Roberto Martinez, Dari Pelatih Klub Medioker, Kini Pemburu Prestasi bersama Belgia

FOTO: kompas.com/indolinear.com
Rabu, 30 Juni 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Sebelum menukangi timnas Belgia, Roberto Martinez, hanyalah pelatih di klub-klub medioker Liga Inggris. Meski tak pernah melatih klub top, Martinez berhasil menunjukkan kapasitasnya saat melatih De Rode Duivels.

Belgia menunjukkan bahwa mereka adalah tim yang layak diperhitungkan usai mengalahkan juara bertahan Portugal dengan skor 1-0 pada babak 16 besar Euro 2020 yang digelar di Stadion La Cartuja, Sevilla, Senin (28/6/2021) dini hari WIB.

Gol semata wayang Thorgan Hazard pada menit ke-42 sudah cukup bagi De Rode Duivels, julukan timnas Belgia, untuk mengamankan tiket ke perempat final Euro 2020.

Kemenangan atas Portugal pada babak 16 besar juga melanjutkan tren positif Belgia sejak fase grup.

Pada babak penyisihan grup, Romelu Lukaku dkk menyapu bersih tiga laga dengan kemenangan, mencetak tujuh gol, dan hanya kebobolan satu gol.

Performa apik Belgia pada Piala Eropa kali ini tak lepas dari tangan dingin Roberto Martinez yang menukangi De Rode Duivels sejak 3 Agustus 2016.

Sebelum dipercaya menangani timnas Belgia, pria asal Spanyol itu tak punya rekam jejak mentereng sebagai pelatih.

Martinez tercatat “hanya” pernah melatih Swansea City, Wigan Athletic, dan Everton, dilansir dari Kompas.com (29/06/2021).

Dari ketiga klub tersebut, Wigan Athletic adalah yang paling lama dilatih Roberto Martinez yaitu dari 2009 hingga 2013.

Bersama Wigan, Martinez sempat membuat kejutan dengan membawa klub yang ia asuh menjuarai Piala FA 2012-2013. Pada partai final di Stadion Wembley, Wigan sukses mengalahkan tim bertabur bintang Manchester City.

Trofi Piala FA bersama Wigan Athletic pun menjadi satu-satunya gelar bergengsi yang pernah diraih Roberto Martinez ketika melatih sebuah klub.

Meski tak bergelimang gelar di level klub, Martinez terbukti merupakan sosok yang tepat untuk menangani generasi emas Belgia.

Pada Piala Dunia 2018, timnas Belgia yang dihuni oleh pemain-pemain kelas satu semisal Thibaut Courtois, Vincent Kompany, Kevin De Bruyne, Eden Hazard, hingga Romelu Lukaku berhasil menembus semifinal.

Sayangnya, Eden Hazard dkk harus puas dengan peringkat ketiga usai dikalahkan Perancis pada semifinal. Ketika ditunjuk melatih timnas Belgia menggantikan Marc Wilmots, Martinez menegaskan bahwa mental skuad De Rode Duivels harus diubah.

“Mental Belgia harus diubah. Anda harus bisa menerima dan berkembang ketika dijadikan favorit untuk menjuarai kompetisi,” ucap Martinez saat itu.

“Saya ingin tim ini menikmati penguasaan bola dan menyerang. Penting rasanya untuk memiliki mental juara,” tuturnya.

Kini, timnas Belgia tengah memburu prestasi terbaik bersama Roberto Martinez. Adapun, pencapaian tertinggi Belgia dalam sejarah Piala Eropa adalah menjadi runner-up pada edisi 1980. (Uli)