Perebutan Kekuasaan Picu Pertempuran Dua Dinasti Di China

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Rabu, 3 November 2021
loading...

Indolinear.com, Beijing – Pada hari ini tahun 1363, terjadi sebuah pertempuran dahsyat antara dua pimpinan dinasti Tiongkok, Chen Youliang dan Zhu Yuannzhang.

Perang itu dimulai pada pertengahan Abad ke-14. Kala itu penguasa-penguasa China tidak mengakui kekuasaan Dinasti Yuan yang merupakan bangsa Mongolia.

Mereka menganggap kepemimpinan kekaisaran tersebut sebagai tentara kependudukan asing, bukan bagian dari dinasti Tiongkok.

Seiring dengan berjalannya waktu, Dinasti Yuan mengalami kemerosotan. Mulai banyak kelompok yang ingin menjatuhkan kerajaan Mongolia tersebut.

Akhirnya dengan melemahnya kekuatan kerajaan itu, kelompok pemberontak memanasi keadaan dengan mencoba menggulingkan dinasti tersebut.

Seperti yang dikutip dari Liputan6.com (01/11/2021), ada dua kelompok pemberontak yang sangat mencolok kala itu. Grup yang dipimpin oleh Zhu Yuanzhang dari Dinasti Ming, dan Chen Youliang, dari Dinasti Han.

Namun karena letak kerajaan yang berada di luar wilayah China, Han dan Ming menyadari mereka tidak dapat mewarisi takhta dengan cara ‘normal’. Kedua pimpinan dinasti itu memutar otak, mencari tahu bagaimana caranya mengambil alih kekuasaan.

Akhirnya Yuanzhang dan Youliang menemukan solusinya. Mereka harus menentukan siapa yang lebih kuat.

Oleh karena itu Youliang dan Yuanzhang kemudian berperang, untuk mengetahui siapa yang yang lebih berhak menguasai China.

Pertempuran Sengit

Han mulai mengepung wilayah air Ming yang berada di Kota Nanchang. Pimpinan dinasti itu, Youliang, mengepung daerah itu dengan menggunakan kapal ‘benteng’ yang dikenal dengan sebutan ‘menara kapal’.

Kapal yang terbuat dari besi berlapis baja itu sekaligus dijadikan sebagai tembok pertahanan mereka. Kuat, tapi kurang cepat.

Awalnya Dinasti Ming kewalahan menghadapi serangan dari Han. Hal itu disebabkan karena terlambatnya armada mereka datang untuk memperkuat kota.

Setelah bala bantuan tiba, kapal angkatan laut Han yang dari segi ukuran lebih kecil dari Ming, menyerang balik dan berhasil membuat kapal raksasa yang menjulang itu kewalahan.

Ukuran kapal yang kecil dan kedangkalan air akibat musim panas, membuat angkatan laut Han unggul dan diuntungkan oleh situasi tersebut.

Sementara itu, menyadari ketidakberuntungan mereka, armada Ming memilih mundur ke tepi Danau Puyong.

Hari pertama pertempuran berlalu. Pada keesokan harinya perang kembali berlanjut. Dengan memanfaatkan arah angin, Ming menggunakan perahu ‘tembak’ yang berisikan bubuk mesiu, jerami, dan umpan.

Perahu itu dilayarkan menuju angkatan laut Han yang telah membentuk formasi pertahanan. Diuntungkan oleh arah angin, perahu api yang dikirimkan oleh Han berhasil meledak setelah mendekati pertahanan dan menghancurkan kapal perang Dinasti Ming.

Akibatnya Ming harus melakukan perbaikan terlebih dahulu. Setelah satu hari membangun kembali armada mereka, Ming melakukan serangan balik.

Serangan balik itu melemahkan formasi tempur Han. Beberapa kapal perangnya bahkan berhasil dikuasai oleh musuh.

Perang tersebut berlangsung tampa henti selama 5 hari. Akhirnya pada tanggal 4 Oktober, pimpinan Dinasti Han, Youliang, tewas akibat panah yang menancap di kepalanya.

Tanpa adanya pemimpin mereka, Han menyerah. Pimpinan Min, Yuangzhang pun mendeklarasikan dirinya sebagai pimpinan tertinggi kedua kelompok itu.

Sekitar 5 tahun kemudian, setelah Dinasti Yuan hancur, Yuangzhang naik takhta menjadi Kaisar China. Masa pemerintahannya, Dinasti Ming, merupakan salah satu dari kekaisaran terhebat China. (Uli)