Refleksi 17 Tahun Tanah Jawara: Banten Tanah Titipan (2)

MOH ALI FADILLAH for indolinear.com
Sabtu, 27 Oktober 2018

Oleh : MOH ALI FADILLAH

Banyak perjalanan dilakukan sudah, menyusur garis pantai atau menerobos hutan pegunungan, namun hitungan hari baru membuat kita “mengenali” sampul dari lembaran-lembaran “buku” Banten.

Sementara struktur terdalam dari mentalitas Banten masih terlalu sulit ditampakkan, alih-alih dihayati, sekadar untuk dipahamipun masih terselubung berbagai mitos dan romantisme dalam  perangkap ekonomi politik untuk kepentingan sesaat.

Lantas bagaimana kita dapat menemukan “arti” dari entitas Banten dalam konteks kekinian? Tidaklah mudah menjawab pertanyaan itu. Namun bukankah melakukan hal-hal kecil adalah juga upaya kongkrit untuk sampai pada pemahaman.

Bahwa modernisasi yang sering tak mengenal kompromi, menjadi tema penting untuk dipikirkan. Namun, bukankah kita selalu menemukan kesulitan untuk menggali nilai-nilai universal itu, ke dalam tatanan masyarakat yang masih memegang teguh nilai dan tradisi.

Dalam berbagai teori kebudayaan, selalu didengungkan bahwa setiap kebudayaan memiliki resistensi sendiri, tetapi gejala globalisasi mulai membalikkan keadaan, bukan kebudayaan yang membentuk mentalitas, tetapi kekuatan ekonomilah, bahkan juga politik yang menentukan arah kebudayaan.

Gejala cultural shock, atau inferiority complexepada akhirnya bukan semata ditimbulkan oleh masuknya unsur budaya “asing”, tetapi modernisasi yang diaplikasikan melalui industrialisasi, yang bisa jadi tak-terkendali, kini potensial membuat kedua nilai menjadi konfrontatif.

Padahal kita mafhum bahwa modernisasi tidak semata diterjemahkan dengan pembangunan fisik, tetapi sebagai instrumen bagi terbentuknya sebuah “masyarakat baru” atas dasar local wisdom yang menjadi referensi jati diri.

Dengan begitu, penghargaan pada ecosystem budaya Banten, harus selalu didasari asumsi bahwa peradaban mana pun senantiasa terbangun dari “dalam”, sebagai cerminan daya hidup masyarakat, sedangkan faktor “luar” hanya sebatas stimulan terjadinya perubahan.

Dari sudut pandang ini, kebudayaan Banten dapat dikonsepsikan sebagai idealisasi cita pikir dan karya masyarakat dari hasil proses adaptasi alam dan akulturasi yang menembus “lorong waktu“ dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Proses itulah yang telah dan akan terus memberi nafas pada kebudayaan Banten.

Masalahnya, sejauhmanakah kita mengenali kembali tahapan-tahapan perubahan itu, yang mungkin sudah berlangsung sejak zaman nirleka, kemudian berlanjut ke masa lebih kontemporer: mengalami apa yang dikategorikan zaman Hindu-Budha, era perkembangan kesultanan, sampai masa kolonial Belanda dan Jepang yang singkat.

*Penulis Adalah Anggota Banten Heritage

%d blogger menyukai ini: