Penjual Takjil di Gorontalo, Puluhan Tahun Mengais Rezeki Dengan Sepeda Ontel

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Senin, 12 Oktober 2020
loading...

Indolinear.com, Gorontalo – Bulan suci Ramadan hendaknya tidak dijadikan sebagai bulan untuk bermalas-malasan, tetapi di samping meningkatkan iman dan takwa bulan tersebut juga dapat meningkatkan kinerja menjadi lebih baik. Bahkan, untuk sebagian orang, bisa pula dijadikan momentum untuk mengais rezeki.

Seperti yang dilakukan oleh Lipus Mahmud (53). Warga Kelurahan Kayubulan, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, ini sejak tahun 2001, memanfaatkan momentum bulan Ramadan untuk berjualan takjil, dengan mengelilingi wilayah Kecamatan Limboto yang merupakan ibu kota Kabupaten Gorontalo.

Ayah empat anak ini, dengan sepeda ontel tua miliknya, menjajakan kue-kue tradisional untuk makanan berbuka puasa warga sekitar.

Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 Wita, Lipus Mahmud mulai mengayuh sepeda tua yang selama ini setia menemani perjalanannya. Ia tidak memedulikan panas terik matahari yang menyengat kulit, ia pun tetap berpuasa. Tak sedikit pun hal ini menghanguskan semangatnya untuk menjual kue-kue tradisional hasil olahan istrinya.

Berbagai macam kue takjil olahan tradisional Gorontalo seperti onde-onde, apang colo, nagasari, dan popolulu yang dijual. Dahaga kian memuncak, tetapi sepeda ontel itu tetap melaju menyusuri setiap kelurahan di Kecamatan Limboto.

Pria bertubuh kurus ini beberapa kali berhenti sejenak untuk beristirahat. Hal itu dikarenakan lutut kakinya mulai terasa nyeri, akibat penyakit rematik yang dideritanya sejak lama.

Tapi lagi-lagi, kegigihan dan semangatnya mengalahkan segalanya, mengingat sang istri beserta keempat anaknya sedang menunggu kehadirannya di rumah. Ia mengaku sudah sejak lama melakoni hal tersebut, sehingga ia sudah terbiasa mengayuh sepeda menjajakan takjil di tengah terik matahari.

“Ini memang sudah profesi saya dari tahun 2001, meskipun bukan bulan Ramadan saya tetap berjualan di rumah namun hanya gorengan, nanti saat Ramadan begini barulah saya keliling jualan takjil, untuk masalah lelah iya, tetapi ini memang sudah kewajiban menghidupi keluarga,” ungkap Lipus, dilansir dari Liputan6.com (10/10/2020).

Senyum Istri dan Anak-Anak Pengobat Lelah

Puluhan kilometer setiap hari jarak yang ia tempuh, menyusuri kelurahan-kelurahan dengan membawa ratusan kue berbagai jenis. Kue dagangannya dijual seharga seribu rupiah per biji. Dalam sehari, ia membawa sekitar tiga ratus biji per hari. Tak tanggung-tanggung, setiap hari sering kali dagangannya laris, meski beberapa kali juga masih tersisa.

“Alhamdulillah kadang laku semua, kadang juga tidak laku,” ujarnya dengan canda tawa.

Ia menambahkan, jika dagangan cepat laris, maka ia cepat pulang. Namun, jika dagangan masih tersisa, ia akan memilih terlambat pulang.

“Yang paling sedih ketika kalau masih belum laku, saya tetap berusaha setiap harinya laku agar saya bisa berbuka dengan keluarga,” ujarnya.

Lipus menambahkan ketika masuk pukul 17.00 Wita, ia langsung bergegas mengayuh sepedanya untuk pulang ke rumah. Jika ada kelebihan, ia selalu singgah membeli minuman es buah buat keluarganya di rumah.

“Pada saat sampai di rumah ketika melihat senyum istri dan anak-anak yang bahagia atas kedatangan saya, ada kenikmatan tersendiri yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata,” ujarnya. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: