Polwan Penjaga Perdamaian di Afrika: Sempat Cemas Disandera Kelompok Bersenjata

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Jumat, 6 November 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Beberapa waktu lalu wajah Briptu Hikma Nur Syafa Atun sempat mencuri perhatian di jagat maya. Selain karena parasnya yang ayu, ia merupakan petugas penjaga perdamaian PBB di Afrika Tengah. Tepatnya di Bangui.

Polwan yang bertugas di Satlantas Polres Bantul tersebut bergabung dengan Formed Police Unit (FPU) bersama dengan 139 polisi lainnya. Dari 139 polisi, 14 di antaranya adalah Polwan.

Ima, sapaan akrabnya menceritakan, sejak menjadi Polwan 2013 lalu, ia bercita-cita untuk mendapatkan program tugas luar negeri. Gayung bersambut, pada tahun 2018 dibuka peluang misi tersebut. Tak ingin mengabaikan peluang, ia pun mencoba mendaftar.

Untuk menjalankan misi kemanuasiaan tersebut, perempuan berusia 26 tahun itu terpaksa berpisah dengan orangtuanya. Selama 15 bulan, Ima hanya bisa berkomunikasi via telepon.

“Dulu memang ingin ikut program internasional, ingin punya pengalaman lebih di kepolisian. Tahun 2018 dibuka peluang ini, langsung mendafatar, dan menjalani tes. Berangkat tanggal 27 Juni 2019,dari Polda DIY ada dua yang bertugas. Orangtua sangat mendukung, perasaan khawatir pasti ada, tetapi tetap mendukung,”tuturnya, dilansir dari Tribunnews.com (04/11/2020).

Kehidupan di sana tidak mudah, ia dan teman-temannya harus membangun tenda dari nol. Anak kedua dari dua bersaudara ini harus merasakan panas dan hujan selama tiga bulan di dalam tenda.

Cuaca hanya masalah sepele baginya, karena ada kelompok bersenjata yang harus dihadapinya.Bahkan ia pernah menjadi korban penyanderaan kelompok bersenjata tersebut. Namun dengan kemampuan komunikasi dan negosiasi yang baik, ia dan teman-temannya dibebaskan.

“Tugas kami di sana cukup berat, karena kami yang pertama membangun kepercayaan mereka (warga Bangui). Sempat tersandera dalam mobil, tetapi dengan komunikasi yang baik, kami berikan pengertian akhirnya kami dibebaskan,”ungkapnya.

Pengalaman disandera ternyata bukan satu-satunya pengalamannya bersingungan langsung dengan kelompok bersenjata.

“Saat itu kelompok sedang melakukan patroli, kemudian terjadi baku tembak, dan kami berada di tengah baku tembak itu. Tentu ada perasaan cemas, tetapi akhirnya kami semua bisa kembali dengan selamat,”sambungnya. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: