Polisi ‘Gila’ Rela Mengurusi Orang Yang Mengalami Gangguan Jiwa

Senin, 1 Februari 2016
loading...

Indolinear.com, Makassar – Brigpol Sahabuddin (40), anggota Bintara Unit (Banit) Binmas di Polsek Tanete Riaja, Sulawesi Selatan ini tidak hanya bertugas menjaga masyarakat dari para penjahat. Namun juga menangkapi warga gila.

Seperti yang baru saja terjadi, Sahabuddin sukses menjinakkan warga penderita gangguan kejiwaan bernama Ambo (50) yang sehari-hari menenteng dua bilah parang dan tombak. Ambo akhirnya dimasukkan ke RSJ Dadi di Makassar. Usai peristiwa ini, sejumlah kepala dusun berbondong-bondong antre melapor dan minta tolong ke Sahabuddin untuk menangkapi warga yang idap gangguan jiwa.

Hingga akhirnya bapak dua anak yang sempat 13 tahun mengabdi sebagai anggota Brimob itu kerap disapa polisi ‘gila’ oleh rekannya dari sesama korps Bhayangkara, meski maksud sebenarnya dari kata polisi ‘gila’ itu adalah polisi yang mau ambil pusing urusi orang gila.

Saat berbincang-bincang dengan wartawan di salah satu sudut Kota Makassar, Brigpol Sahabuddin yang tidak terbiasa bertatap muka dengan jurnalis ini bercerita dengan sedikit terbata-bata dan sesekali lama berpikir apa yang hendak disampaikan.

Setelah beberapa saat kemudian, ceritanya mulai lancar mengalir utamanya saat mengisahkan teknik yang digunakan untuk menjinakkan Ambo, yang disebutnya belum menderita gangguan jiwa sepenuhnya melainkan baru setengah saja.

“Pak Ambo ini masih setengah gila dan biasanya lebih mudah menjinakkan penderita gangguan kejiwaan yang benar-benar gila ketimbang yang baru setengah gila, karena orang seperti inilah yang perilakunya biasa membahayakan sekitar,” tutur Brigpol Sahabuddin, ayah dua anak ini.

Baginya, menjinakkan Ambo selama 30 menit pada April 2015 lalu itu sangat menegangkan karena parang dan tombak tidak pernah lepas dari tangan lelaki yang hidup sendirian.

Yang melaporkan Ambo ini adalah seorang kepala dusun di Desa Kading. Kepala dusun ini kerap diancam Ambo. Serta merta Brigpol Sahabuddin menanggapi laporan tersebut.

“Saya lalu mengetuk pintu rumah, anggota lain sudah siaga. Saat saya ucapkan salam, sudah terdengar suara dari dalam bunyi parang dikeluarkan dari sarungnya. Saat dibukakan pintu, saya menyapanya, langsung dibentak pakai bahasa Bugis untuk berdiri saja depan pintu. Saya lalu tanya kabarnya pakai bahasa Bugis. Sampaikan akan mengajaknya pergi berobat. Tidak ada respons berarti, lalu saya pura-pura pamit dan mengajaknya bersalaman. Saat itulah saya tarik tangannya dan lalu kunci lehernya dan melepaskan parang panjang Ambo dan langsung memborgol,” kisah Brigpol Sahabuddin.

Sahabuddin istri dari Handayani ini sebelumnya banyak bertugas di daerah Jawa. Pernah di Aceh dan juga Irian Jaya (Papua) dalam operasi Mapenduma di bawah komando operasi saat itu Komandan Kopassus Brigjen TNI Prabowo Subianto untuk membebaskan sejumlah peneliti asing dan dalam negeri, yang disandera kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) tahun 1996 lalu. Saat itu TNI dan Polri masih satu payung.

Dua bulan kemudian, imbuh Sahabuddin, datang lagi kepala dusun lain melaporkan warganya yang juga alami gangguan kejiwaan minta diuruskan untuk dibawa ke Makassar. Di antaranya bernama M. Iqbah (18), pemuda yang alami gangguan kejiwaan setelah orangtuanya cerai. Dia dijemput di rumahnya di atas gunung.

Setelah itu datang lagi kepala dusun lain melaporkan warganya berpenyakit serupa. Dan hingga saat ini terhitung sudah lima orang penderita gangguan jiwa yang diurusi, diantar ke RSJ di Makassar.

“Alhamdulillah lima orang itu sudah sembuh dan kini sudah kembali. Di antaranya Ambo pernah saya tes, kasih uang Rp 50 ribu suruh belanja. Ternyata uang kembaliannya pas jadi saya pikir Pak Ambo ini benar sudah sembuh. Hanya saja saya minta ke keluarganya agar obatnya rutin dikonsumsi sebagaimana pesan dokter,” kata Brigpol Sahabuddin.

Mantan anggota Brimob ini mengatakan, rata-rata orang-orang itu alami gangguan kejiwaan karena tekanan ekonomi juga karena kasus dalam keluarganya. Menurutnya, mereka itu manusia yang tetap butuh pertolongan orang sekitarnya dan masih bisa sembuh.

Karena merasa terpanggil untuk menolong sesama, kini bukan hanya warga normal yang diurusi, Brigpol Sahabuddin juga mengurusi warga tidak normal jiwanya itu. Dia lalu hunting ke Puskesmas Ralla mencari data. Dan kini 23 penderita gangguan kejiwaan dari data Puskesmas itu sementara dipersiapkan untuk ‘diamankan’ untuk dibawa berobat ke Makassar, dengan harapan bisa sembuh sebagaimana lima penderita lain yang diantaranya hanya dua sampai empat bulan dirawat.

“Sebenarnya masyarakat sekitar peduli dengan penderita gangguan kejiwaan ini, hanya saja mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap mereka karena tidak tahu prosedurnya,” tutup Brigpol Sahabuddin. (uli)

 

Sumber: Merdeka.com