Pria Dari Papua Sukses Bekerja Di Perusahaan Besar Jepang

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Senin, 21 September 2020
loading...

Indolinear.com, Tokyo – Seorang warga Indonesia dari Papua, Petrus Yesaya Samori (31) lulusan Universitas Yamagata Jepang, pecinta komik Monster misteri detektif karya Naoki Urazawa, 18 series, ternyata kini sukses bekerja di perusahaan besar Jepang.

“Iya saya baca semua itu 18 bukunya sampai habis. Saya suka baca buku-buku detektif sejak sekolah dasar dulu. Lalu lulus SMA berangkat ke Jepang dapat beasiswa dari pemerintah,” papar Petrus, dilansir dari Tribunnews.com (19/09/2020).

Sejak 1 April 2018 Petrus bekerja di sebuah perusahaan besar teknologi Jepang, Suzuki Hi-tech Inc., yang punya riwayat perusahaan selama 106 tahun, dan kini dipercayakan CEO nya menjadi Kepala Pusat penelitian di perusahaan besar tersebut.

Walaupun sudah menjadi orang sukses di perusahaan besar tersebut, setiap hari perlu menempuh 90 menit naik mobilnya ke kantornya di kota Yamagata.

“Rumah saya di Yonezawa dan kantor di kota Yamagata. Jadi perlu waktu satu setengah jam naik mobil ke kantor setiap hari. Saya senang karena pemandangan sepanjang jalan bagus sekali bisa nyaman dan tenang naik mobilnya,” lanjutnya.

Selain itu sudah sekitar 8 tahun berada di Yonezawa merasa seperti kampung halamannya sendiri.

“Dekat rumah saya juga ada gereja sehingga saya bisa ikut aktif dalam kebaktian gereja dan bertemu pacar saya juga di gereja,” paparnya mengakui akan menikah kemungkinan Mei tahun depan dengan wanita Jepang aktivis gereja yang sama.

Saat ini Petrus dipercayakan CEO nya untuk menangani 4 stafnya warga Indonesia, pemagang, yang ada di bagian produksi perusahaan yang sama.

“Ya saya sering kumpul ngobrol dengan mereka,. tanya kalau ada yang mesti disampaikan, agar tidak stres tinggal di Jepang dan bekerja di perusahaan tersebut, mencoba menjadi motivator mereka, sehingga hubungan dengan kantor bisa tetap baik.”

Putera Papua itu juga ingin sekali menjadi jembatan antara Jepang dan Indonesia khususnya Papua sehingga hubungan kedua negara bisa semakin sukses lagi.

“Saat ini saya lagi mengerjalan proyek Rejisuto untuk suku cadang bidang kesehatan dan juga satu lagi di bidang terkait test PCR, tapi masih dirahasiakan. Nanti kalau sudah selesai diungkap ke masyarakat baru bisa diberitahukan, mungkin akhir tahun depan ya,” jelasnya lagi.

Pada awalnya Petrus belajar bahasa Jepang di ABK di Tokyo sekitar satu tahun enam bulan, kemudian pindah ke Yamagata masuk ke Universitas Yamagata dan lulus S1 tahun 2013.

“Tadinya saya mau pulang ke Papua tetapi ternyata tak ada lowongan di badan penelitian di sana ya saya melanjutkan sampai program Doktor di Yamagata lulus tahun 2018 langsung bekerja di Suzuki Hi-tech Inc.”

Bidang studynya Chemical Engineering dari Universitas Yamagata dan kini juga bekerja di pusat penelitian perusahaannya juga masih terkait kimia juga.

“Senang saya bekerja di perusahaan tersebut karena semuanya bekerja dengan sangat baik, hubungan manusianya baik semuanya satu sama lain dan kita ditantang berprestasi lebih baik selalu dari hari ke hari.”

Setelah Petrus menyelesaikan proyeknya di perusahaannya akhir tahun depan, mungkin ada kemungkinan pulang ke Indonesia apabila memang ada lowongan pekerjaan yang baik.

“Namun saya juga ingin menjadi jembatan yang baik bagi kedua negara pula dengan keberadaan saya di sini,” ungkapnya lebih lanjut.

Petrus hidup sendiri saat ini di rumahnya yang disewa dengan harga 30.000 yen sebulan, sudah merasakan seperti kampung halamannya yang kedua karena juga dekat dengan gereja sehingga bisa tetap aktif mengabdikan dirinya melakukan pelayanan dalam kebaktian gerejanya setiap minggu. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: