kelak. “Lalu ada juga ‘Sie’, semacam kotak kayu yang dipikul berisi sayur-sayuran dan juga sejumlah pakaian. Artinya istri harus dinafkahi secara lahir dan batin,” tutur Indra. (uli)

 

Sumber: Merdeka.com