Ronaldo Tolak Soda, Mengapa Atlet Perlu Menghindari Minuman Tersebut?

FOTO: kompas.com/indolinear.com
Kamis, 17 Juni 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Megabintang Juventus, Cristiano Ronaldo, tak ingin ada minuman bersoda di depannya ketika jumpa pers jelang pertandingan Hongaria vs Portugal, Senin (14/6/2021) waktu setempat.

Ronaldo hadir dalam jumpa pers jelang laga Hongaria vs Portugal pada ajang Euro 2020 mendampingi pelatihnya, Fernando Santos.

Saat duduk di kursi masing-masing, ada dua botol minuman bersoda yang juga merek resmi sponsor Euro 2020.

Ronaldo kemudian langsung menyingkirkan minuman bersoda itu ke sisi kirinya sehingga tidak masuk dalam sorotan kamera.

Sebagai gantinya, dia mengambil botol plasti berisi air mineral di dekatnya.

Jauh sebelum kejadian tersebut, Ronaldo memang terkenal menjaga pola hidup sehat, termasuk menghindari minuman bersoda.

Bahkan dia memarahi anaknya sendiri, Cristiano Ronaldo Jr, saat melihatnya mengonsumsi minuman bersoda dan keripik.

“Kita akan melihat apakah putraku akan menjadi seorang pesepakbola hebat atau tidak,” kata Ronaldo mengawali seperti dikutip Sportbible.

“Terkadang dia meminum Coca-Cola dan memakan keripik dan itu membuatku jengkel, dia tahu akan hal itu,” kata dia pada akhir tahun lalu.

Pernyataan Ronaldo terkait anaknya tersebut ada benarnya. Seorang atlet maupun pegiat olahraga pada umumnya perlu menghindari minuman bersoda.

Mengutip Kompas.com (16/06/2021), minuman bersoda sejatinya bisa membantu melegakan tenggorokan kering. Akan tetapi, lebih baik hindari jenis minuman tersebut baik sebelum maupun sesudah berolahraga.

Minuman bersoda mengandung gula sederhana yang dapat diserap dengan cepat oleh tubuh. Meski terdengar menguntungkan, hal ini tetap saja membuat kadar gula dalam darah bisa langsung melonjak.

Vandana Sheth, RDN, CDE, seorang juru bicara dari Academy of Nutrition and Dietetics, mengungkapkan bahwa efek ini hanya sementara saja.

Setelah minum soda, tubuh akan menggunakan hampir seluruh gula dari minuman bersoda tadi untuk menggantikan energi yang hilang. Alhasil, gula darah yang semula naik malah kembali turun drastis.

Alih-alih bikin bertenaga, minum soda setelah olahraga malah bikin tubuh gampang capek dan haus.

Bahkan, minum soda setelah olahraga tidak dianjurkan karena bisa memicu sakit perut pada sebagian atlet. Terlebih bagi yang sedang berusaha menurunkan berat badan dengan olahraga, kebiasaan minum soda sebelum atau setelah olahraga bisa mengacaukan usaha ini.

Olahraga memang dapat membakar kalori lebih banyak. Namun dengan minum soda setelahnya, kalori dalam tubuh akan kembali bertambah sehingga berat badan tak kunjung turun.

Kabar baiknya, minum soda setelah olahraga diperbolehkan untuk kasus-kasus tertentu. Misalnya bagi atlet triathlon yang membutuhkan ketahanan yang panjang, minuman bersoda bisa membantu meningkatkan energi hingga berkali-kali lipat.

Kandungan gula dan kafein dalam minuman bersoda dapat menambah banyak energi untuk mengatasi kelelahan dengan cepat.

Tak hanya itu, soda juga dapat membantu meringankan perut kembung yang sering terjadi pada atlet yang waktu olahraganya lebih lama. Namun lagi-lagi, hal ini tidak berarti ampuh untuk semua jenis olahraga.

Ada baiknya, ganti minuman bersoda dengan air putih saja. Air putih tetap menjadi minuman paling baik untuk dikonsumsi sebelum dan setelah olahraga.

Pasalnya, air putih dapat membuat kita tetap terhidrasi tanpa membuat gula darah turun.

Dalam catatan sejarah olahraga, ada banyak kerugian yang dialami oleh atlet karena mengonsumsi minuman bersoda. Salah satunya seperti yang dialami oleh bek timnas Indonesia U-23, Stevie Bonsapia.

Stevie Bonsapia harus dilarikan ke rumah sakit karena sakit asam lambung pada 8 November 2011.

“Dia sakit asam lambung. Kemarin habis minum obat, dia minum cola. Langsung berasa nyesek. Berhubung prosedur permintaan oksigen dari Inasoc berbelit, maka dokter Irwan langsung bawa ke Rumah Sakit Jakarta,” ungkap Manajer Timnas U-23, Roso Daras, kala itu. (Uli)