Pilihan Skutik Bergaya Retro Yang Tak Semahal Vespa

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Sabtu, 15 Juni 2019

ndolinear.com, Jakarta – Vespa maupun Lambretta dipastikan menggoda para pecinta motor bergaya retro. Sayangnya, harganya cukup mahal. Setidaknya Anda harus siapkan dana Rp 40 jutaan untuk memboyong salah satu motor merek Italia ini.

Bagaimana dengan Peugeot Django? Sama saja. Dilansir dari Liputan6.com (13/06/2019) harganya bahkan lebih tinggi. Lalu motor gaya klasik apa yang bisa dipinang dengan harga lebih terjangkau?

Kymco Like 150i

Alternatif pertama jatuh pada Kymco Like 150i. Motor yang baru saja diluncurkan pada IIMS 2019 itu, memiliki banyak fitur menarik. Cukup mengeluarkan dana Rp 28,8 juta OTR, Anda bisa merasakan sensasi naik skuter berparas klasik.

Penampilannya benar-benar senada dengan Vespa. Dari mulai shield depan, sepatbor hingga tepong yang membulat sampai ke buritan. Begitupun tata letak lampu di depan. DRLnya menyatu dengan sein di shield. Lalu headlamp dibungkus dengan batok plastik yang menyambung menutupi sebagian setang.

Desain lampu utama sebetulnya mirip dengan Piaggio Liberty. Berbentuk segitiga terbalik. Sedangkan di belakang, model stoplamp punya identitas tersendiri. Untuk urusan pencahayaan, semua sudah LED. Tentu saja, kualitas penerangan lebih baik dan hemat energi.

Memperkuat tema klasik, kelir disediakan dalam lima pilihan menarik. Ada Pearly White, Mat Silver Crystal, Bright Red, Deep Blue dan Plain Grey. Semua itu dikombinasi dengan pelek palang sporty berlabur hitam-silver. Tentu saja, dalam balutan ban berdiameter kecil, 12 inci. Sedangkan lebar dan tebalnya sebesar 110/70 di depan serta 130/70 di belakang.

Nah, bagian paling menarik adalah fiturnya. Di dalam layar instrumen digitalnya tertera beragam informasi lengkap semacam speedometer, fuel gauge, odometer, volt meter, indikator ABS, indikator suhu mesin dan peringatan service. Sampai di situ saja? Tentu tidak. Navigasi, konektivitas smartphone, hingga kondisi cuaca sanggup ia sajikan. Pun radar untuk melacak Kymco yang sama. Seluruh sistem ini disebut Noodoe oleh mereka. Terakhir, tampilannya juga bisa dipersonalisasi sesuai selera.

Dari segi teknis, tak bisa dianggap remeh. Mesin 149,8cc SOHC 4-valve sanggup melontarkan tenaga 13,5PS di 8.500rpm dan torsi 10.2 Nm pada 6.500rpm. Output ini bisa dikatakan setara dengan kawan-kawannya dari Negeri Pizza. Untuk menjaga suhunya juga sudah dibekali pendingin cairan. Dan tentu saja, tenaga ditransfer oleh transmisi CVT.

Beranjak ke mekanisme pengendalian. Suspensi teleskopik menopang di depan dan di belakang mengandalkan suspensi ganda. Sedangkan perangkat penahan laju, diatasi oleh rem cakram 220mm di roda depan dan 200mm di belakang. Sensor ABS satu channel juga menjaga agar ban depan tidak terkunci saat pengereman keras.

Honda Scoopy

Skutik lansiran Honda ini, juga mengusung gaya klasik. Namun nadanya jauh berbeda. Tak tersimak embel-embel guratan Italia seperti pada Kymco. Desainnya malah cenderung modern. Yang menarik, harganya sangat terjangkau di angka Rp 18,525 juta OTR Jakarta.

Perubahan signifikan terjadi di 2018. Scoopy bersolek hingga proporsinya lebih enak dilihat. Bukan hanya headlamp, stoplamp dan garis bodi baru. Melainkan Honda mengecilkan diameter ban yang digunakan. Kini mengadopsi ukuran 12 inci layaknya skuter Eropa. Lebarnya pun bertambah. Di depan 100/90 dan belakang 110/90. Otomatis Scoopy lebih terlihat gambot dan kami suka dengan komposisi ini.

Walaupun roda mengecil. Ground clearancenya malah lebih tinggi sedikit di angka 143mm. Sementara bobotnya, kurang lebih masih sama sebesar 99Kg. Perubahan lain adalah teknologi pencahayaannya. Kini headlamp sudah dibekali LED.

Urusan warna, Honda memberikan dua tema pada Scoopy. Pertama Sporty, yang menyediakan warna hitam, merah dan putih. Selain itu, tema yang lebih kalem juga disediakan dengan tajuk Stylish. Pilihannya Matte Brown, hitam, matte red dan putih. Khusus tema ini, jok dilabur coklat dengan bahan kulit sintetis.

Mengenai fitur, tak serevolusioner Kymco. Misalnya panel instrumen kombinasi digital-analog hanya menyajikan speedometer, fuel gauge, odometer dan sensor penting. Namun ada kunci dengan remote alarm, yang mampu memberikan fasilitas answer back. Sangat berfungsi saat mencari motor di parkiran.

Terakhir, jantung pacunya. Jujur inipun kurang spesial. Mesin satu silinder SOHC 108,2cc ditanamkan sebagai sumber dayanya. Ya, mudah ditebak. Tak ada catatan yang impresif. Tenaga maksimal hanya 9,1 PS/7.500rpm dan torsi 9,4Nm/6.000rpm. Tangki bensinnya juga kecil, hanya empat liter. Tapi satu hal yang menjadi unggul. Konsumsi bahan bakar sanggup mencapai 61,9kpl. Jadi, walaupun tangkinya kecil, Anda tak perlu repot bolak-balik ke SPBU.

Yamaha Fino

Hampir sama dengan Scoopy, Fino juga mengadopsi desain retro-modern. Harganya lebih murah ketimbang rivalnya, Rp 18,05 juta OTR Jakarta. Dengan harga itu, apa saja yang didapat?

Dari segi desain, ia cukup mirip dengan Scoopy. Tapi menghasilkan tampang yang berbeda. Kembali pada selera, kami lebih suka proporsi skuter klasik milik Honda. Walaupun, Fino turut bersolek dengan melebarkan tapak ban sebesar 80/80 di depan dan 100/70 di belakang. Sayang, diameternya tetap 14 inci.

Tema warna sporty dan elegan disediakan oleh Yamaha. Untuk yang sporty, terbagi jadi tiga yakni retro green, classic blue dan vintage red. Sedangkan tema elegan diwakili kelir caramel brown, black espresso dan white latte. Tentu saja tak banyak grafis dan stiker pada varian paling kalem ini.

Fiturnya biasa saja, tanpa embel-embel digital. Namun memiliki bentuk yang unik. Speedometer bulat ditunjukkan jarum mekanik dengan balutan batok besi. Nah, fuel gaugenya terpisah di sisi kiri stang dengan bracket sendiri. Tapi mengenai informasinya, tak lengkap. Sekadar sensor fundamental. Tapi, ada eco indikator agar gaya mengendara tetap efisien. Selain itu, yang diunggulkan motor ini adalah kapasitas tangkinya. Sekali isi penuh, sanggup menelan 8,7 liter bensin.

Sumber tenaganya berasal dari mesin 125cc SOHC. Ya, lebih baik dari Scoopy. Pun catatan output yang mampu menyentuh 9,52PS/8.000rpm dan torsi 9.6Nm/5.500rpm. Tenaga itu akhirnya ditransfer melalui CVT ke roda belakang. (Uli)