Perjuangan Bidan Norbayah, Taklukan Medan Terjal Demi Melayani Masyarakat Pelosok

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Minggu, 7 Juni 2020
KONTEN MILIK PIHAK KETIGA. BERISI PRODUK BARANG, KESEHATAN DAN BERAGAM OBAT KECANTIKAN. MARI JADI PENGGUNA INTERNET SEHAT DAN CERDAS DENGAN MEMILAH INFORMASI SESUAI KATEGORI, USIA DAN KEPERLUAN.
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Bidan merupakan orang yang berjasa membantu kelahiran ibu dan buah hati. Tak hanya bertugas di rumah sakit dan klinik, bidan juga ada yang bertugas di pedesaan.

Salah satunya bidan Norbayah. Norbayah bertugas di sebuah desa terpencil di Tabalong. Untuk menuju ke desa tersebut, Norbayah harus melewati jalan terjal dan licin.

Berikut ulasan lengkapnya yang dilansir dari Merdeka.com (05/06/2020).

Bidan di Daerah Pelosok

Melalui unggahan channel Youtube TV TABALONG di tahun 2018, terdapat kisah inspiratif dari seorang bidan di pelosok. Ia adalah Norbayah Hendri. Setiap harinya, Norbayah bertugas melayani masyarakat di Desa Panaan, Tabalong.

Norbayah juga merupakan anggota Bhayangkari Ranting Jaro Cabang Tabalong. Suami Norbayah berdinas di Polsek Jaro, Polres Tabalong.

Minim Fasilitas dan Tempat Kurang Memadai

Norbayah telah mengabdi di daerah tersebut lebih dari empat tahun. Meski minim fasilitas dan tempat yang kurang memadai, ia tetap bersemangat melayani masyarakat pelosok.

“Saya bekerja di sini sudah kurang lebih empat tahun melayani masyarakat di Desa Panaan, dari tahun 2013 sampai sekarang. Walaupun dengan keadaan jalan ataupun keadaan listrik dan keadaan fasilitas dan tempat yang kurang memadai, saya tetap melayani masyarakat dengan baik,” kata Norbayah.

Waktu untuk Pulang Tak Menentu

Mengabdi di daerah pelosok membuat Norbayah harus rela meninggalkan rumah untuk sementara. Norbayah mengatakan jika waktunya pulang tidak menentu, tergantung kondisi jalan dan cuaca juga.

“Biasanya saya di sini, satu minggu di sini, nanti dua atau tiga hari saya pulang ke tempat suami saya. Karena suami saya itu bekerja di luar sana dan enggak bisa ikut ke sini, jadi seminggu pulang,” kata Norbayah.

“Kadang lebih dari seminggu kalau misalnya kena musim hujan itu kan enggak bisa ke Muara Uya ya terpaksa ditunda dulu, kadang dua minggu baru bisa pulang ke sana. Saya menetap di desa ini ya kurang lebih kalau dalam sebulan itu tiga minggu,” imbuhnya.

Taklukan Medan Terjal dan Licin

Untuk menuju ke Desa Panaan bukan lah hal yang mudah. Norbayah harus melewati medan terjal dan licin.

Terlebih jika musim hujan tiba. Jalan pun akan menjadi licin dan sulit untuk dilewati.

“Kalau dari rumah saya, dari ke Muara Uya ke Tanjung itu sudah satu jam. Terus dari Tanjung ke sini itu kurang lebih kalau jalannya itu bagus, itu bisa ditempuh selama dua jam. Tapi kalau jalannya itu basah atau kena hujan, itu bisa ditempuh kurang lebih tiga sampai empat jam,” kata Norbayah.

“Medan yang dilalui itu sangat sulit, karena akses jalannya juga masih kerikil bercampur tanah liat. Jadi kalau sedikit aja kena guyur hujan pasti langsung becek dan licin. Jadi medannya itu sangat sulit sekali untuk dicapai, untuk menuju ke Desa Panaan ini,” lanjutnya.

Motivasi Bidan Norbayah

Meski harus melewati jalanan yang terjal dan licin, Norbayah tetap bersemangat dalam melayani masyarakat. Ia memiliki sebuah motivasi.

“Dengan keyakinan, dengan keikhlasan, dengan kesabaran, dengan niat kita untuk menolong masyarakat yang tinggalnya di pedesaan terpencil itu, maka dari situ lah semangat saya untuk berani, untuk maju, untuk berjuang bisa sampai ke Desa Panaan ini. Walaupun tanpa suami, tanpa orang lain, saya tetap semangat demi masyarakat yang membutuhkan saya di sini,” ungkap Norbayah. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: