Puasa Bikin Produksi ASI Menurun, Mitos Atau Fakta?

FOTO: aceh.tribunnews.com/indolinear.com
Selasa, 5 April 2022

Indolinear.com, Jakarta – Dilema ibu menyusui untuk menjalankan puasa saat bulan Ramadan sering kali terjadi. Benarkah puasa bikin produksi ASI menurun?

Bagi umat muslim, berpuasa saat bulan Ramadan merupakan suatu kewajiban. Meski tidak wajib bila masih menyusui, namun beberapa ibu menyusui tetap ingin berpuasa.

Namun, hal yang sering jadi kekhawatiran adalah penurunan produksi ASI saat puasa. Lantas, benarkah puasa bikin produksi ASI menurun?

Saat menyusui ketika berpuasa, mayoritas ibu kerap melontarkan pertanyaan apakah puasa akan membuat produksi Air Susu Ibu (ASI) menjadi lebih sedikit.

Padahal sebenarnya, banyak atau tidaknya produksi ASI saat puasa tergantung pada jumlah cairan dalam tubuh si ibu.

Jika tubuh ibu menyusui mengalami dehidrasi, maka terjadi kemungkinan pasokan ASI akan menurun.

Tak hanya itu, faktor lain seperti pola makan yang tidak seimbang serta tidak cukup nutrisi yang dikonsumsi oleh si ibu juga dapat mempengaruhi pasokan ASI.

Hal tersebut dibenarkan oleh dr Rizka Aditya Sp OG, Kadiv Advokasi Komunitas Aceh Menyusui saat menjadi narasumber di podcast Serambi FM yang disiarkan secara langsung melalui Fanpage Facebook Serambinews.com.

“Kalau ibunya dehidrasi kemungkinan turun, jadi ibunya kalau bisa mengatur pola makan seimbang, nutrisi yang cukup dan jumlah cairan yang cukup,” ungkap dr Rizka Aditya Sp OG, dilansir dari Aceh.tribunnews.com (04/04/2022).

Maka dari itu, ada baiknya ibu menyusui yang berpuasa harus memenuhi asupan nutrisi yang berasal dari makanan dan yang paling penting asupan cairan ketika ingin menjalankan ibadah puasa.

Untuk menu berbuka puasa, ibu menyusui disarankan makan kurma terlebih dahulu agar mengembalikan energi yang hilang.

“Saat berpuasa, makan kurma disarankan makan yang manis, atau karbohidrat simplex supaya energinya cepat balik,” lanjut dr Rizka Aditya.

Sementara untuk memenuhi asupan cairan tubuh, ibu menyusui disarankan mengonsumsi air mineral dengan memenuhi istilah ‘Trik 2-2’.

“Jadi triknya itu ada 2-2. Setelah makan kurma kemudian minum dua gelas air putih, terus setelah shalat maghrib, minum lagi satu gelas, makan, kemudian habiskan lagi dua gelas.

Kemudian tarawih, sebelum berangkat tarawih minum dulu, pulang tarawih minum lagi satu gelas. Kemudian makan lagi cemilan karena ibu hamil dan menyusui makannya bentar-bentar,” katanya.

Selain faktor nutrisi dan cairan tubuh, ada faktor lainnya yang mempengaruhi turunnya produksi ASI yakni si ibu yang tidak bahagia dan kelelahan.

Kedua kondisi tersebut dapat mempengaruhi pasokan ASI.

“Penyebab ASI seret ialah ibunya kelelahan dan ibunya tidak bahagia. Bila ibunya merasa kelelahan, ibunya merasa tidak bahagia itu akan menyebabkan ASI nya seret.

Alamiahnya pada saat ibunya menyusui dan memeiliki anak, ibu akan bahagia,” ungkap dr Lia Subhan saat menjadi narasumber podcast Serambi FM yang disiarkan secara langsung melalui Fanpage Facebook Serambinews.com.

Pada saat ibu bahagia, hormon aksistosin dalam tubuh si ibu akan aktif. Hormon inilah yang nantinya akan menjadi faktor untuk memproduksi ASI.

“Hormon ini disebut juga sebagai hormon cinta, ketika hormonnya aktif, maka ASI-nya akan keluar dengan lancar,” lanjutnya.

Diketahui jika ayah juga ikut mendukung program menyusui maka keberhasilan menyusui akan lebih besar.

Sebaliknya, saat ayah tidak membantu program menyusui dengan benar, keberhasilan menyusui hanya lebih sedikit.

“Makanya penting sekali dalam proses menyusui ini, ibu butuh dukungan dari ayah, kemudian komunikasi dengan ayah dan berbagi pekerjaan rumah agar tidak lelah,” imbuhnya. (Uli)

loading...