Penyebab Nokturia, Kondisi Yang Menyebabkan Terbangun Untuk Buang Air Kecil

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Minggu, 27 Desember 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Terbangun untuk buang air kecil di malam hari merupakan salah satu gangguan tidur yang dialami banyak orang. Kondisi ini dikenal sebagai nokturia dan perlu disikapi dengan waspada.

Nokturia didefinisikan sebagai berapa kali seseorang berkemih dalam periode tidur utamanya, saat seseorang terbangun dari tidurnya untuk berkemih pertama kali dan setiap berkemih selanjutnya harus diikuti tidur atau keinginan untuk tidur.

Harrina Erlianti Rahardjo, Ketua Indonesian Society of Female and Functional Urology, mengatakan bahwa ada beberapa penyebab mengapa nokturia bisa dialami oleh seseorang.

Harrina mengungkapkan bahwa kelainan saluran kemih bagian bawah, gangguan ginjal, hormonal, tidur, jantung dan pembuluh darah, psikologis, dan diet dapat menjadi penyebabnya.

“Biasanya memang kita curigai adanya (gangguan) prostat, kandung kemihnya over-aktif, jadi sedikit-sedikit mau kencing, termasuk malam hari. Bisa juga ada kelainan persarafan yang menyebabkan sisa kencingnya banyak sehingga harus bolak-balik ke kamar mandi termasuk malam,” kata Harrina, dilansir dari Merdeka.com (25/12/2020).

Masalah lain yang dapat menyebabkan nokturia misalnya penyakit ginjal, hormon, diabetes, menopause, gangguan tidur seperti mengorok.

“Untuk penyakit jantung, yang memerlukan obat-obatan yang membuat kencing jadi banyak, juga bisa timbul keluhan nokturia,” kata Harrina yang juga Staf Medis Departemen Urologi FKUI-RSCM tersebut.

Penting untuk Lakukan Pemeriksaan

Faktor lain yang juga dapat menimbulkan nokturia adalah asupan air minum sebelum tidur. Harrina mengungkapkan, beberapa pasien mengatakan bahwa sebelum tidur malam, mereka mengonsumsi banyak air dengan alasan agar tidak kekurangan cairan.

“Ini semua hal yang harus kami gali saat pasien datang meminta evaluasi untuk gejala nokturianya,” terangnya.

Nokturia adalah masalah yang harus mendapatkan pemeriksaan oleh dokter. Hal ini karena dapat mengganggu kualitas tidur seseorang.

Saat pemeriksaan, umumnya dokter akan melakukan wawancara mengenai gejala nokturia, gejala saluran kemih bagian bawah lain, dan berbagai hal yang dapat menyebabkan nokturia.

“Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi pemeriksaan berat badan, tinggi badan, tanda vital, jantung, paru-paru, pembesaran liver dan kandung kemih yang penuh, pemeriksaan prostat dan organ panggul serta pembengkakkan pada tungkai atau mata kaki,” kata Harrina.

Pemeriksaan penunjang yang biasa dilakukan juga meliputi pemeriksaan protein spesifik antigen (PSA) untuk prostat, fungsi ginjal, elektrolit darah, gula darah, dan juga analisis urine.

“Bila diperlukan pemeriksaan hormon seks, fungsi tiroid, sisa urine pasca berkemih, dan elektrokardiogram dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis nokturia dan penyebabnya,” jelasnya. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: