Perhatian Pemerintah Menjadi Kunci Sukses Indonesia Di Paralimpiade Tokyo

FOTO: kompas.com/indolinear.com
Kamis, 9 September 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Ketum NPC Indonesia, Senny Marbun, mengatakan perhatian pemerintah menjadi kunci kesuksesan kontingen Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020.

Hal ini tak terlepas karena pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memberikan perhatian penuh terhadap atlet disabilitas.

Senny Marbun pun memuji Menpora Zainudin Amali yang telah memberikan kelonggaran kepada atlet NPC Indonesia untuk mengikuti berbagai event internasional.

Sehingga, tim Merah Putih bisa meloloskan 23 atlet ke pesta olahraga terbesar untuk atlet disabilitas di dunia tersebut.

“Prestasi tahun ini merupakan pencapaian yang luar biasa,” kata Senny dalam sambutan kepulangan kloter terakhir kontingen Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (7/9/2021) dini hari WIB, dikutip dari Kompas.com (08/09/2021).

“Tanpa campur tangan Kemenpora, tidak mungkin prestasi ini bisa tercapai. Kami juga mengucapkan terima kasih atas dukungan dan doa rakyat Indonesia,”

Pada kesempatan yang sama, Senny Marbun juga berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang turut memberikan dukungan luar biasa terhadap atlet disabilitas.

“Saya ucapkan banyak terima kasih khususnya kepada bapak Presiden Joko Widodo yang menjadi ujung tombak kami sehingga bisa mengukir prestasi luar biasa ini,” lanjutnya.

“Karena di era kepemimpinan Pak Jokowi, NPC bisa setara dengan yang non-difabel. Hal itu memicu semangat kami untuk meraih keberhasilan yang luar biasa,” jelas Senny.

Pernyataan Senny Marbun tak terlepas dari pencapaian kontingen Indonesia yang berhasil melampaui target di Paralimpiade Tokyo 2020.

Sebelum berkompetisi di Tokyo 2020, tim Merah Putih menetapkan empat target. Semula, Indonesia menargetkan 15 atlet pada enam cabang olahraga untuk Paralimpiade Tokyo.

Setelah mengikuti serangkaian kualifikasi, jumlah tersebut meningkat menjadi 23 atlet yang bersaing pada tujuh cabang olahraga.

Kemudian, Indonesia menargetkan satu emas, satu perak, dan tiga perunggu serta finis di posisi 60 besar.

Setelah berjuang, kontingen Tanah Air berhasil membawa pulang sembilan medali dengan rincian dua emas, tiga perak, dan empat perunggu.

Alhasil, tim Merah Putih finis di peringkat ke-46 dalam klasemen akhir Paralimpiade Tokyo.

Pencapaian tersebut meningkat pesat dibanding Paralimpiade Rio 2016 di mana Indonesia hanya meraih satu perunggu dan finis di posisi ke-76.

Satu emas Indonesia lain juga dituai oleh Leani Ratri Oktila yang berpasangan dengan Hary Susanto di nomor ganda campuran SL3-SU5.

Leani juga memenangkan medali perak di nomor tunggal putri SL4 yang membuatnya secara keseluruhan meraih tiga medali di Paralimpiade Tokyo.

Sementara, dua perak Indonesia lain dipersembahkan oleh lifter putri Ni Nengah Widiasih (angkat besi, 41kg putri) dan Dheva Anrimusthi (badminton, tunggal putra SU5).

Medali perunggu di antaranya lahir dari cabor badminton melalui Freddy Setiawan (tunggal putra SL4) dan Suryo Nugroho (SU5).

Kemudian, perunggu juga direbut oleh David Jacobs (tenis meja, tunggal putra TT10) dan Saptoyoga Purnomo (atletik, lari 100m putra T37).

Kontingen Merah Putih akan disambut Presiden Joko Widodo di istana usai menjalani karantina. (UlI)