Penyandang Tunanetra, Tak Pernah Makan Pakai Lauk demi Kuliahkan Anaknya

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Kamis, 27 Agustus 2020
loading...

Indolinear.com, Banjarmasin – Meski memiliki keterbatasan, Khairani punya keinginan tinggi untuk menyukseskan anaknya. Sebagai tunanetra, pria 54 tahun ini hanya memiliki keahlian sebagai tukang pijat. Kini, ia sedang berusaha menguliahkan anak semata wayangnya di Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur.

Rona kebahagiaan jelas terpancar dari wajah Khairani. Sebab, baru-baru ini, dia bersama puluhan penyandang tunanetra lainnya menerima bantuan rumah dari Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarbaru di kompleks disabilitas Netra, di Jalan Trikora.

Dilansir dari Liputan6.com (25/08/2020), dia mengaku bersyukur, akhirnya memiliki tempat tinggal tanpa harus membayar sewa. Sebab, selama ini dirinya mengontrak di Jalan Garuda, Landasan Ulin, dengan biaya sewa Rp 450 ribu per bulan.

“Kalau saya sudah tidak bayar kontrakan, uang yang saya kirim ke anak bisa lebih banyak,” katanya.

Setiap pekan, dirinya harus mengirim uang ke anaknya Muliana, 18, yang kini sedang kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya jurusan hukum. Dia bersama istrinya Jamiah, 54, rela makan tanpa lauk asalkan keperluan putrinya tercukupi.

“Untungnya, dia tinggal di asrama yang dibiayai Pak Wali Kota. Jadi, uang yang kami kirim hanya untuk makan dan bayar kuliah,” ungkap Khairani.

Ditambahkannya, jumlah uang yang dia kirimkan pun bervariasi setiap pekannya. Kadang sedikit, ada kalanya banyak. Sesuai dengan penghasilan yang dia dapatkan sebagai tunanetra tukang pijat.

“Dalam sehari rata-rata saya mendapatkan satu orang pasien pijat. Ada yang ngasih saya Rp 50 ribu, ada juga Rp 70 ribu. Berapa pun yang saya dapatkan, saya hanya mengambilnya Rp 20 ribu untuk belanja. Sisanya saya kirim untuk anak,” tambahnya.

Selain memiliki keahlian memijat, Khairani juga punya kemampuan memperbaiki alat elektronik. Seperti televisi dan kulkas. Melalui, keahliannya itu, dirinya bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

“Tapi jarang ada yang mau servis, jadi pendapatan yang bisa diandalkan hanya dari pijat,” tuturnya.

Khairani sendiri sudah menjadi tukang pijat sejak berusia 20 tahun. Keahlian itu dia dapatkan dari orangtuanya. “Walau pendapatannya kecil, tapi selama ini cukup untuk menghidupi keluarga saya,” kata pria kelahiran Rantau, Kabupaten Tapin ini.

Melihat kondisinya saat ini, penyandang tunanetra itu sebenarnya tidak yakin dapat menguliahkan anaknya hingga lulus. Apalagi, anaknya baru kuliah semester empat. Namun, lantaran keinginannya membuat buah hatinya sukses sangat besar. Maka rasa pesimis itu dia singkirkan.

“Yang penting usaha dulu, apa pun hasilnya kita lihat nanti,” pungkasnya. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: