Presiden Amerika Serikat Ke-16 Abraham Lincoln Tewas Ditembak

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 7 Juli 2019

Indolinear.com, Washington, D.C. – 14 April 1865, Amerika Serikat berkabung. Pemimpin yang dielu-elukan oleh rakyatnya telah mangkat.

Presiden ke-16 Negeri Paman Sam, Abraham Lincoln, tewas ditembak oleh aktor panggung ternama dan pendukung Konfederasi, John Wilkes Booth, di Ford’s Theater, Washington DC. Ia juga menjadi otak di balik rencana pembunuhan.

Seperti dikutip dari Liputan6.com (05/07/2019), insiden itu terjadi hanya berselang lima hari, setelah Jenderal Konfederasi, Robert E. Lee, dan pasukannya menyerah kepada Letnan Jenderal Ulysses S. Grant dan Tentara Potomac di Gedung Pengadilan Appomatox, Virginia.

Pernyataan dari Jenderal Lee sekaligus menandai berakhirnya perang saudara yang mendera Amerika Serikat selama empat tahun. Kala itu, banyak yang menganggap serangan terhadap Presiden Lincoln sebagai bagian dari konspirasi besar untuk membangkitkan Konfederasi.

Ada tiga nama yang disebut sebagai konspirator Booth yaitu Lewis Powell, David Herold dan George Atzerodt.

Powell dan Herold ditugaskan untuk membunuh Menteri Luar Negeri, William H. Seward, sedangkan Atzerodt ditugaskan membunuh Wakil Presiden Andrew Johnson.

Dengan menyingkirkan tiga tokoh penting dalam pemerintahan, Booth dan para konspiratornya berharap bisa mengganggu sistem pemerintahan Amerika Serikat.

Pada mulanya, Booth berencana menculik Presiden Lincoln dan membawanya ke Richmond, ibu kota Konfederasi. Namun pada 20 Maret 1865, Presiden Lincoln membatalkan kunjungannya di lokasi yang telah dinanti Booth dan enam rekannya.

Saat Konfederasi sedang di ambang kehancuran, Booth bertekad untuk menyelamatkannya meski terbilang nekat. Mengetahui sang presiden akan menyaksikan pertunjukan teater berjudul Our American Cousin di Ford’s Theater pada 14 April, Booth berencana membunuhnya di sana.

Sekitar pukul 22.00 waktu setempat, Booth menyusup ke ruang VIP dan mendapati sang presiden yang sedang asyik menonton drama. Tanpa pikir panjang, ia mengeluarkan sepucuk senjata api dari balik mantelnya dan membidik sang presiden dari belakang, dengan jarak tiga atau empat kaki.

Setelah peluru dimuntahkan, Booth melompat dari balkon dan berteriak, “Sic semper tyrannis! (Untuk para tirani) Selatan sudah membalas!”

Akibatnya, Booth menderita patah kaki tetapi ia masih mampu kabur dengan menunggang kuda.

Keesokan harinya pada pukul 07.22, Presiden Lincoln dinyatakan wafat di Petersen House, di seberang jalan dari teater tersebut.

Angkatan Darat AS langsung melakukan pengejaran terhadap Booth dan berhasil memojokkannya di sebuah gudang di dekat Bowling Green, Virginia. Booth diduga tewas bunuh diri setelah pasukan AS membakar tempat persembunyian itu.

Di satu sisi, rencana para konspirator Booth tak ada yang berhasil. Semuanya gagal total. Powell hanya melukai Seward, sedangkan Atzerodt, yang akan membunuh Johnson, hilang rimbanya dan kabur.

Delapan orang lain didakwa terlibat dalam konspirasi pembunuhan Presiden Lincoln. Empat orang dihukum gantung dan empat lainnya dipenjara seumur hidup. Jenazah Presiden Lincoln dimakamkan pada 4 Mei 1865 di Springfield, Illinois, Amerika Serikat. (Uli)