Punya 44 Anak, Wanita Paling Subur di Dunia Ini Dilarang Hamil

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Jumat, 1 November 2019

Indolinear.com, Uganda – Seorang wanita asal Uganda disebut-sebut sebagai wanita paling subur di dunia. Mariam Nabatanzi telah melahirkan 44 anak hingga usianya menginjak 36 tahun.

Kini, ia dilarang untuk punya anak lagi oleh dokter.

Seperti yang dilansir dari Tribunnews.com (31/10/2019), Mariam Nabatanzi pertama kali melahirkan bayi kembar di usia 13 tahun, setelah menikah 1 tahun.

Selanjutnya, wanita asal Uganda ini melahirkan lima pasang anak kembar lagi.

Kemudian, Mariam melahirkan empat pasang bayi kembar tiga. Terakhir, ia melahirkan lima pasang bayi kembar empat. Sayangnya, 6 bayinya meninggal dunia karena rahimnya yang terbilang tidak normal.

Sehingga, Mariam kini memiliki 38 anak. Namun, 4 tahun lalu, wanita yang kini berusia 40 tahun ini ditinggal oleh suaminya. Mariam harus menghidupi ke-38 anaknya sendirian. Hal itu membuat Mariam jatuh miskin.

Ia tinggal bersama anak-anaknya di empat rumah sempit terbuat dari balok semen dan beratap seng.

Kini, dokter telah mengambil tindakan agar Mariam tidak memiliki anak lagi.

Mariam berkata dokter perlu “memotong rahimnya dari dalam.”

Kehamilan luar biasa Mariam dimulai saat ia melahirkan bayi kambar pertama.

Ketika ia periksa ke dokter, Mariam diberitahu ia memiliki rahim besar yang tak biasa. Dokter menyarankan pil pengontrol kehamilan bisa menyebabkan masalah kesehatan. Namun, tanpa pil, bayi terus lahir.

Keluarga Mariam menjadi keluarga terbesar di Afrika.

Dr Charles Kiggundu, seorang ginekolog di Rumah Sakit Mulago di Kampala, Uganda berkata pada Daily Monitor bahwa kasus kesuburan Mariam dikarenakan keturunan.

Dr Charles Kiggundu berkata, “Kasusnya adalah kecenderungan genetik untuk hiper-ovulasi, melepaskan banyak sel telur dalam satu siklus – yang secara signifikan meningkatkan kemungkinan melahirkan banyak.”

“Kondisi itu selalu genetik.”

Kehamilan Mariam yang terakhir, memiliki komplikasi.

6 bayinya meninggal dunia.

Suaminya pun pergi meninggalkannya.

“Aku selalu menangis, suamiku meninggalkanku menderita sendirian,” ucap Mariam saat diwawancara.

“Semua waktuku habis merawat anak dan bekerja mencari uang.”

Karena sangat butuh uang, Mariam melakukan semua pekerjaan.

Ia menata rambut, membuat dekorasi acara, mengumpulkan dan menjual besi tua, membuat gin lokal serta menjual obat herbal.

Uang yang dihasilkannya adalah untuk makanan, obat-obatan, pakaian, dan biaya sekolah anak.

Di dinding yang kotor di salah satu kamar rumahnya tergantung potret bangga beberapa anaknya lulus dari sekolah.

Anak tertuanya, Ivan Kibuka (23) harus putus sekolah sejak SD karena orang tuanya tak memiliki biaya.

Ivan berkata, “Ibu kewalahan, pekerjaannya menghancurkannya, kami membantu sebisa, seperti memasak dan mencuci, tetapi ibu masih menanggung seluruh beban keluarga. Saya bisa merasakannya.”

Keinginan Mariam untuk memiliki keluarga besar berakar pada tragedi.

Tiga hari setelah Mariam dilahirkan, ibunya meninggalkannya bersama sang ayah, dan 5 kakaknya.

“Dia meninggalkan kami begitu saja,” ucap Mariam.

Setelah ayahnya menikah lagi, ibu tirinya meracuni kelima saudaranya.

Semuanya meninggal dunia.

Mariam bisa selamat karena ia sedang tidak berada di rumah saat itu.

“Usiaku 7 tahun saat itu, terlalu muda untuk memahami apa arti kematian. Aku diberitahu oleh keluarga jauh apa yang terjadi,” ucapnya.

Mariam pun tumbuh sambil berharap ia memiliki 6 anak sebagai pengganti keluarganya yang hancur.

Namun kini anaknya ada 38, dan itu adalah pekerjaan besar.

Dalam sehari, keluarga Mariam membutuhkan 25kg tepung jagung.

Ikan atau daging adalah makanan mewah.

Setelah mengalami masa kecil yang sulit sendirian, harapan terbesar Mariam sekarang adalah agar anak-anaknya bahagia.

“Saya mulai memikul tanggung jawab orang dewasa sejak kecil, sata rasa saya belum pernah bersenang-senang semanjak dilahirkan,” ungkapnya.(Uli)

INDOLINEAR.TV