Petugas Bapenda Tangsel Dibekali Teknik Komunikasi yang Lugas dan Berkelas

FOTO: Eksklusif Bapenda Tangsel for indolinear.com
Senin, 17 Desember 2018

Indolinear.com, Tangsel –  Sebagai makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain maka komunikasi adalah salah satu sarana untuk terkoneksi dengan orang di sekeliling kita. Ada komunikasi yang bersifat verbal dan ada pula yang bersifat non verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang terjadi dengan berbicara pada orang lain sedangkan non verbal adalah komunikasi yang terjadi melalui perantara atau media.

Dalam komunikasi verbal maka sangat penting untuk bisa menyusun kata-kata yang keluar dari mulut kita menjadi sebuah informasi yang dapat dimengerti, berguna dan menarik bagi orang lain.

Berbekal dengan cita cita ingin merealisasikan cara berkomunikasi dengan baik, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) membekali petugas pajaknya yang terjun ke lapangan dengan kemampuan komunikasi yang baik dan terukur juga materi pengenalan aplikasi pemeriksaan pajak daerah secara online dan public speaking.

Upaya ini sengaja ditempuh dan dilakukan pelatihan, agar para petugas Bapenda Tangsel mampu meyakinkan dengan cara berkomunikasi yang baik dengan para wajib pajak agar ke depannya dengan penuh kesadaran menyetorkan pajaknya kepada negara/daerah.

Bertempat di Pallace Hotel Cipanas, Bogor, Jawa Barat, dengan penuh perhatian dan serius, para petugas pajak Bapenda Tangsel mendengarkan dan memahami materi “Effective Communication” yang dipaparkan langsung oleh Andrian Hamzah selaku Manager PT SCB Corporation, dan Agung Solihin penyandang predikat The Best Of Communication SCB.

Dalam materi yang dipaparkan tentang komunikasi, para petugas pajak ini diajarkan teknik tingkatan dalam berkomunikasi dengan baik, yakni level 1 adalah Communication with Words, level 2 Communication with Action, dan level 3 Communication with Heart.

Andrian Hamzah kepada para petugas pajak Bapenda Tangsel dengan gamblang menjelaskan, bagaimana memecahkan suatu persoalan dan perspektif seseorang dalam melihat suatu masalah serta perspektif cara penyelesaian yang dilakukan yakni dengan pola menggali “Solve The Problem or Making The Problem Bigger.”

“Akibat perselisihan, menang jadi arang dan kalah jadi abu,” jelas Andrian.

Dikatakannya, dalam penyelesaian masalah, misal terkait soal perselisihan, bukan harus dilakukan dengan langkah emosi. Karena menurutnya, akibat konflik atau berselisih, menang jadi arang, kalahpun jadi abu. Lanjutnya, setiap orang akan dituntut menjalankan tugas profesinya masing-masing, tak terkecuali bagi petugas pajak yang meminta para wajib pajak menunaikan kewajibannya. Meski begitu, dalam pelaksanaannya tak boleh mengedepankan ego masing-masing.

“Kalau kita berselisih dengan pelanggan, walaupun kita menang namun pelanggan tetap akan lari. Berselisih dengan rekan kerja, walaupun kita menang tapi tak ada lagi semangat bekerja dalam tim. Berselisih dengan pasangan, maka rasa sayang akan berkurang. Jadi berselisih dengan siapapun, yang menang hanyalah ego diri sendiri,” ucapnya lagi.

Di lokasi yang sama, Agung Solihin menerangkan kepada peserta tentang makna dan implementasi gaya komunikasi massa. Dia menyampaikan bahwa sebaik-baik komunikasi adalah komunikasi yang terlahir dari hati seseorang. Seni komunikasi, lanjut dia, bukan hanya perihal kemampuan berbicara seseorang kepada orang lain.

“Seni komunikasi bukan hanya kemampuan berbicara, namun juga kemampuan mendengar,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemeriksaan Bapenda Tangsel Cahyadi, pelatihan komunikasi ini para petugasnya bisa lebih lagi melakukan pendekatan dan cara-cara komunikasi yang persuasif kepada para wajib pajak. Agar semata-mata, para wajib pajak pun merasa dihargai dan mau menunaikan kewajibannya kepada negara.

Cahyadi pun berharap, setelah memahami pola komunikasi yang baik, para petugas pajak memiliki rasa percaya diri dan dapat memberikan kontribusi yang berharga dalam komunikasi.

“Poin salah satunya yang terpenting adalah Ketika kita berinteraksi dengan orang lain atau dengan para wajib pajak, maka kita harus berbicara dengan pelan, tidak perlu keras-keras, dan tidak usah terburu-buru. Hal ini agar orang lain mengerti dan memahami apa yang menjadi maksud dan tujuan kita berkomunikasi,” tutup Cahyadi.(ADV)