Presiden Cina Xi Jinping Percepat Xinjiang Menjadi Hubungan Perdagangan Asia-Eropa

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Senin, 18 Juli 2022

Indolinear.com, Jakarta – Delapan tahun setelah kunjungannya ke wilayah Xinjiang China pada 2014, Presiden China Xi Jinping melakukan perjalanan kedua ke wilayah barat laut Cina itu.

Ia menekankan upaya untuk sepenuhnya dan setia menerapkan kebijakan Partai Komunis China (CPC) untuk pemerintahan Xinjiang di era baru.

Xi menyoroti stabilitas sosial dan keamanan abadi sebagai tujuan utama dan peran penting kawasan dalam membangun Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative).

Media Global Times yang dikontrol Beijing menyebutkan kunjungan Xi ke Xinjiang menandakan telah tercapai perubahan mendasar dari gangguan ke stabilitas.

Wilayah Xinjiang memasuki fase baru untuk dibangun menjadi jembatan pembukaan Cina ke barat, meskipun ekonomi AS mencekik kawasan tersebut.

Wilayah Xinjiang, yang pernah menjadi bagian penting dari Jalur Sutra kuno, telah menjadi pintu gerbang utama pembukaan Cina ke barat dan area inti dari Sabuk Ekonomi Jalur Sutra.

Para analis Cina memuji keunggulan utama kawasan itu dalam memperdalam pertukaran asing dan kerja sama.

Termasuk lokasi geografisnya yang tak tertandingi, sumber daya alam yang melimpah, warisan budaya yang mendalam, dan kebijakan preferensial.

Pada Selasa pekan lalu, Xi mengunjungi Pelabuhan Darat Internasional Urumqi (UILP) dan mengamati pengoperasian berbagai area fungsional pusat perakitan Kereta Barang Cina-Eropa (Urumqi).

Xi juga mengunjungi pelabuhan Alashankou dan Khorgos.

“Inisiatif Sabuk dan Jalan telah membuahkan hasil yang bermanfaat sejak dimulai. Seiring pembangunan bersama BRI terus maju, Xinjiang tidak lagi menjadi sudut terpencil tetapi area inti dan pusat. Apa yang telah Anda lakukan adalah signifikansi bersejarah,” kata Xi Jinping, dilansir dari Tribunnews.com (17/07/2022).

Kunjungan Presiden Xi terhadap UILP menunjukkan sikap dan tekad Cina membuka diri ke Asia Tengah.

Upayanya mendorong perkembangan dan pembukaan Cina barat tidak berubah. Komentar dikemukakan Liu Zongyi, Sekretaris Jenderal Pusat Penelitian untuk Kerjasama China-Asia Selatan di Shanghai Institutes for International Studies.

Liu mencatat di masa lalu, Cina membuka ke laut dan sekarang kami juga memperhatikan pembukaan di darat.

Kata lainnya, keterbukaan Cina tidak hanya melibatkan negara maju tetapi juga negara berkembang.

Dalam kunjungannya pada April 2014, Presiden Xi menandaskan kawasan Xinjiang memiliki posisi dan peran yang tak tergantikan dalam membangun Sabuk Ekonomi Jalur Sutra.

Satu bulan kemudian, Biro Politik Komite Sentral CPC mengusulkan upaya untuk membangun Xinjiang menjadi “area inti” dari Sabuk Ekonomi Jalur Sutra.

UILP yang diluncurkan pada akhir tahun 2015 merupakan proyek landmark dalam melaksanakan pembangunan area inti Sabuk Ekonomi Jalur Sutra.

Proyek itu dikembangkan menjadi hub logistik darat internasional yang menghubungkan Eurasia, sebuah rantai pasokan internasional Asia ke Eropa.

Zhong Hehua, Wakil Direktur Pusat Layanan Pengembangan UILP, mengatakan proyek ini menjadi zona percontohan perdagangan bebas Cina.

UILP juga merupakan hub penting untuk kereta barang Cina-Eropa. Sebelumnya, kereta barang ini tersebar di seluruh Cina, sehingga efisiensi yang rendah dan volume lalu lintas barang yang kecil di setiap kota.

UILP telah secara efektif menyesuaikan dan mengintegrasikan angkutan dan mengurangi waktu transportasi, Zhao Juan, seorang peneliti di Institut Penelitian Ekonomi dan Perencanaan Kereta Api China, mengatakan kepada Global Times pada Jumat.

Menurut data dari pemerintah daerah Xinjiang, hingga saat ini, Xinjiang telah menjalankan lebih dari 5.900 kereta barang Tiongkok-Eropa, dan UILP telah menjalankan total 609 kereta Tiongkok-Eropa dari Januari hingga Juni 2022, meningkat 36 persen.

Produk Cina dapat diekspor ke AS dan barat dari wilayah pesisir dan juga ke wilayah lain melalui hub darat Xinjiang.

Ini membantu mempercepat pembukaan kawasan untuk menemukan jalan keluar baru di tengah jepitan sanksi ekonomi AS.

Dalam beberapa tahun terakhir, AS dan beberapa negara barat, mempersoalkan kebijakan Cina di Xinjiang dan membuat tuduhan tak berdasar tentang genosida atau kerja paksa.

Analis mengkritik undang-undang AS sebagai eskalasi untuk menahan Cina dengan menggunakan dalih isu hak asasi manusia di Xinjiang.

Namun, dalam menghadapi blokade ekonomi AS, total volume perdagangan luar negeri di wilayah Xinjiang meningkat dengan kerja sama yang lebih luas dengan lebih banyak negara.

Menurut data dari pemerintah daerah Xinjiang, dari 2016 hingga 2021, total volume perdagangan luar negeri di Xinjiang meningkat dari 139,8 miliar yuan menjadi 156,9 miliar yuan.

Xinjiang memperoleh peningkatan jumlah mitra dagang di lebih dari 170 negara dan wilayah.

Selama tinggal di wilayah Xinjiang dari Selasa hingga Jumat, Presiden Xi mengunjungi banyak tempat di Urumqi, termasuk Museum Daerah Otonomi Uygur Xinjiang.

Dia juga pergi ke Shihezi dan Turpan dan memeriksa desa-desa dan Korps Produksi dan Konstruksi Xinjiang (XPCC) dan berkomunikasi dengan penduduk setempat.

Pada Jumat sore, penduduk dari semua kelompok etnis melihat Xi dengan tepuk tangan panjang sebelum dia kembali ke Beijing.

Posisi Beijing dalam isu Uyghur menjadi kuat setelah Ketua Komisi HAM PBB Michele Bachelet mengunjungi wilayah itu selama beberapa hari.

Michele Bachelet menyatakan hasil kunjungannya ke wilayah Xinjiang positif dan produktif. Ia bebas melakukan tugas secara bebas. (Uli)