Perjalanan Barbie Hingga Laris Manis Terjual

Sabtu, 27 Februari 2016

Indolinear.com, New York – Pada tahun 1959, tercatat sebagai momen penjualan perdana boneka Barbie yang kemudian laris manis di pasaran. Ketika itu mainan anak-anak tersebut dipamerkan di Amerika Toy Fair di New York City.

Barbie yang hadir dengan tinggi tubuh sekitar 27 cm dan berambut pirang berombak itu, adalah boneka mainan menyerupai sosok dewasa pertama yang diproduksi secara massal di Amerika Serikat.

Tahukah Anda siapa di balik mainan cantik itu?

Sosok di balik munculnya Barbie adalah Ruth Handler. Wanita ini merupakan salah satu pendiri perusahaan mainan Mattel, Inc bersama sang suami pada tahun 1945.

Inspirasi menciptakan Barbie muncul ketika Ruth melihat anak perempuannya mengabaikan boneka bayi, dan memilih untuk bermain boneka kertas dengan sosok wanita dewasa. Sejak saat itu, ia menyadari bahwa gadis-gadis kecil seperti buah hatinya itu membayangkan masa depan melalui mainannya.

Ruth pun beranggapan ada pasar besar dari penjualan mainan anak-anak seperti itu.

Penampilan Barbie berasal dari karakter wanita dalam komik Jerman bernama Lilli yang dibuat dalam bentuk boneka. Awalnya benda itu dipasarkan sebagai hadiah untuk pria dewasa di toko-toko rokok, namun secara tak terduga kemudian justru sangat populer di kalangan anak-anak.

Melihat peluang tersebut, perusahaan mainan Mattel akhirnya membeli hak paten untuk boneka Lilli dan membuat versi sendiri. Ruth pun memberinya nama dengan panggilan putrinya, Barbara.

Dengan sponsor dari program TV ‘Mickey Mouse Club’ pada tahun 1955, Mattel — yang menjadi perusahaan mainan pertama untuk menyiarkan iklan untuk anak-anak– menggunakan media tersebut untuk mempromosikan mainan baru mereka.

Pada 1961, permintaan konsumen yang sangat besar untuk boneka Barbie menjadi pemicu munculnya sang kekasih. Ruth menamainya Ken, seperti nama putranya.

Lalu setelah itu diproduksi sahabat Barbie, Midge pada tahun 1963; berlanjut dengan adiknya, Skipper pada tahun berikut.

Selama bertahun-tahun, Barbie menghasilkan penjualan besar dan menguntungkan. Meski banyak kontroversi yang menguntit.

Orang-orang yang mengambil sisi positif terhadap Barbie menilai boneka itu justru menjadi alternatif permainan peran pada era 1950. Sebab mainan itu hadir dalam serangkaian pekerjaan berbeda, dari pramugari, dokter, pilot dan astronot, atlet Olimpiade dan bahkan calon presiden AS.

Sementara yang lain mengritik gaya Barbie, mengenakan pakaian mahal ala desainer, mobil dan rumah idaman bisa mendorong anak-anak menjadi materialistis. Pinggang mungil dan payudara besar sosok Barbie juga dinilai bisa membuat anak-anak perempuan memiliki angan-angan bentuk tubuh tak realistis.

Meskipun banyak mendapat kritik, penjualan merchandise terkait Barbie terus meledak di pasaran. Bahkan hingga meraih keuntungan 1 miliar dolar per tahun pada tahun 1993.

Sejak tahun 1959, lebih dari 800 juta boneka keluarga Barbie telah terjual di seluruh dunia. Semua anak pasti mengenal Barbie. (uli)

 

Sumber: Liputan6.com

loading...