Pria China Bertemu Ibunya Setelah 32 Tahun Diculik

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Kamis, 21 Mei 2020
Unik | Uploader Yanti Romauli

Indolinear.com, Jakarta – Seorang pria yang diculik saat balita 32 tahun lalu akhirnya bertemu dengan orang tua kandungnya pada Senin, berkat bantuan teknologi pengenalan wajah.

Mao Yin diculik pada 1988 saat dia berusia 2 tahun di luar sebuah hotel di kota Xi’an, Provinsi Shaanxi, China. Dia kemudian dijual kepada pasangan yang tak memiliki anak di Provinsi Sichuan, menurut stasiun televisi China, CCTV.

Pihak berwenang mengatakan, mereka masih menyelidiki penculikan tersebut dan tak merilis informasi lebih lanjut terkait orang tua adopsi Mao.

Dilansir dari Merdeka.com (20/05/2020), Mao dibesarkan orang tua adopsinya dengan nama Gu Ningning, tanpa mengetahui siapa orang tua kandungnya yang telah mencarinya selama tiga dekade lebih.

Pada akhir April, kepolisian di Xi’an menerima laporan seorang pria di Provinsi Sichuan membeli seorang anak dari Shaanxi pada akhir 1980-an, demikian laporan kantor berita pemerintah Xinhua.

Pertemuan Penuh Haru

Polisi kemudian menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk menganalisis sebuah foto lama Mao saat masih anak-anak dan hasilnya adalah foto yang mirip dengan Mao dewasa, yang kemudian dibandingkan dengan foto dari basis data nasional. Dalam laporannya, CCTV tak menerangkan terkait basis data nasional atau proses bagaimana foto dibandingkan.

Setelah serangkaian penyelidikan dan perbandingan, polisi menelusuri seorang pria di kota Mianyang yang mirip dengan foto Mao. Dia kemudian dikonfirmasi sebagai anak yang hilang menggunakan tes DNA.

Pada Senin, Mao yang saat ini berusia 34 tahun bertemu orang tua kandungnya dalam sebuah konferensi pers yang digelar kepolisian Xi’an. Muncul dari balik pintu ruangan konferensi, Mao memanggil ibunya dan berlari ke arahnya.

Orang tua dan anak itu menangis haru sembari berpelukan.

“Saya tidak mau dia pergi lagi. Saya tak akan membiarkannya meninggalkan saya lagi,” kata ibu Mao, Li Jingzhi, sembari menggenggam erat tangan anaknya.

Mao, yang memiliki usaha dekorasi rumah di Sichuan, mengatakan dia akan pindah ke Xi’an untuk tinggal dengan orang tua kandungnya.

Setelah anaknya diculik, Li keluar dari pekerjaannya dan mendedikasikan hidupnya untuk mencari anaknya. Dia menyebarkan lebih dari 100.000 ribu brosur dan pergi ke berbagai televisi nasional. Dia juga menjadi relawan, mengumpulkan informasi tentang anak-anak hilang dan menolong 29 dari mereka bertemu keluarga mereka.

Mao sebelumnya melihat Li di televisi membicarakan anaknya yang hilang, dan tersentuh dengan kegigihannya, tapi dia sedikit pun tak menyadari dialah anak yang dicari selama puluhan tahun itu.

Tak ada angka resmi berapa anak yang diculik di China setiap tahun. Di situs web “Baby Come Home,” platform yang digunakan secara luas oleh orang tua yang anaknya hilang, lebih dari 51.000 keluarga terdaftar yang tengah mencari anak mereka.

Menurut Xinhua, polisi telah menemukan dan mempersatukan lebih dari 6.300 anak-anak korban penculikan dengan keluarga kandung mereka sejak Kementerian Keamanan Masyarakat mengeluarkan kebijakan basis data DNA pada 2009 untuk mencocokkan data orang tua dengan anak-anak mereka yang hilang. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT:

Berita Menarik Lainnya