Presiden Mesir Peraih Nobel Perdamaian 1978 Yang Mati Ditembak Esktremis

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Kamis, 17 Oktober 2019

Indolinear.com, Jakarta – Anwar Sadat adalah politisi Mesir yang bertugas di militer sebelum membantu menggulingkan kekuasaan monarki pada awal 1950-an.

Sebelum menjadi presiden pada 1970, Anwar Sadat lebih dulu menjabat sebagai wakil presiden.

Sadat meraih Nobel Perdamaian pada 1978 setelah mengadakan perjanjian damai dengan Israel.

Anwar Sadat dibunuh oleh esktremis muslim pada 6 Oktober 1981 di Kairo, Mesir, dilansir dari Tribunnews.com (15/10/2019).

Kehidupan Awal

Anwar Sadat lahir pada 25 Desember 1918 di Mit Ab al-Kawm, Al-Minufiyyah, Mesir dengan nama lengkap Muhammad Anwar el-Sadat.

Sang ayah bernama Anwar Muhammed El Sadat sedangkan sang ibu bernama Sit Al-Berain.

Sadat berasal dari keluarga yang sangat miskin dan memiliki 12 orang saudara.

Sadat pernah menikah dengan seorang wanita bernama Ehsan Madi namun kemudian bercerai.

Sadat lalu menikah dengan Jehan Raouf pada tahun 1949.

Sadat memiliki tujuh orang anak bernama Camelia Sadat, Gamal Sadat, Jihan Sadat, Lubna Sadat, Noha Sadat, Rawya Sadat dan Ruqayyah Sadat.

Pada 1936, Inggris membangun sekolah militer di Mesir dan Sadat adalah salah satu murid yang bersekolah di tempat tersebut.

Lulus dari akademi, Sadat mendapat jabatan di pemerintahan yang mempertemukannya dengan Gamal Abdel Nasser.

Di kemudian hari, Sadat dan Gamal Abdel Nasser membentuk kelompok revolusioner guna menggulingkan pemerintahan Inggris dan mengusir Inggris dari Mesir.

Penjara dan Kudeta

Sebelum berhasil menjalankan misi, Sadat ditangkap Inggris dan dipenjara pada 1942 namun melarikan diri dua tahun kemudian.

Pada 1946, Sadat kembali ditangkap setelah terlibat pembunuhan menteri pro Inggris, Amin ‘Uthman.

Saat bebas di tahun 1948, Sadat bergabung dengan organisasi Nasser dan terlibat dalam pemberontakan bersenjata melawan monarki Mesir pada 1952.

Empat tahun kemudian, Sadat mendukung Nasser menduduki kursi kepresidenan. (1)

Kebijakan Presiden

Sadat memegang beberapa jabatan tinggi dalam Pemerintahan Nassen dan akhirnya menjadi Wakil Presiden Mesir 1964-1966 dan 1969-1970.

Setelah Nasser meninggal pada 28 September 1970, Sadat menjadi Presiden Mesir.

Di dalam negeri, Sadat memprakarsai kebijakan pintu terbuka atau yang dikenal sebagai infitah.

Sebuah program ekonomi yang dirancang untuk menarik perdagangan dan investasi asing diciptakan.

Namun gagasan tersebut menciptakan inflasi tinggi dan kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin.

Hal ini menimbulkan kerusuhan pangan pada Januari 1977.

Sementara untuk kebijakan luar negeri, Sadat mengadakan perjanjian damai dengan Israel.

Awalnya Israel menolak karena Sadat meminta Israel untuk mengembalikan Semenanjung Sinai.

Tindakan ini bahkan memicu Perang Oktober (Yom Kippur).

Jalan Sejati menuju Perdamaian

Beberapa tahun setelah Perang Yom Kippur, Sadat mulai membangun upaya perdamaian kembali di Timur Tengah.

Sadat melakukan perjalanan ke Yerusalem pada November 1977 dan menyampaikan usulan damai ke parlemen Israel.

Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter menjadi penengah perundingan tersebut yang kemudian disepakati Mesir dan Israel pada September 1978.

Perjanjian damai ini dianugerahi Nobel Perdamaian dan menghasilkan perjanjian damai yang final pada 26 Maret 1979.

Pada 6 Oktober 1981 bertepatan dengan Hari Angkatan Bersenjata, Sadat dibunuh oleh ekstremis muslim selama parade militer memperingati Perang Yom Kippur di Kairo, Mesir. (Uli)