Presiden China Ajak Kerja Sama Di Asia Pasifik

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Jumat, 12 November 2021
loading...

Indolinear.com, Wellington – Presiden China Xi Jinping memperingatkan agar tidak kembali ke ketegangan era Perang Dingin di Asia-Pasifik.

Xi mengatakan semua negara di kawasan itu harus bekerja sama dalam menghadapi tantangan bersama.

Ia mendesak kerja sama yang lebih besar dalam pemulihan pandemi dan perubahan iklim.

“Upaya membentuk kelompok ideologis atau kelompok kecil dengan alasan geo-politik pasti akan gagal,” katanya dalam konferensi bisnis virtual di sela-sela KTT Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), dilansir dari Tribunnews.com (11/11/2021).

“Wilayah Asia-Pasifik tidak dapat dan tidak boleh terulang kembali ke dalam konfrontasi dan perpecahan era Perang Dingin,” ujarnya.

Pemimpin China menyerukan upaya bersama untuk menutup kesenjangan imunisasi, dan membuat vaksin Covid-19 lebih mudah diakses oleh negara-negara berkembang.

“Kita harus membuat konsensus bahwa vaksin adalah barang publik global ke dalam tindakan nyata untuk memastikan distribusi yang adil dan merata,” katanya kepada KTT yang diselenggarakan di Selandia Baru.

Xi mengatakan negara-negara harus meningkatkan kerja sama dalam penelitian, produksi, pengujian, dan saling pengakuan vaksin, agar keluar dari pandemi dan mencapai pemulihan ekonomi yang stabil secepatnya.

Xi berbicara pada saat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China terkait masalah Taiwan.

Namun Rabu (10/11/2021), China mengatakan telah mencapai kesepahaman dengan Amerika Serikat pada pertemuan puncak di Glasgow tentang perubahan iklim.

Xi tidak menyebutkan kesepakatan AS secara langsung. Tetapi ia mengatakan, semua dapat melanjutkan pembangunan ramah lingkungan (hijau) dan rendah karbon.

“China akan tetap berkomitmen untuk mempromosikan kerja sama yang saling menguntungkan dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi kawasan Asia-Pasifik,” ujarnya.

Kesepakatan pemanasan global muncul menjelang pembicaraan virtual yang diharapkan antara Xi dan Presiden AS Joe Biden, yang dilaporkan akan diadakan paling cepat minggu depan.

Kesepakatan dan rencana pertemuan itu juga terjadi pada saat ketegangan meningkat di Asia-Pasifik.

Beijing telah meningkatkan kegiatan militer di dekat Taiwan, yang diklaim China sebagai bagian darinya.

China menerbangkan pesawat dalam jumlah mencapai rekor yang ada ke zona identifikasi pertahanan udara Taiwan pada awal Oktober.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan pada hari Rabu (10/11/2021) bahwa Amerika Serikat akan memastikan Taiwan dapat mempertahankan diri untuk menghadapi siapapun yang memaksa mengganggu status quo.

China juga mengklaim hampir semua Laut China Selatan yang kaya sumber daya, yang dilalui perdagangan pengiriman triliunan dolar setiap tahun.

China menolak klaim yang bersaing dari Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam atas Laut China Selatan.

Menghadapi situasi ini, Amerika Serikat, Inggris dan Australia mengumumkan bahwa mereka telah membentuk aliansi baru – AUKUS – pada September lalu. Berdasarkan pakta ini, Australia akan memperoleh kapal selam bertenaga nuklir menggunakan teknologi AS.

Meskipun pengiriman masih bertahun-tahun lagi dan China tidak disebutkan secara spesifik, pengumuman itu membuat marah China.

Pakta AUKUS ini juga secara terpisah memicu pertikaian sengit dengan Prancis yang melihat kontrak yang sebelumnya dinegosiasikan untuk menjual kapal selam konvensional Australia dicabut. (Uli)