Persaingan Ketat, Pemain Baru Dompet Digital Akan Susah Bersaing

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Rabu, 24 Maret 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), transaksi digital meningkat 37,8 persen (year on year/yoy), mencakup transaksi digital banking dan transfer. Penggunaan uang e-money atau dompet digital (e-wallet) pun meningkat 24,42 persen (yoy). Sementara penggunaan kartu debit menurun 18,9 persen (yoy).

Menariknya, Sharing Vision pada Desember 2020 pernah merilis hasil survei bertema ‘eChannel Fintech eCommerce & eLifestyle’. Riset ini membedah dompet digital yang kerap digunakan oleh masyarakat.

Hasilnya GoPay menempati peringkat pertama (81 persen), disusul OVO (71 persen). Selanjutnya ada ShopeePay menempati posisi ketiga dengan 44 persen, lalu Dana di posisi keempat dengan 41 persen.

Setelah itu, e-money Mandiri 21 persen, Flazz 18 persen, Link Aja 16 persen, dan Brizzi 5 persen. Sementara itu, i.saku 2 persen, Jakcard 1 persen, Paytren 1 persen, dan lainnya 2 persen.

Bila melihat data tersebut, lantas apakah masih ‘seksi’ untuk investor menaruh duitnya ke pemain-pemain yang baru muncul?

Wilson Cuaca, Co-Founder & Managing Partner East Ventures mengatakan, saat ini pemain dompet digital sudah sangat dominan. Sehingga menurutnya agak berat untuk pemain-pemain baru bisa bersaing.

“Saat ini bukan dompet digital-nya, tetapi bagaimana cara untuk mengisi dompetnya. Maksudnya adalah digital banking yang masih memungkinkan,” ungkapnya saat acara konferensi pers Peluncuran East Ventures Digital Competitive Index 2021, dilansir dari Merdeka.com (23/03/2021).

Pernyataan Wilson tentang digital banking, saat ini digital banking memang akan menjadi tren ke depannya. Beberapa bank pun kini sedang mempersiapkan melebarkan sayap bisnisnya menjadi digital banking.

Seperti BCA. BCA tengah menyiapkan Bank Digital. Hasil Bank BCA mengakuisisi Bank Royal yang kemudian dipersiapkan untuk menjadi digital banking BCA sepenuhnya. Kemudian ada Bank Jago. Bank ini menarik minat Gojek untuk menaruh investasinya.

Salah seorang petinggi dari perusahaan dompet digital pun mengamini pernyataan dari Wilson. Sumber yang enggan disebutkan namanya ini melihat bahwa persaingan di industri dompet digital sudah sangat ketat.

Sehingga diharuskan pemain baru memiliki kemampuan dan kemauan pengembangan ekosistem, kecepatan untuk pengembangan produk dan layanan, competitive advantage dan business model yang jelas untuk sustainability-nya

“Tapi memang boleh dibilang sudah cukup cluttered dengan pemain besar yang tidak sedikit. Pada intinya bisnis ini perlu usaha dan komitmen besar,” kata dia.

Bukan Industri Baru

Nailul Huda, Ekonom INDEF mengatakan, pangsa pasar untuk dompet digital ini masih sangat luas. Pertumbuhan di ASEAN dan Indonesia masih sangat pesat. Data dari Bank Indonesia menunjukkan kalo penggunaan elektronik payment di masa pandemi bisa tumbuh hingga dua digital dari sisi nominal.

“Artinya masyarakat pada saat pandemi semakin banyak menggunakan layanan transaksi elektronik, termasuk layanan dompet digital,” jelas Huda.

Hanya saja, lanjut Huda, berdasarkan platform penyedia, OVO dan GoPay menjadi raksasa di industri dompet digital. Data tahun 2019 menyebutkan kedua platform tersebut menguasai 54 persen pangsa pasar nasional.

“Mereka menang karena berada dalam ekosistem layanan ekonomi digital masing-masing. Gopay dengan Gojek, dan Ovo dengan Grab. Maka dari itu, jika pemain baru ingin muncul dan menjadi pesaing ketat, maka dibutuhkan ekosistem penunjangnya,” terang Huda.

Sementara itu, menurut Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky, persaingan perebutan pangsa pasar saat ini untuk dompet digital bukan antara pemain baru dengan pemain lama. Melainkan, pemain lama dengan pemain besar. Sebut saja OVO dan GoPay.

“Pemain ini burning money untuk merebut pangsa pasar yang besar. Kalau pemain baru belum memiliki basis konsumen. Pemain baru ini, kalau kita lihat kebanyakan itu justru diakusisi oleh Gopay dan OVO,” ungkap Riefky.

Oleh sebab itu, Riefky mengatakan, saat ini pasarnya memang sudah mulai mengerucut. Persaingannya bukan persaingan yang baru dimulai tetapi sudah matang.

“Kita sudah ditahap melihat siapa yang akan menang. Ini industri yang sudah ada leadernya,” jelasnya. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: