Pertama Kalinya Coca-Cola Dijual Di Farmasi Dengan Dispenser Soda

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Sabtu, 6 Juni 2020
KONTEN MILIK PIHAK KETIGA. BERISI PRODUK BARANG, KESEHATAN DAN BERAGAM OBAT KECANTIKAN. MARI JADI PENGGUNA INTERNET SEHAT DAN CERDAS DENGAN MEMILAH INFORMASI SESUAI KATEGORI, USIA DAN KEPERLUAN.
loading...

Indolinear.com, Atlanta – Apoteker Atlanta Dr. John “Doc” Pemberton atau Dokter John Styth Pemberton tidak pernah memiliki sejarah sukses wirausaha.

Setelah Perang Sipil, ahli farmasi itu menciptakan beberapa obat, tapi tidak ada yang terjual dengan baik. Kemudian dia memutuskan untuk menempuh jalur yang berbeda ketika tempat dengan dispenser soda mulai naik daun dan jadi lokasi nongkrong.

Pemberton kemudian mengembangkan sirup dengan rasa yang dicampur dengan air berkarbonasi dari farmasi lokal. Dengan hasil rasa awal yang tak mengecewakan, Dr. Pemberton lalu memutuskan untuk meluncurkan minuman baru dalam skala penuh.

Mengutip dari Liputan6.com (04/06/2020), sejarah kemudian mencatat 8 Mei 1886 sebagai momen perdana minuman ala Pemberton yang dinamai Coca-Cola dijual untuk publik melalui dispenser soda di toko obat, Jacob’s Pharmacy di Atlanta.

Nama Coca-Cola dicetuskan oleh sahabat sekaligus akuntan Pemberton, Frank M. Robinson.

Robinson tidak hanya menamai minuman Coca-Cola yang terinspirasi dari daun koka — yang merupakan bahan utama minuman berkarbonasi itu pada awalnya, tetapi juga dengan merancang logo khas yang masih digunakan sampai sekarang.

Robinson menyarankan nama Coca-Cola karena berpendapat bahwa dua huruf ‘C’ akan tampak menonjol untuk periklanan. Ia pula yang menciptakan logo dengan tulisan yang khas.

Perusahaan Coca-Cola berhenti memasukkan kokain dalam minumannya pada 1903, tetapi masih menggunakan ekstrak daun koka. Setelah amandemen Jones pada 1922, dan hingga hari ini, perusahaan itu menjadi satu-satunya perusahaan AS yang diberikan hak untuk mengimpor daun koka secara legal ke negara tersebut.

Cerita di Balik Kesuksesan Coca-Cola

Minuman berkarbonasi yang dikenal sebagai Coke dan dijual menggunakan dispenser di Jacob’s Pharmacy pada 8 Mei 1886, memiliki harga penjualannya lebih rendah dari biaya pembuatannya US$ 20. Sehingga pembuatnya mengalami kerugian — meski mendapat pasar untuk penjualan.

Awalnya, minuman yang dijual dengan harga 5 sen per gelas itu dipasarkan sebagai obat penyembuh penyakit seperti kecanduan morfin, dispepsia, neurasthenia, sakit kepala, dan impotensi.

Dua tahun kemudian, pada 1888, ada tiga versi Coca-Cola di pasaran yang dijual oleh tiga perusahaan terpisah. Asa Griggs Candler kemudian membeli formula minuman itu dari Pemberton seharga US$ 2.300 dan menggabungkan ketiga produsen minuman bersoda itu dengan nama Coca-Cola Company.

Di tahun yang sama, Pemberton menjual hak formula minuman soda berwarna gelap itu kepada empat pengusaha lainnya — JC Mayfield, AO Murphey, C.O. Mullahy dan E.H. Bloodworth.

Candler yang memimpin Coca-Cola Company, kemudian menyempurnakan kembali perusahaan tersebut pada 1892. Setelah membeli hak eksklusif formula minuman soda itu dari John Pemberton, Margaret Dozier dan Woolfolk Walker.

Dua tahun kemudian pada tanggal 12 Maret 1894, barulah Coca-Cola untuk pertama kalinya dijual dalam botol terbuat dari kaca. Bersama dengan poster promosi pertamanya di Cartersville, Georgia. Sementara pada tanggal 29 Mei muncul iklan di Atlanta Journal.

Upaya Asa Griggs Candler, yang memasarkan Coca-Cola dengan cara membuat berbagai macam benda-benda cinderamata berlogo minuman bersoda itu, tak sia-sia. Berkat gaya periklanan yang inovatif — seperti desain warna-warni untuk bus, lampu gantung hias dari kaca, serta serangkaian cinderamata seperti kipas, kalender dan jam, makin banyak orang mengenal Coca-Cola.

Bahkan produk tersebut telah menjadi salah satu industri minuman yang merajai pasar global. Yang kini tersedia di toko-toko, restoran, dan mesin penjual otomatis di seluruh dunia. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: