Polda Metro Jaya Tangkap 5 Pelaku Penggelapan Peralatan BTS Provider Ponsel

FOTO: Suherman/indolinear.com
Selasa, 3 Maret 2020

JAKARTA – Subdit III Resmob Polda Metro Jaya menangkap 5 pelaku penggelapan peralatan BTS provider telepon selular di Jakarta. Tiga di antaranya merupakan pekerja pada vendor provider telepon selular tersebut.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengungkapkan, kasus ini bermula pada tahun 2015 ketika pihak provider menyerahkan proyek pembuatan base transceiver station (BTS) ke pihak vendor.

“Dalam hal ini setiap ada projek BTS, ada kerja sama antara provide dengan vendor, dia serahkan full ke vendor dengan ketentuan selesai kerjaan seharusnya barang tak terpakai dikembalikan ke provider, barang yang mau dihancurkan harus ada persetujuan pihak provider,” kata Yusri kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (2/3/2020).

Ada tiga orang tersangka dalam sindikat ini yakni F (54) sebagai project manager vendor, DH (53) sebagai customer excecution, dan SM (38) sebagai logistik dari vendor. Sementara itu dua lainnya, RW (42) dan AB (55) sebagai penadah.

Yusri mengatakan, para tersangka seharusnya menghancurkan atau mengembalikan alat yang sudah tidak terpakai. Namun, menurutnya, mereka justru menggelapkan salah satu alat penting seperti over voltage protection (OVP) untuk dijual kepada RW.

“Bukannya dihancurkan, izinnya harusnya dihancurkan, tapi yang ada digelapkan dan dijual kembali secara diam-diam kepada saudara RW. Dijual ke RW seharga Rp.41 juta dan dijual ke pemadah saudara AB seharga Rp 50 juta,” ucap Yusri.

Yusri menjelaskan, sebanyak 84 dus alat OVP tersebut digelapkan, dicuri dan dijual ke penadah oleh para tersangka. Kemudian berdasarkan penyelidikan lebih lanjut, Yusri menyebut masih ada 6 ribu alat milik provider yang hingga kini belum jelas keberadaannya.

“Provider tidak tahu ada barang sisa ini, masih didalami ada 6 ribu macam lagi. Ada modul, antena, radio, dan macam lagi lainnya. List sudah kita dapat. Kita baru temukan 84 dus, masih ada 6 ribu macam lagi, kalau kita cek harganya itu miliaran karena barang ini barang impor,” ujarnya.

Atas perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 363 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP junto Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP dan atau Pasal 480 KUHP. Para tersangka terancam hukuman di atas 5 tahun.(SHN)

INDOLINEAR.TV