Pindah Dari 4G Ke 5G, Ini Yang Perlu Kita Ketahui

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Kamis, 10 Juni 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Ridwan Effendi, Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan penerapan 5G di Indonesia sudah sangat diperlukan.

Pasalnya, teknologi 4G saat ini dianggap tak mampu lagi membendung penggunanya yang semakin banyak. Dampaknya adalah pada kecepatan internet dan latensi yang didapatkan pengguna tak maksimal.

“Kalau menurut saya, kita udah waktunya ya pindah atau ganti teknologi ke 5G. Kalau melihat gejalanya, 4G sudah gak mampu lagi di beberapa tempat. Speednya per kapita udah mentok. Menambah BTS pun sudah rapat. Makanya sudah saatnya kita ganti ke teknologi yang lebih efisien lagi dan memberikan troughput lebih besar yaitu 5G,” kata Ridwan yang dilansir dari Merdeka.com (09/06/2021).

Menurutnya, kapasitas 4G yang kian mentok ditengarai lantaran perilaku pengguna yang kini kebanyakan menerapkan work from home maupun school from home yang dilakukan di area-area pemukiman. Sehingga mau tidak mau, operator seluler harus memenuhi kebutuhan tersebut.

“Di sisi lain juga, meski daerah-daerah bisnis tak seramai dulu, namun demand masih tetap tinggi. Saat ini kan sudah ada beberapa perusahaan yang sebagian karyawannya bekerja dari kantor,” ungkap dia.

Meski begitu, yang perlu menjadi catatan dalam komersialisasi 5G adalah hasil akhir yakni kecepatan sesungguhnya 5G. Perlu diketahui, 5G dalam teorinya harus mampu menghadirkan peak data rate hingga 20 Gbps atau sekitar 20 kali lebih tinggi dari peak data rate 4G. Kemudian, 5G pun memiliki latensi yang begitu rendah, yaitu 1ms, atau sekitar 10 kali lebih rendah dari 4G.

“Jangan sampai 5G rasa 4G. Maka itu, dibutuhkan jaringan backbone yang baik harus dari fiber optic, bukan dari microwave. Jadi fiberisasi harus dilakukan optimal baik di kota-kota maupun didaerah-daerah,” terang dia.

Sementara itu, lain hal dengan pendapat Munir Syahda Prabowo. Pengamat telekomunikasi ini menilai bahwa penerapan 5G pertama kali lebih diperlukan untuk industrial, bukan pengguna masyarakat umum. Sebab, dengan adanya 5G akan membuka kesempatan lebih luas untuk industrial melakukan efisiensi waktu lantaran otomasi yang dibutuhkan.

“Kalau langsung ke end user, kita perlu studi yang lebih dalam,” ungkap Munir.

Menurut Munir, terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan jika ingin menerapkan teknologi generasi kelima ini ke masyarakat umum. Pertama adalah kesiapan 5G yang sifatnya massif. Massif yang dimaksudnya itu adalah, boleh dilakukan oleh satu atau seluruh operator seluler tetapi tercover di semua wilayah Indonesia.

“Kalau ngomong ke user, mestinya harus lebih luas ke masyarakat ya. Tidak terbatas,” jelas dia.

Kedua adalah edukasi 5G ke masyarakat. Hal ini akan berhubungan dengan kuota pelanggan.

“Waktu 3G ke 4G, orang masih mikir 4G itu boros. Cepat habis. Apalagi masuk zona 5G yang itungannya Gbps. Ini kita bicara untuk masyarakat umum ya, bukan masyarakat khusus yang punya duit lebih. Apakah masyarakat umum sudah bisa menerima?” katanya.

Kemudian yang ketiga dilanjutkan Munir adalah tingkat kebutuhan data masyarakat. Sejauh mana masyarakat umum membutuhkan 5G.

“Masyarakat saat ini hanya tahu tentang teknologi 5G sudah ada, tetapi Indonesia belum ada. Sementara, masyarakat juga belum tahu persis penggunaan 5G. Masyarakat itu sederhana kok, mereka sebetulnya gak mau tahu apa 3G, 4G, 5G. Yang jelas, kalau pakai internet itu cepat dan murah,” terang Munir.

Meski begitu, Munir mengatakan bahwa ekosistem 5G pada dasarnya sudah siap, baik device maupun aplikasinya. Saat ini sudah banyak smartphone-smartphone yang mengumumkan perangkatnya support dengan 5G. Begitu juga dengan aplikasi seperti game yang salah satunya butuh kecepatan internet yang tinggi.

“Hanya saja, harga smartphone 5G masih tinggi. Tentu, hanya bisa dijangkau oleh kalangan khusus,” jelas dia. (Uli)