Romulus Augustus Turun Tahta, Kekaisaran Romawi Barat Berakhir

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Minggu, 6 September 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Kekaisaran Romawi Barat berakhir pada 4 September 476 setelah raja terakhir mereka, Romulus Agustus, diturunkan dari tahta.

Romulus diturunkan oleh Odoacer yang memimpin pemberontakan suku-suku Jerman melawan kekuasaan Romawi Barat.

Romawi Barat sudah melemah selama bertahun-tahun karena krisis sebelum diserbu suku Hun, Goth, dan Vandals,

Selain itu, Romawi Barat juga tidak ditolong oleh Romawi Timur, dan orang-orang di Konstantinopel menganggap Roma saat itu hanyalah simbol dan tidak memiliki arti penting dalam politik, dilansir dari Tribunnews.com (04/09/2020).

Romawi Pecah

Kekaisaran Romawi Barat adalah istilah dari zaman modern untuk menyebut bagian barat dari Kekaisaran Roma setelah dibagi menjadi dua oleh Kaisar Diocletian pada tahun 285/286 M.

Orang-orang Roma sendiri pada saat itu tidak pernah menggunakan istilah tersebut.

Pada tahun 285 M, wilayah Romawi sudah jauh bertambah luas dan semua provinsinya tidak bisa diperintah langsung dari Kota Roma.

Oleh karena itu, Diocletian mengangkat pejabat lain bernama Maximian untuk menjadi kaisar dan memerintah bersama.

Maximian berkuasa di setengah wilayah Romawi, di bagian timur, yang beribu kota di Byzantium.

Berbeda dari Romawi Barat, Romawi Timur menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa resmi dan kehilangan karakter Kekaisaran Romawi yang melekat sebelumnya.

Kekaisaran Barat Melemah

Ada beberapa faktor yang dianggap menyebabkan Romawi melemah.

Perkembangan Kristen, yang kemudian dijadikan agama resmi Romawi, disebut melemahkan kekaisaran itu.

Kristen mengurangi kekuasaan dan kredibilitas kaisar karena kaisar tidak lagi dianggap sebagai dewa.

Krisis ekonomi juga turut menambah buruk keadaan di Romawi Barat.

Hasil pertanian menurun sehingga menaikkan harga bahan makanan.

Romawi Barat juga mengalami defisit perdagangan dengan Romawi Timur.

Karena kekurangan uang, mereka mulai mencetak lebih banyak koin dan inflasi pun muncul.

Selain itu, ada juga masalah politik dan militer yang menderanya.

Seiring waktu, militer kekaisaran berubah menjadi tentara bayaran yang tidak memiliki kesetiaan pada Romawi.

Karena krisis ekonomi, Romawi Barat menyewa prajurit Jerman yang kurang bisa diandalkan di militernya.

Serbuan Berbagai Suku dan Keruntuhan

Setelah serbuan suku Goth berakhir, suku Alan dan Vandal berganti menyerbu Spanyol.

Pada tahun 429, Vandal sudah menyiapkan 80.000 pasukan untuk menyerang Afrika Utara.

Mayoritas Afrika Utara jatuh ke tangan Vandal pada tahun 439.

Romawi Barat juga harus menghadapi sebuah suku Hun yang dipimpin Atulla,

Mereka juga mengajak para vassalnya, Ostrogoth, Fepid, dan Alan menyerbu Prancis.

Atilla kemudian menuju ke Italia, menyerang kota-kota utara, dan mengarah ke Kota Roma.

Pada tahun 474 pemimpin Gothic, Euric, menyatakan kerajaannya di Prancis merdeka dari Romawu.

Italia kemudian dikendalikan oleh para jenderal seperti Ricimer dan Gundobad.

Pada akhirnya, pasukan Jerman di Italia sudah bosan dengan Kaisar Roma saat itu, Romulus Agustus, yang dianggap sebagai boneka elite militer.

Pada 4 September, salah satu pemimpin mereka, bernama Odoacer, menurunkan Romulus dari tahtanya.

Romulus tidak memiliki kekuatan yang bisa menyelamatkan kekuasaannya.

Dia juga tidak ditolong oleh Kaisar Romawi Timur saat itu, Zeno.

Kekaisaran Romawi runtuh pada hari itu dan Odoacer kemudian berkuasa sebagai raja di Italia. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: