Perubahan Iklim Sebabkan Bulan Juni 2019 Alami Suhu Global Tertinggi

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Selasa, 9 Juli 2019

Indolinear.com, Jakarta – Dampak pemanasan global dan perubahan iklim semakin mengkhawatirkan, di mana suhu Bumi cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

Pada bulan Juni 2019, Eropa mengalami gelombang panas ekstrem.

Beberapa bagian wilayah Prancis, Jerman, Republik Ceko, dan Spanyol mengalami suhu tertinggi.

Rupanya, bulan Juni 2019 menjadi bulan Juni dengan suhu terpanas yang pernah tercatat.

Mengutip laman Tribunnews.com (08/07/2019), hal ini ditunjukkan oleh sebuah satelit yang memonitor dan mencatat suhu Eropa untuk Uni Eropa.

Satelit Copernicus Climate Change Service (C3S) melaporkan, temperatur rata-rata global untuk bulan Juni 2019 tercatat mencapai angka tertinggi.

Rata-rata suhu pada sebagian besar wilayah Prancis, Jerman, dan Spanyol bagian utara selama terpaan gelombang panas mencapai 10 derajat Celsius di atas normal.

Suhu di Prancis bahkan mencapai 45 derajat Celsius pada Jumat (28/6/2019) lalu.

“Kami tahu, bulan Juni memang biasa bersuhu panas di Eropa, tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa rekor suhu tertinggi (untuk bulan Juni 2019, red.) tidak sekadar terpecahkan,” kata Hannah Cloke, seorang peneliti dari University of Reading.

Temuan satelit ini pun mendapat perhatian dari para ilmuwan dan figur publik perubahan iklim.

“Badan satelit Eropa menyimpulkan bahwa Juni 2019 menjadi bulan Juni dengan suhu terpanas di Bumi yang pernah tercatat,” kata penulis Bill McKibben di unggahan Twitternya.

Hubungan Gelombang Panas dengan Perubahan Iklim.

Sebuah studi terbaru oleh para peneliti di organisasi World Weather Attribution menyimpulkan, perubahan iklim membuat peluang terjadinya gelombang panas pada Juni 2019 lima kali lebih besar.

“Setiap gelombang panas yang terjadi di Eropa saat ini memiliki intensitas lebih tinggi akibat perubahan iklim yang dipicu oleh manusia,” kata para peneliti tersebut dalam riset mereka.

Para ahli dari badan satelit Eropa pun tidak menyangkal analisis tersebut.

“Data kami menunjukkan bahwa suhu di wilayah barat daya Eropa selama minggu terakhir Juni sangat tinggi,” kata Jean-Noel Thepaut, kepala C3S dalam siaran pers.

“Meskipun ini adalah hal yang tidak biasa, kita bakal cenderung mengalami peristiwa semacam ini lebih banyak di masa depan karena perubahan iklim.”

Pada Juli 2018, Eropa mengalami gelombang panas yang serupa, dengan suhu di atas 32,2 derajat Celcius sejauh bagian utara ke Lingkaran Arktik.

Sebuah analisis tahun 2018 melaporkan, perubahan iklim membuat gelombang panas seperti itu lima kali lebih mungkin terjadi.

Rekor suhu tertinggi Prancis sebelumnya ditetapkan 16 tahun lalu, pada 12 Agustus 2003.

Saat itu, 15.000 orang di seluruh wilayah Prancis tewas akibat gelombang panas pada musim panas yang parah.

Sebuah studi menemukan, perubahan iklim membuat peluang terjadinya gelombang panas tahun 2003 tersebut dua kali lebih besar.

Secara keseluruhan, menurut badan cuaca nasional Prancis, total terjadinya gelombang panas di negara itu mencapai dua kali lipat dalam 34 tahun terakhir dan diperkirakan akan berlipat ganda lagi pada tahun 2050.

“Peningkatan panas ekstrem ini sama seperti yang telah diprediksi oleh ilmu iklim sebagai konsekuensi dari pemanasan global yang disebabkan oleh meningkatnya gas rumah kaca dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas,” kata Stefan Rahmstorf dari Institute for Climate Impact Research. (Uli)