Potensi Besar Pasar Fixed Broadband Indonesia Dan Komitmen Pembangunannya

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Jumat, 1 Oktober 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Indonesia merupakan negara yang paling menggiurkan secara peluang bisnis di Asia Tenggara termasuk bisnis fixed broadband. Sebagai negara kepulauan dengan populasi yang banyak menjadikan negeri ini sebagai pasar fixed broadband yang sangat potensial.

Data World Bank menyebutkan, penetrasi pasar fixed broadband atau jaringan koneksi internet berbasis pita lebar tetap di Indonesia pada tahun ini masih rendah, yakni hanya 4 persen. Padahal dunia semakin digital dan koneksi internet yang stabil amat dibutuhkan.

Koneksi internet berkecepatan tinggi dan stabil itu diperoleh dari koneksi fixed broadband, bukan mobile broadband. Sehingga koneksi fixed broadband lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan bisnis, perniagaan, edukasi, dan hiburan ketimbang mobile broadband. Karena itu, perusahaan-perusahaan internet service provider (ISP) yang sekarang mayoritas mengandalkan teknologi mobile broadband diyakini bakal berlomba-lomba merambah ke bisnis jaringan fixed broadband.

Persoalannya, kata Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, berbeda dengan negara lain yang lebih kecil dan bukan negara kepulauan, menggelar jaringan fixed broadband di Indonesia sangatlah sulit karena terdiri dari 17.000 kepulauan.

“Dibutuhkan komitmen yang besar dan keberanian dalam mengambil risiko bagi perusahaan ISP untuk menggelar jaringan fixed broadband di Tanah Air. Sebab setidaknya ada empat faktor yang mengharuskan perusahaan ISP menaruh komitmen besar untuk itu,” ujar Jeffrey dalam keterangan tertulis, dilansir dari Merdeka.com (30/09/2021).

Pertama, membutuhkan investasi cukup mahal. Karena Indonesia amat luas dan negara kepulauan, maka ISP harus siap dengan modal besar untuk membangun jaringan fixed broadband termasuk backbone dan kabel laut, demi menjangkau pelanggan yang lebih banyak.

Kedua, kebutuhan pasar bersifat lokal. Meski dunia digital bersifat tanpa batas, kebutuhan pasar antardaerah cenderung berbeda-beda sehingga harus dilayani secara berbeda-beda pula.

Ketiga, pemain lokal yang tak sedikit sehingga menimbulkan kompetisi yang sengit.

Keempat, tingkat return on investment lama. Karena berbekal modal besar dengan tingkat kompetisi pasar yang ketat, maka perusahaan ISP harus siap memperoleh return on investment atau tingkat pengembalian investasi dalam jangka waktu lama.

Empat faktor itulah yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan ISP berbasis teknologi fixed broadband yang sudah ada, bahkan diyakini juga dirasakan oleh pemimpin pasar seperti IndiHome milik PT Telkom Indonesia Tbk sekalipun.

“IndiHome, meski menguasai 81 persen pasar fixed broadband nasional, saya yakin juga tidak sedang dalam kondisi tenang-tenang saja,” tambah Albertus Edy Rianto, Senior Manager Spire Research and Consulting.

Menurut dia, sebagai perusahaan plat merah, IndiHome juga harus menjaga konsistensi dan meningkatkan layanan demi memberikan pengalaman pelanggan (customer experience) yang lebih baik lagi, memperbaiki cost per bandwidth, dan sebagainya. Langkah itu mesti dilakukan di tengah budaya konsumen yang seringkali membandingkan antarlayanan secara tidak apple-to-apple, baik dari sisi penggunaan server, bandwidth, maupun kondisi saat pemakaian secara bersamaan (concurrent access), yang penting lebih cepat atau harganya lebih murah.

Namun, di sisi lain, lanjut Edy, tuntutan-tuntutan itu tidak diimbangi dengan peningkatan daya beli (spending power) pelanggan. Sehingga pasar fixed broadband di Indonesia yang besar tapi membutuhkan upaya yang besar pula bagi ISP untuk menggarapnya. Belakangan ini banyak gedung perkantoran dan kawasan kota mandiri menawarkan jaringan fixed broadband kepada para penyewa atau pembelinya, meski skalanya masih sangat kecil. Karena itu, dibutuhkan kebijakan yang komprehensif dari pemerintah untuk mempercepat penetrasi pasar fixed broadband nasional.

“Salah satu caranya, mungkin dengan menerapkan model infrastructure sharing seperti base transceiver station [BTS] di telekomunikasi seluler,” pungkas Edy. (Uli)