Polisi Muda Jadi ‘Ayah’ Bagi 39 Anak Terlantar

Minggu, 14 Februari 2016

Indolinear.com – Lioao Yifeng, polisi muda yang bertugas di desa terpencil Huangpi di Provinsi Wuhan, China, menjadi ‘ayah’ bagi 39 anak yang ditinggalkan orangtuanya bekerja. PAra orangtua mereka bekerja cukup jauh dari rumah dan sangat jarang menghabiskan waktu bersama anak-anaknya.

Meski baru berusia 30 tahun, Liao cukup cekatan menangani berbagai masalah warga di desa terpencil itu. Misalnya, dia membantu membuatkan surat keterangan keluarga dan menyelidiki kasus kriminal serta memecahkan masalah antar warga.

Tapi perannya sebagai ‘ayah’ itulah yang paling berkesan bagi warga desa.

Bocah bernama Wan Tianle, delapan tahun, yang pertama memanggil Liao dengan sebutan ‘ayah’.

Orangtua Wan sudah bercerai ketika dia baru berusia enam bulan. Dia tidak pernah melihat ibunya lagi sejak itu dan ayahnya kemudian kabur lantaran banyak utang. Kakeknya sudah tidak mampu merawatnya karena hanya bisa berbaring sakit di tenpat tidur. Keluarga mereka harus bergantung pada uang tunjangan dari sang nenek yang sedikit.

Suatu hari Liao mengetahui Wan tidak mampu membayar uang SPP sekolahnya sebesar Rp 200 ribu sebulan. Dia kemudian mencarikan uang sebesar itu saban bulan dan memberi sumbangan sekaleng minyak.

Liao juga membawakan satu kilogram daging buat keluarga Wan ketika Festival Musim Semi. Selepas makan malam, sambil melingkarkan tangannya di leher polisi itu, Wan bertanya:

“Paman Liao, bolehkah aku memanggilmu ayah?” Liao terharu mendengar pertanyaan Wan dan meneteskan air mata. Sejak itu dia memutuskan akan menjadi ‘ayah’ yang baik.

Liao sendiri sudah punya seorang anak berusia dua tahun. Dia tahu betapa pentingnya peran seorang ayah bagi anak-anak.

Di sekolah dasar Gantang Primary School, ada 407 anak-anak terlantar di antara total 689 anak. Dengan bantuan guru, Liao mendata kondisi anak-anak itu dan memberi perhatian lebih kepada 39 anak yang paling menderita nasibnya.

Liao kemudian membangun sebuah ruangan khusus bernama “ruang cinta keluarga” di kantor polisinya. Ruangan itu diisinya dengan buku anak-anak, meja, dan kursi untuk mengerjakan PR.

Liao merasa senang bisa membantu anak-anak terlanta ritu mengerjakan PR dan mengajari mereka tentang keselamatan di waktu luang. Terkadang mereka juga mengadakan perayaan ulang tahun kecil-kecilan. (uli)

 

Sumber: Merdeka.com

loading...