Robinson Sinurat, Anak Buruh Tani Lulus S2 Dari Columbia University

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Jumat, 29 Mei 2020
KONTEN MILIK PIHAK KETIGA. BERISI PRODUK BARANG, KESEHATAN DAN BERAGAM OBAT KECANTIKAN. MARI JADI PENGGUNA INTERNET SEHAT DAN CERDAS DENGAN MEMILAH INFORMASI SESUAI KATEGORI, USIA DAN KEPERLUAN.
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Menggapai pendidikan tinggi sampai di mancanegara merupakan impian banyak pemuda Tanah Air. Robinson Sinurat, putra Medan, Sumatera Utara membuktikan bahwa kesuksesan bisa diraih siapa pun.

Terlahir sebagai putra kelima dari tujuh bersaudara dari pasangan buruh tani. Dia berhasil lulus S2 Columbia University, wisuda bersama artis cantik Tasya Kamila.

Ingin tahu sosok Robinson Sinurat, anak buruh tani yang berhasil lulus S2 Columbia University? Simak informasinya berikut ini, dilansir dari Merdeka.com (27/05/2020).

Petani Sayur di Ladang Orang

Berasal dari keluarga sangat miskin, profesi orang tua Robinson Sinurat merupakan petani di ladang orang. Memiliki tujuh anak yang harus dibiayai sekolah.

Orang tua Robinson pernah berpesan, bahwa pendidikan begitu penting, minimal hingga jenjang SMA. Jikalau sudah menginjak di dunia kuliah, setiap anaknya harus sanggup membantu biaya pendidikan.

Robinson sebagai putra kelima merasa memiliki tanggung jawab terhadap ketiga adiknya. Dia memutar otak mencari cara bisa sekolah tinggi tanpa membebani orang tua.

Hanya Makan Sekali Setiap Harinya

Ibunda Robinson, Kotaria Sijabat meminta anaknya untuk melanjutkan kuliah di dalam negeri saja, karena biayanya terhitung lebih mudah dijangkau.

Robinson yang merantau di Palembang kala itu harus memutar otak, bagaimana bisa berhemat dan mendapat indekos harga murah. Saat mengantar seorang temannya mencari kos, sebuah keberuntungan besar datang padanya.

Dia mendapat tawaran untuk menjaga kos-kosan. Setiap bulannya bayar semampu Robinson. Demi menghemat di kota perantauan, dia rela hanya makan sekali pada sore hari. Apabila tengah malam merasa lapar, cukup makan 3 butir biskuit kelapa. Sisanya disimpan lagi untuk keesokan harinya.

Terjun ke Bidang Sosial

Pencapaian luar biasa di bidang akademik dan sosial dilalui Robinson selama mengenyam pendidikan di Universitas Sriwijaya. Obin, sapaan akrabnya dikenal supel dan sangat aktif berorganisasi. Sampai menjabat sebagai ketua perkumpulan warga Batak.

Serta mendirikan organisasi kampus, Himpunan Mahasiswa Geofisika. Setelah menyelesaikan studi, Obin bertolak ke Jakarta untuk memenuhi tawaran pekerjaan sebagai Koordinator Program, Bidang Kepemudaan di Global Peace Foundation.

Perjuangan Demi Gapai Cita ke Amerika

Berbagai pendaftaran beasiswa S2 ke Amerika telah dicoba Obin. Termasuk mencoba meraih beasiswa Young Southeast Asian Leaders Initiative dari pemerintah Amerika Serikat. Kegagalan tidak pernah menyurutkan semangatnya.

Obin terpilih mengikuti pembelajaran di University of Nebraska, kota Omaha selama lima minggu. Dari situlah Obin belajar bahasa Inggris lebih fasih, bicara di depan umum, mengembangkan keterlibatan warga sesuai jiwa sosialnya, serta belajar kepemimpinan.

Berhasil Beasiswa di Negeri Paman Sam

Perjuangan yang berbuah manis. Selama satu tahun Obin belajar TOEFL. Hingga akhirnya dapat lolos beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Pendidikan) dan diterima di berbagai negara, Amerika, Inggris, Australia, dan Belanda.

Obin memutuskan untuk memilih Jurusan ‘social work’ di Columbia University, New York. Salah satu kampus terbaik yang dipilih juga oleh penyanyi cilik Tasya Kamila.

Dia tergabung dalam PERMIAS (Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) dan bersama teman-temannya membuat International Student Caucus di kampus. Dari sanalah terjalin persahabatan di antara keduanya.

Ajak Orang Tua Keliling New York

Obin sangat berkeinginan mengajak kedua orang tuanya menemani wisuda S2 dan berkeliling New York. Dia menggunakan uang hasil tabungannya untuk biaya terbang Mamak dan Bapak, panggilan Obin pada keduanya.

Ini menjadi salah satu harapan Obin yang terkabul. Karena pada waktu wisuda S1, hanya Mamak saja yang mendampinginya.

Sempat Bekerja di Amerika

Setelah menyelesaikan studi S2, Obin bekerja sebagai Counseling Specialist di lembaga nirlaba, Queens Community House, New York. Akhirnya dia mampu membuktikan pada teman-temannya yang pernah memandang rendah dirinya.

Sebuah bukti nyata pada kedua orang tuanya pula, bahwa anak buruh tani yang hidup pas-pasan bisa memiliki anak lulusan luar negeri. Prinsip hidup yang selalu Obin terapkan, “Berani, jujur, mau berjuang”.

Orang Tua Sampai Dapat Penghargaan dari Kemendikbud

Orang tua Obin memang layak menjadi panutan. Sebuah prestasi luar biasa dari dua sosok yang SD saja tidak lulus, bisa mendidik anak-anaknya menjadi pemuda mengagumkan.

Hingga pada November 2019, orang tua Obin menerima penghargaan sebagai Orang Tua Hebat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: