Penyebab Sejumlah Orang Rentan Mengalami Mabuk Perjalanan Dan Cara Mengatasinya

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Senin, 20 Desember 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Bepergian baik melalui darat, laut, atau udara bisa menimbulkan sebuah masalah yang khas dan dikenal sebagai mabuk perjalanan. Kondisi ini bisa dialami baik oleh orang dewasa maupun anak-anak.

Dilansir dari Merdeka.com (18/12/2021), disebut bahwa bercampurnya sinyal yang diterima oleh otak dan apa yang kamu lihat merupakan penyebab terjadinya mabuk perjalanan ini. Dr. Edwin Chng, Medical Director di Parkway Shenton, Singapura, memberi contoh bahwa melihat feed di Instagram, di smartphone ketika berada di mobil yang berjalan dan kereta bisa jadi salah satu penyebabnya.

“Kamu merasa seperti tengah bergerak namun mata memberi sinyal ke otak bahwa kamu tidak ke mana-mana karena smartphone-mu tampak tak bergerak. Konflik sinyal yang terjadi ini merupakan hasil dari gejala mabuk perjalanan,” jelas Dr Chng.

“Pada sisi lain, ketika kamu melihat ke luar jendela dan melihat pemandangan yang bergerak, sinyal dari telinga dan mata berjalan seiring, sehingga tidak ada gejala mabuk perjalanan yang dialami,” sambungnya.

Lalu mengapa kamu bisa lebih rentan mengalami mabuk perjalanan dibanding orang lain? Selain karena pikira, salah satu hal yang disebut Dr. Chng bisa jadi penyebab hal ini adalah genetik.

“Sejumlah varian genetik tertentu telah dihubungkan dengan meningkatnya kemungkinan mengalami mabuk perjalanan,” jelasnya.

Beberapa Orang Lebih Rentan Alami Mabuk Darat

Namun ada hal lain yang disebut bisa menyebabkan seseorang lebih rentan terhadap mabuk perjalanan ini. Hal ini justru tidak dapat diatasi oleh seseorang.

“Beberapa orang cenderung lebih sensitif terhadap gerakan dibanding yang lain,” jelas Timothy Hain, profesor di Northwestern University.

Hormon bisa jadi biang keladi dari terjadinya mabuk perjalanan ini. Masalah ini menyebabkan wanita lebih rentan karena mereka cenderung lebih banyak mengalami perubahan hormon seperti hamil, menstruasi, atau menggunakan obat kontrasepsi sehingga lebih rentan mengalami mabuk perjalanan.

Hal lain yang harus menjadi perhatian adalah jika kamu memiliki migrain. Seseorang yang lebih sering sakit kepala dan migrain, disebut Dr. Chng lebih rentan mengalami mabuk perjalanan.

Bagi orangtua yang bepergian dengan anak-anak, terdapat saran yang diberikan oleh Dr. Chng untuk mengatasi mabuk perjalanan ini. Disebut bahwa anak dengan usia di bawah dua tahun biasanya lebih tahan dengan mabuk perjalanan.

“Kejadian ini biasanya memuncak pada usia sembilan tahun dan menurun seiring bertambahnya usia,” jelas Dr. Chng.

Otak Bisa Dilatih untuk Mencegah Mabuk Perjalanan

Diketahui bahwa latihan olahraga visuospasial bisa membantu mengatasi masalah ini. Berdasar percobaan, penelitian yang dilakukan di University of Warwick ini bisa menurunkan risiko mabuk perjalanan hingga lebih dari 50 persen.

Partisipan penelitian ini mencoba alat bernama WMG 3xD simulator. Kondisi simulasi yang muncul ini serupa dengan ketika mereka menjadi penumpang kendaraan terutama kendaraan tanpa pengemudi.

Dr. Joseph Smyth, dari WMG, University of Warwick, mengatakan bahwa hal ini sangat penting bagi masa depan. Terutama ketika semakin banyak orang yang akan naik kendaraan terutama yang tanpapengemudi.

Selama ini, mabuk perjalanan walau merupakan sebuah hal yang banyak dialami namun tidak banyak penelitian yang membahas dampaknya. Hasil temuan ini dianggap sebagai sebuah hal yang penting dan akan dikembangkan lebih lanjut.

“Sangat mungkin bahwa metode ini bisa digunakan dalam hal lain seperti mabuk laut pada staf pelayaran atau penumpang,” terang dr. Smyth.

“Kami juga sangat tertarik untuk menerapkan temuan ini pada penggunaan di Virtual Reality,” tandasnya. (Uli)