Penyakit Di Balik Tertawa Tokoh Joker Yang Diperankan Joaquin Phoenix

FOTO: bbc.com/indolinear.com
Rabu, 16 Oktober 2019

Indolinear.com, Jakarta – Gugup dengan wajah ketakutan dan suara yang pecah, Arthur Fleck berusaha tetap tenang sebelum memulai pertunjukannya di klub komedi Gotham City.

Tetapi bagi Joker, nama panggilan yang lebih disukainya, kata-kata tidak bisa keluar dengan mudah. Ketika dia berusaha berbicara, yang keluar dari mulutnya adalah tawa yang tajam dan dipaksakan, yang tidak bisa ia kendalikan.

Tertawa terkekeh-kekeh yang sama mewakili karakter pada adegan terpenting dalam film Joker yang mulai tayang di bioskop bulan ini, dilansir dari Bbc.com (15/10/2019).

Ketika pulang ke rumah dari tempat kerja di kereta bawah tanah dan masih memakai pakaian badut, Fleck secara tidak sengaja menjadi saksi pelecehan terhadap seorang perempuan oleh tiga pria muda dan kaya. Serangan ini membuatnya tertawa.

Perkelahian

Karena mengira Fleck menertawakan mereka, para pria muda tersebut memukulinya. Dia kemudian mengeluarkan pistol dari saku dan menembak mati mereka.

Saat itu para penonton sudah mengetahui bahwa Fleck menderita penyakit jiwa yang tidak disebutkan namanya.

Untuk mengatasi berbagai gejalanya, Fleck memakan tujuh macam obat, menulis buku harian, dan secara teratur bertemu pekerja sosial.

Tetapi apakah memang terdapat penyakit yang menyebabkan orang tertawa karena gugup?

Karakter yang diperankan Joaquin Phoenix di film tersebut, kemungkinan menderita epilepsi gelastik – dari kata Yunani untuk tertawa, gelastikos.

“Ini adalah jenis kejang yang jumlah kasusnya sebesar 0,2% dari keseluruhan jenis kekejangan,” kata Francisco Javier Lopez, koordinator Kelompok Kajian Epilepsi Masyarakat Neurologi Spanyol.

“Ini adalah tertawa yang terjadi secara tidak pantas. Penderitanya tidak menyukainya, tetapi dia tidak bisa mengontrolnya,” Lopez menambahkan.

Penyebab terbesar dari epilepsi jenis ini adalah tumor kecil otak, hypothalamic hamartoma.

Tumor ini mempengaruhi hypothalamus, bagian otak yang mengendalikan berbagai fungsi penting, mulai dari pengaturan suhu tubuh sampai ke respons emosi.

Stres tambahan

Tetapi tertawa dapat juga dipicu oleh tumor di bagian depan lobus otak.

Biasanya pasien seperti ini mengalami kejang-kejang.

“Kejang gelastik menimbulkan stres tambahan, karena jika seseorang mengalami kejang umum dan kehilangan kesadaran, maka tidak akan terjadi apapun,” kata Lopez.

“Tetapi jika Anda sadar dan tertawa di situasi yang tidak patut, ini akan membuat Anda sangat menderita.”

Jenis epilepsi ini biasanya dikontrol obat antiepilepsi dan dalam beberapa kasus dilakukan pembedahan.

Jika tidak dirawat, pasien kemungkinan akan kejang setiap hari. Sementara jika dikontrol serangan dapat dikurangi menjadi satu atau dua kali sebulan, atau bahkan sama sekali menghilang.

Lopez mengatakan adalah lebih umum bagi masalah ini terjadi di antara pasien dewasa dibandingkan anak-anak atau remaja.

Serangan ini juga dapat mengisyaratkan demensia tahap dini.

Tetapi penyakit ini jarang terjadi, ahli syaraf di bagian atas tadi, baru menangani tiga pasien dengan gejala seperti ini.

Salah satunya adalah seorang pengacara yang bekerja di ruang sidang, dan “sebelum sidang dimulai, dia harus memperingatkan hakim bahwa dirinya menderita kelainan ini dan ada kemungkinan dirinya akan mengalami serangan, karena stres cenderung menjadi pemicunya.”

Terkait dengan kekerasan, yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan Arthur Fleck, Lopez mengatakan itu tidak ada hubungannya dengan penyakit ini.

Ketidakbahagiaan emosi

Di pihak lain, ahli syaraf menjelaskan, epilepsi gelastik bukanlah satu-satunya keadaan yang dapat menyebabkan tertawa tanpa kendali.

Terdapat juga pseudobulbar affect (PBA), yang dikenal juga sebagai ketidakbahagiaan emosi, yang dapat menyebabkan orang tertawa atau menangis.

“Istilahnya mengacu kepada ekspresi emosi yang tidak terkendali dan tidak patut jika dkaitkan dengan konteks sosial dan kemungkinan tidak sejalan dengan perasaan sebenarnya orang tersebut,” kata ahli psikologi syaraf Andy Tyerman.

“Seseorang kemungkinan juga terlihat sangat terganggu terkait dengan sesuatu yang sebelumnya hanya sedikit mengusiknya.”

Serangan PBA dikaitkan dengan penyakit dan cedera syaraf. Kajian tahun 2013 memperkirakan PBA diderita paling tidak 1,8 juta warga Amerika Serikat.

“Tetapi (serangan) ini lebih banyak terjadi pada pasien manula yang berpenyakit syaraf degeneratif,” kata Lopez.

“Mereka adalah pasien manula pada fase terakhir dari penyakitnya, yang pastinya bukanlah keadaan yang diderita Joker.” (Uli)

INDOLINEAR.TV