perjuangan seorang pastor membangun pembangkit listrik Di NTT

FOTO: brilio.net/indolinear.com
Selasa, 9 Juli 2019

Indolinear.com, NTT – Tenaga listrik masih menjadi persoalan bagi sejumlah daerah di pelosok Indonesia. Belum semua wilayah atau desa di pedalaman Indonesia yang teraliri listrik. Padahal keberadaan listrik bisa membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kondisi inilah yang dialami warga Desa Bea Muring, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Di desa ini masyarakat memanfaatkan listrik hasil swadaya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang dibangun sejak 2012 silam.

Dari pemantauan Brilio.net yang berkesempatan mengunjungi desa ini, warga di desa ini mendapatkan pasokan listrik secara terbatas. Jika musim kemarau mereka hanya bisa menikmati listrik mulai dari pukul 19.00 Wita hingga pukul 22.00 Wita. Itu pun hanya digunakan untuk penerangan saja. Ketika musim hujan, mereka bisa menikmati listrik lebih lama, mulai dari pukul 19.00 Wita hingga pukul 01.00 Wita.

“Masalahnya ketika musim kemarau pasokan air yang menggerakkan turbin pembangkit sangat kecil. Jadi kapasitas listrik yang dihasilkan juga sedikit,” ujar Romo Marselus Hasan, pastor yang melayani Paroki Santo Damian sejak Juni 2011 silam saat menerima 10 Sobat Air ADES yang mengikuti kegiatan Conservacation di desa itu, dilansir dari Brilio.net (07/07/2019).

Romo Marselus yang dinobatkan sebagai Pejuang Air ADES pada Mei 2018 menjelaskan, sejak dirinya menginjakkan kaki di Desa Bea Muring ia melihat banyak warga kesulitan pasokan listrik. Penerangan sangat minim. Ketika itu memang ada aliran listrik yang dihasilkan dari generator bertenaga mesin.

Hanya saja pasokannya terbatas. Aliran listrik cuma berlangsung empat jam mulai pukul 18.00 waktu setempat sampai pukul 22.00. Setelah itu listrik padam. Selain itu, masyarakat setiap hari harus merasakan “raungan” suara mesin ang bising. Belum lagi polusi yang muncul akibat proses pembakaran mesin. Cilakanya, mesin generator seringkali rusak.

Persoalan lain yang dialami masyarakat, untuk satu rumah warga mesti mengeluarkan uang Rp 30 ribu setiap hari untuk membeli bahan bakar generator. Dalam sebulan mereka harus merogoh kocek sekitar Rp 900 ribu. Padahal listrik hanya digunakan untuk penerangan. Sementara warga yang memanfaatkan listrik ada sekitar 50 kepala keluarga (KK). Artinya, dalam sebulan warga Desa Bea Muring menghabiskan Rp 45 juta hanya untuk penerangan. Sementara penghasilan mereka hanya di kisaran Rp500 per bulan.

“Ini yang dikeluhkan warga. Mereka banyak hidup dalam hutang karena jumlah pengeluaran lebih besar dari yang mereka dapatkan, minus,” jelas Romo Marsel, begitu Romo Marselus Hasan biasa disapa.

Romo Marsel pun memutar otak bagaimana menemukan solusi atas masalah yang dihadapi warga. Akhirnya dia menemukan jawaban setelah seorang teknisi melakukan perbaikan generator. Romo Marsel pun tahu jika Desa Bea Muring memiliki cukup air yang bisa dimanfaatkan untuk penerangan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air.

“Saya mengumpulkan informasi terkait Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), termasuk dari dunia maya sekalipun harus pergi ke Ruteng untuk mendapatkan akses internet,” katanya.

Dari pencarian di dunia maya itulah ia menemukan Budi, pria asal Solo, Jawa Tengah yang sudah lama berkecimpung mengembangkan listrik tenaga air. Dia pun mendapat respons ketika mengajukan pertanyaan. “Lalu kami berdiskusi lewat telepon bagaimana membangun listrik tenaga air di tempat kami,” kenang Romo Marsel.

Ternyata dibutuhkan dana yang cukup besar. Lewat dewan paroki, Romo Marsel pun mengajak masyarakat untuk terlibat demi mewujudkan ide tersebut. Tapi nggak gampang meyakinkan masyarakat. Ada juga yang menolak rencana ini termasuk dari dewan paroki.

Banyak warga yang ragu akan rencana ini karena mereka belum melihat seperti apa bentuk PLMTH itu. Romo Marsel mengatakan kepada warga jika ragu maka dia akan mencari orang lain yang mau terlibat. Romo Marsel terus berupaya meyakinkan warga, termasuk memperlihatkan video keberhasilan PLMTH yang diambil dari Youtube.

Setelah dikalkulasi ternyata untuk membangun PLTMH dibutuhkan dana lebih dari Rp 2 miliar. Itu pun di luar sumbangan masyarakat. Nah untuk mereka yang setuju diminta mengumpulkan dana Rp 2 juta setiap KK. Tentu saja jumlah ini cukup besar.

“Tapi karena bekerjasama dengan koperasi, maka warga bisa menyicilnya. Biaya pembangunan PLTMH menggunakan dana talangan,” jelas Romo Marsel.

Namun tantangan Romo Marsel belum tuntas. Di tengah perjalanan membangun PLMTH, dari 280 KK yang awalnya terlibat, separuhnya mengundurkan diri. Hanya tersisa sekitar 136 KK saja.

Tapi Romo Marsel dan warga tak mau menyerah. Pembangunan PLMTH pun dimulai pada Juni 2012. Selama 76 hari mereka mengerjakan proyek ini. Sambil mengerjakan proyek ini, Romo Marsel dan warga terus mencari bantuan dari pihak luar.

Lewat kerja keras dan pantang menyerah, akhirnya sejumlah lembaga mulai dari perbankan, lembaga donor hingga lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yakni United Nations Development Programme (UNDP) turut membantu. Pada 12 Oktober 2012, PLTMH resmi beroperasi. Dengan PLTMH ini masyarakat hanya mengeluarkan dana sekitar Rp 100 ribu setiap bulan untuk biaya perawatan.

Sekarang PLTMH tak hanya dibangun di Desa Bea Muring, tapi juga di desa sekitarnya. Sedikitnya sekitar 1.290 KK bisa merasakan manfaat listrik swadaya itu. Keberadaan PLTMH tentu saja menghemat pengeluaran warga desa, bahkan hingga ratusan juta rupiah yang dulunya dimanfaatkan untuk membeli bahan bakar generator.

“Secara sosiologis pembangunan PLTMH ini membangun kembali semangat gotong royong warga. Selain itu, secara lingkungan pembangkit ini juga lebih ramah lingkungan dan tidak berisik,” jelas Romo Marsel.

Kini warga Desa Bea Muring dan sekitarnya bisa memanfaatkan listrik berbiaya murah meski masih terbatas. Ini berkat perjuangan Romo Marsel dan warga yang ingin taraf hidupnya lebih meningkat dengan keberadaan listrik. Mereka pun bisa lebih produktif. (Uli)