Pria Bersenjata Menewaskan 15 Orang Di Swiss, Lalu Bunuh Diri

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Rabu, 25 Mei 2022

Indolinear.com, Swiss – Penembakan massal dilakukan seorang pria bersenjata yang mengamuk di sebuah gedung pemerintahan di Swiss, menewaskan sedikitnya 14 orang sebelum bunuh diri dengan pistolnya sendiri pada 27 September 2001.

Sepuluh orang juga terluka, dengan delapan di antaranya kritis –di mana satu di antaranya kemudian meninggal, menjadikan korban tewas berjumlah 15 orang.

Insiden itu disebut sebagai salah satu pembunuhan massal terburuk yang pernah terjad di Swiss, demikian seperti dikutip dari Liputan6.com (23/05/2022).

Friedrich Leibacher memasuki gedung parlemen regional di Zug pada pukul 10.30 (0930 BST) mengenakan seragam polisi tiruan dan membawa senapan serbu, pistol dan granat.

Dia diyakini telah terlibat dalam perselisihan yang telah berlangsung lama dengan pejabat setempat.

Leibacher menyerbu ruang dewan yang penuh sesak dan meneriakkan kata-kata kotor sebelum menembak tanpa pandang bulu dengan senapan serbu.

“Pria itu berjalan melalui seluruh lantai menembaki orang-orang,” kata seorang wartawan yang kala itu meliput rapat di parlemen.

Saksi lain mengatakan kepada wartawan, “Saya berada di luar pintu parlemen ketika dia datang dengan senapan, dengan beberapa pistol dan dengan apa yang saya pikir adalah granat tangan.”

“Dia mulai menembak di sekitar selama beberapa menit. Itu benar-benar mengerikan,” katanya.

Pria bersenjata berusia 57 tahun itu kemudian meledakkan bahan peledak sebelum menembak dirinya sendiri dan polisi mengatakan dia sudah mati ketika mereka tiba di tempat kejadian 10 menit kemudian.

Leibacher, yang perselisihannya dengan sopir bus dan pejabat transportasi telah berlangsung dua tahun, meninggalkan catatan yang menggambarkan tindakannya sebagai “Hari kemarahan bagi mafia Zug”.

Presiden Swiss Moritz Leunberger mengatakan pemerintahnya harus meninjau keamanan pribadi politisi.

“Saya sangat terkejut saya tidak dapat menemukan kata-kata lagi – demokrasi dan kebebasan kita dipertanyakan,” katanya. (Uli)