Raden Sosrokartono, Kakak RA Kartini Yang Dijuluki “Si Jenius dari Timur”

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Minggu, 25 April 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – RA Kartini merupakan salah satu tokoh emansipasi Indonesia asal Jepara, Jawa Tengah. Di balik nama besarnya, ada sosok sang kakak, yang disebutnya sebagai satu-satunya orang yang menaruh simpati terhadap gagasan-gagasannya. Dia adalah Raden Mas Panji Sosrokartono.

Raden Sosrokartono bukan orang yang main-main. Dia merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang bersekolah di negeri Belanda.

Tak sekadar sekolah, selama tinggal di Eropa, dia pernah menjadi wartawan perang untuk koran The New York Herald Tribune dan meliput salah satu peristiwa penting dalam Perang Dunia I. Tak hanya itu, dia pernah bekerja sebagai penerjemah di Liga Bangsa-Bangsa (sekarang PBB) pada periode 1919-1921.

Pekerjaannya itu diperoleh tak lepas karena kemampuannya menguasai lebih dari 35 bahasa. Karena kecerdasannya ini, orang-orang Eropa menjulukinya “Si Jenius dari Timur”. Dilansir dari Merdeka.com (23/04/2021), lalu bagaimana kisah hidup kakak RA Kartini ini selama melanglang buana di Eropa?

Mahasiswa Indonesia Pertama di Belanda

Raden Mas Sosrokartono lahir di Mayong, Jepara pada 10 April 1877. Dia adalah anak keempat dari pasangan Raden Mas Ario Samingun yang merupakan Bupati Jepara, dengan istri keduanya, Ngasirah. Sejak kecil, Sosrokartono sudah mempunyai keistimewaan yaitu membaca masa depan.

Selepas menempuh pendidikan H.B.S di Semarang, Sosrokartono melanjutkan studi di Negeri Belanda. Dia menjadi mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan di negeri Belanda yang kemudian diikuti oleh putra-putra Indonesia lainnya.

Bahkan dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 di Gent, Belgia, dia memberikan pidato tentang penggunaan Bahasa Belanda di Indonesia. Dilansir dari laman Historia.id, pakar sejarah Harry. A. Poeze menyebut pidato itu sebagai “penampilan terbuka orang Indonesia di Eropa.”

Wartawan Perang

Setelah lulus dari Universitas Leiden, Belanda dengan gelar Docterandus in de Oosterche Talen, Sosrokartono melanglang buana ke penjuru Eropa dan menjajal berbagai pekerjaan. Pada tahun 1917, Sosrokartono terpilih menjadi wartawan koran Amerika, The New York Herald Tribune di Wina, Austria.

Salah satu liputannya yang terkenal adalah ketika dia berhasil memuat hasil dari “perundingan perdamaian rahasia” antara pihak yang bertikai selama Perang Dunia I. Ketika banyak wartawan masih sibuk mencari informasi tentang perundingan itu, Koran Amerika The New York Herald Tribune berhasil memuatnya.

Perundingan rahasia itu sendiri dilaksanakan di dalam sebuah kereta api yang berhenti di tengah hutan di daerah Compiegne, Prancis Selatan. Dengan menggunakan kode pengenal “bintang tiga” Sosrokartono berhasil meliput peristiwa itu dan konon tulisannya menggemparkan Amerika dan juga Eropa.

Si Jenius dari Timur

Dilansir dari Merdeka.com, Sosrokartono dikenal sebagai orang yang menguasai banyak bahasa. Tercatat 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku di Nusantara ia kuasai. Oleh karena itulah, sebelum bekerja sebagai wartawan perang, dia pernah bekerja sebagai penerjemah di Wina. Di sana, ia terkenal dengan julukan “Si Jenius dari Timur”.

Pada Bulan November 1918, Sosrokartono dipilih oleh blok Sekutu sebagai penerjemah tunggal. Ia dinilai memenuhi persyaratan karena merupakan ahli budaya dan bahasa di Eropa dan juga bukan Bangsa Eropa. Bahkan pada tahun 1919 hingga 1921, Sosrokartono menjabat sebagai kepala penerjemah untuk semua bahasa di persyarikatan Liga Bangsa-Bangsa.

Punya Ilmu Supranatural

Selain terkenal jenius, ternyata Sosrokartono punya ilmu supranatural. Kemampuan itu ia perlihatkan saat menyembuhkan anak seorang kenalannya yang tinggal di Jenewa, Swiss. Pada saat itu, sang anak yang berusia 12 tahun itu sakit keras. Saat para dokter lain tak bisa menyembuhkan penyakitnya, Sosrokartono sanggup menyembuhkannya hanya dengan menempelkan tangannya di dahi pasien.

Kejadian itu membuat orang-orang yang hadir terheran-heran. Seorang ahli pskiatri di sana menjelaskan bahwa sebenarnya Sosrokartono punya daya magnetis yang tidak disadari olehnya. Menyadari hal itu, Sosrokartono menghentikan pekerjaannya di Jenewa dan pergi ke Paris untuk belajar ilmu Psikometri dan Psikoteknik.

Namun karena ia lulusan ilmu Bahasa dan Sastra, mata kuliah yang ia bisa pelajari sangat terbatas dibandingkan dengan para lulusan Dokter. Karena merasa kecewa, ia memilih untuk kembali ke tanah air.

Sosrokartono di Tanah Air

Raden Sosrokartono akhirnya pulang ke tanah air pada tahun 1925 dan menetap di Kota Bandung. Sempat bekerja sama dengan Ki Hajar Dewantoro di Perguruan Taman Siswa, pada 1930 dia mendirikan rumah penyembuhan bernama Dar-Oes-Salam di Bandung.

Selain dikenal sebagai dokter, di sana ia dikenal sebagai ahli ilmu kebatinan yang sangat dihormati. Rumahnya pun tak pernah sepi pasien. Tokoh-tokoh pergerakan sering datang ke rumahnya, di antaranya Ir. Soekarno.

Namun pada masa pendudukan Jepang, kesehatan Sosrokartono mengalami kemunduran dan separuh badannya lumpuh. Dia akhirnya meninggal pada 8 Februari 1952 dan dimakamkan di Sedo Mukti, Desa Kalipitu, Kudus, Jawa Tengah. Sosrokartono mangkat tanpa meninggalkan istri dan anak. (Uli)