Profil Empat Tokoh Yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Selasa, 2 November 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Sebanyak 4 tokoh Indonesia akan menerima penghargaan sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2021.

Hal tersebut dibenarkan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan sekaligus Ketua Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan Mahfud MD serta Sekretaris Militer Presiden sekaligus Sekretaris Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan Marsekal Muda TNI Mohamad Tony Harjono.

Empat tokoh tersebut yakni (Alm) Tombolututu, (Alm) Sultan Aji Muhammad Idris, (Alm) H Usmar Ismail, dan (Alm) Raden Arya Wangsakara.

Mahfud MD mengatakan gelar Pahlawan Nasional diberikan atas sejumlah pertimbangan di antaranya ketokohan dan juga pemerataan kedaerahan.

Mereka dinilai merupakan pejuang yang menginspirasi untuk membangun Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan atau ikut berjuang untuk memajukan Indonesia sehingga kemerdekaan menjadi lebih bermakna bagi bangsa dan negara.

Sementara itu diberitakan Tribunnews sebelumnya, Marsekal Muda TNI Mohamad Tony Harjono menjelaskan soal asal para pahlawan nasional tersebut.

“Pertama, Almarhum Tombo Lututu. Beliau adalah tokoh dari Provinsi Sulawesi Tengah. Kedua, Almarhum Sultan Aji Muhammad Idris. Beliau adalah tokoh dari Provinsi Kalimantan Timur. Ketiga, Almarhum H. Usmar Ismail. Beliau adalah tokoh dari Provinsi DKI Jakarta. Terakhir, Almarhum Raden Arya Wangsakara. Beliau adalah tokoh dari Provinsi Banten,” kata Tony.

Lantas siapakah sosok 4 tokoh tersebut? Berikut profil singkatnya:

  1. Sultan Aji Muhammad Idris

Sultan Aji Muhammad Idris adalah Sultan ke-14 dari Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.

Dirinya mulai memerintah pada tahun 1735 hingga tahun 1778.

Sultan Aji Muhammad Idris adalah sultan pertama yang menggunakan nama Islam semenjak masuknya agama Islam di Kesultanan Kutai Kartanegara pada abad ke-17.

Dikutip dari Tribunnews.com (31/10/2021), Sultan Aji Muhammad Idris adalah cucu menantu dari Sultan Wajo La Madukelleng yang berangkat ke Tanah Wajo, Sulawesi Selatan.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Kaltim HM Jauhar Efendi mengatakan mengapa rakyat Kalimantan Timur (Kaltim) ingin Sultan Aji Muhmmad Idris bergelar pahlawan nasional.

Karena sejak Indonesia Merdeka 76 tahun yang lalu Kaltim belum punya Pahlawan Nasional.

Kedua, perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris yang ikut berjuang lintas pulau, menunjukkan semangat patriotisme.

Sultan Aji Muhmmad Idris, pernah berangkat ke Wajo untuk turut bertempur melawan VOC bersama rakyat Bugis.

Hingga akhirnya dirinya wafat di tanah Wajo.

Kini dirinya mendapat gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

  1. Usmar Ismail

Pria kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, pada tanggal 20 Maret 1921 ini merupakan tokoh perfilman di Indonesia.

Bahkan dirinya berjuluk Bapak Film Indonesia, sang pelopor drama modern di Indonesia.

Tak hanya film, Usmar juga merupakan sastrawan.

Saat dirinya duduk di bangku SMP ia bersama teman-temannya, antara lain Rosihan Anwar, ingin tampil dalam acara perayaan hari ulang tahun Putri Mahkota, Ratu Wilhelmina, di Pelabuhan Muara, Padang.

Usmar ingin menyajikan suatu pertunjukan dengan penampilan yang gagah, unik, dan mengesankan.

Ia bersama teman-temannya hadir di perayaan itu dengan menyewa perahu dan pakaian bajak laut.

Sayang, acara yang direncanakan itu gagal karena mereka baru sampai saat matahari tenggelam dan mereka hampir pingsan karena kelelahan mengayuh perahu menuju Pelabuhan Muara.

Akan tetapi, acara yang gagal itu dicatat Rosihan Anwar sebagai tanda bahwa Usmar Ismail memang berbakat menjadi sutradara, yang mempunyai daya khayal untuk menyajikan tontonan yang menarik dan mengesankan.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan di University of California di Los Angeles, Amerika Serikat ini juga mendalami dunia drama.

Bakatnya kian  berkembang  saat bekerja di Keimin Bunka Sidosho (Kantor Besar Pusat Kebudayaan Jepang).

Di tempat itu, ia bersama Armijn  Pane dan budayawan lainnya bekerja sama untuk mementaskan drama.

Tak cukup sampai di situ, Usmar juga mengembangkan bakatnya di dunia jurnalistik, bahkan dirinya mendirikan surat kabar yakni Rakyat, Patriot dan bulanan Arena.

Usmar pernah dijebloskan ke penjara oleh Belanda karena dituduh terlibat kegiatan subversi.

Saat itu  ia bekerja sebagai wartawan politik di kantor berita Antara dan sedang meliput perundingan Belanda RI di Jakarta pada 1948.

Dan akhirnya dirinya serius di film dan menjadi sutradara.

Film-film yang pernah disutradarai oleh Usmar Ismail, antara lain, “Darah dan Doa” (1950), “Enam jam di Yogya” (1951), “Dosa Tak Berampun” (1951), “Krisis” (1953), “Kafedo” (1953) “Lewat Jam malam” (1954), “Tiga Dara” (1955), dan “Pejuang” (1960). Untuk mengenang jasanya, diabdikanlah namanya di sebuah gedung perfilman,  yaitu Pusat Perfilman Usmar Ismail yang terletak di daerah Kuningan, Jakarta.

Usmar Ismail meninggal pada tanggal 2 Januari 1971 karena sakit (stroke), dalam  usia hampir genap lima puluh  tahun.

  1. Tombolotutu

Tombolotutu merupakan seorang raja di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Tokoh masyarakat Kabupaten Parigi Moutong Taswin Borman mengatakan, jika melihat historis sejarah perjuangan Tombolotutu melawan Belanda, maka Tombolotutu layak dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

“Berdasarkan historis sejarah perlawanan Tombolotutu melawan Belanda, menurut saya Tombolotutu layak menjadi Pahlawan Nasional,” kata Mantan Sekda Parigi Moutong di era Bupati Longki Djanggola itu.

Wacana untuk menjadikan Tombolotutu sebagai Pahwalan Nasional telah disuarakan sejak Tahun 1990-an.

Namun upaya untuk mencapai hal itu terkendala dokumen resmi sebagai data primer.

Puncaknya ketika Dr Lukman Nadjamuddin MHum menjadi pembicara sejarah dalam Seminar Internasional di Universitas Kebangsaan Malaysia Tahun 2014.

Sejak saat itu, diskusi untuk menjadikan Tombolotutu sebagai Pahlawan Nasional terus mengemuka.

Tidak hanya di kalangan akademisi, harapan untuk menjadikan Tombolotutu sebagai Pahlawan Nasional juga banyak disuarakan oleh kalangan masyarakat.

  1. Raden Arya Wangsakara

Raden Aria Wangsakara merupakan keturunan Raja Sumedang Larang, Sultan Syarif Abdulrohman.

Bersama dua kerabatnya, yakni Aria Santika dan Aria Yuda Negara, Wangsakara lari ke Tangerang karena tidak setuju dengan saudara kandungnya yang malah berpihak kepada VOC.

Wangsakara yang kemudian memilih menetap di tepian Sungai Cisadane diberi kepercayaan oleh Sultan Maulana Yusuf, pemimpin Kesultanan Banten kala itu, untuk menjaga wilayah yang kini dikenal sebagai Tangerang, khususnya wilayah Lengkong, dari pendudukan VOC.

Sehari-hari, Wangsakara yang juga pernah didapuk sebagai penasihat Kerajaan Mataram menyebarkan ajaran Islam.

Namun, aktivitas Wangsakara menyebarkan ajaran Islam mulai tercium oleh VOC tahun 1652-1653.

Hingga akhirnya terjadilah pertempuran, hasilnya wilayah Wasangkara dapat dipertahankan.

Wangsakara sendiri gugur pada tahun 1720 di Ciledug dan dimakamkan di Lengkong Kyai, Kabupaten Tangerang. (Uli)