Polisi Amankan 10 Buruh, KSPSI Bantah Ikut Demonstrasi di Banten

FFOTO: Rahmat/indolinear.com
Kamis, 5 Maret 2020

Indolinear.com, Kabupaten Tangerang –  Video tindakan anarki kelompok buruh di salah satu perusahaan di wilayah Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Selasa (3/3/2020), viral di media sosial. Akibatnya, seorang pekerja pria pada perusahaan itu terluka.

Korban lantas melaporkan kejadian itu ke polisi. Kasus tersebut tengah dalam penyelidikan Satreskrim Polresta Tangerang. Bahkan, polisi sudah mengamankan sebanyak 10 orang atas dugaan kekerasan di depan umum.

Kapolresta Tangerang Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi mengatakan, tindakan anarki itu berawal saat massa buruh memaksa masuk ke salah satu pabrik lantaran pekerja di sana dinilai tidak ikut dalam aksi penolakan RUU Omnibus Law Cipta Kerja. Di mana, unjuk rasa tersebut dipusatkan di Kantor Gubernur Banten, Kota Serang.

“Kemudian dalam aksi tersebut terjadi penolakan dari perusahaan tersebut, sehingga akibatnya ada karyawan perusahaan tersebut yang mengalami luka karena menjadi korban kekerasan secara bersama-sama di muka umum,” ujar Ade di Mapolresta Tangerang, Tigaraksa, Rabu (4/3/2020).

Akibat pengeroyokan itu, lanjut dia, dua gigi korban copot. Adapun 10 orang yang diamankan terkait kasus tersebut terdiri dari karyawan, koordinator lapangan, dan penanggung jawab kegiatan. Ke-10 orang itu masih berstatus saksi.

Ade menyebut, polisi memiliki waktu selama 24 jam dalam menetapkan tersangka. Sejauh ini, Satreskrim Polresta Tangerang masih mengumpulkan sejumlah barang bukti, memeriksa rekaman CCTV, serta minta keterangan para saksi.

“Kami akan memproses kasus ini secara proporsional dan profesional,” tegas mantan Kapolresta Pontianak ini.

Ade pun menyayangkan aksi sweeping ke perusahaan-perusahaan. Sebab, hal itu tidak mesti terjadi karena konteks dari demonstrasi di Kantor Gubernur Banten tersebut yakni aksi damai.

“Namun, walaupun perusahaan ini sudah menjelaskan bahwa sudah mengirimkan perwakilannya, masih saja ada oknum-oknum yang memaksakan kehendak dengan melawan hukum masuk ke kawasan perusahaan sampai merusak pagar,” ucap Ade.

Di tempat berbeda, Ketua DPC KSPSI Kabupaten Tangerang Ahmad Supriadi -berafiliasi kepada Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea- mengatakan, korban berinisial ES. Ia merupakan anggota KSPSI Kabupaten Tangerang sekaligus ketua PUK-SPA SPSI di salah satu perusahaan pemroduksi keramik di Pasar Kemis.

Menurut Supriadi, sebenarnya korban atas tindakan anarki itu lebih dari satu orang. Pasalnya, kelompok buruh melakukan sweeping pada 11 perusahaan. Namun, sampai saat ini hanya ES yang sudah melapor ke polisi.

DPC KSPSI Kabupaten Tangerang, ujar dia, kini tengah mengidentifikasi kemungkinan adanya korban lain, untuk kemudian diarahkan segera melapor ke Polresta Tangerang. Supriadi menegaskan, tindak lanjut kasus ini ke ranah hukum semata-mata karena ada pengeroyokan.

“Tindakan DPC KSPSI Kabupaten Tangerang dalam melaporkan (dugaan) tindak pidana ini sebagaimana yang diperintahkan oleh Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea,” kata dia di kawasan Citra Raya, Cikupa.

Supriadi mengatakan, selain beberapa karyawan menjadi korban kriminalitas, 11 perusahaan sempat berhenti produksi karena aksi sweeping tersebut. Kendati berhenti produksi, perusahaan diharapkan tetap menggaji seluruh pekerja.

“Seharusnya sweeping itu tidak perlu dilakukan. Dari 11 perusahaan yang di-sweeping itu menyebabkan lebih kurang 8.650 karyawan tidak dapat melaksanakan pekerjaannya. Saya dapat informasi bahwa 11 perusahaan ini sedang membuat gugatan ganti kerugian,” beber anggota DPRD Kabupaten Tangerang ini.

Supriadi menyebut, tidak ada anggota DPC KSPSI Kabupaten Tangerang yang ikut dalam aksi demonstrasi di Kantor Gubernur Banten. Sebab, DPC KSPSI Kabupaten Tangerang telah menyampaikan instruksi kepada seluruh PUK-SPA SPSI dan Brigade SPSI, baik di Kabupaten Tangerang maupun Kota Tangerang Selatan, untuk tidak ikut pada aksi unjuk rasa terkait penolakan RUU Omnibus Law Cipta Kerja tersebut.

Instruksi dalam surat nomor ORG.016/DPC-KSPSI/III/2020 tertanggal 2 Maret 2020 itu, agar seluruh anggota DPC KSPSI Kabupaten Tangerang tetap bekerja seperti biasa dan menjaga perusahaan masing-masing.

Kalau bicara soal penolakan RUU Omnibus Law Cipta Kerja, kata dia, keluarga besar KSPSI di bawah pimpinan Andi Gani telah melakukan aksi besar-besaran ke Jakarta pada 12 Februari 2020 lalu.

“Lebih dari 25 ribu anggota kami dikerahkan ke Jakarta. (Aksi berlangsung) secara tertib, kami tidak melakukan gangguan-gangguan kepada masyarakat secara umum, dan juga tidak melakukan sweeping-sweeping kepada perusahaan-perusahaan,” pungkas Supriadi. (srh)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT:

INDOLINEAR.TV