Penjual Suvenir Di Kamboja Ini Dapat Tawaran Beasiswa

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Kamis, 23 Januari 2020
loading...

Indolinear.com, Kamboja – Jika seorang penjaja suvenir di tempat wisata bisa satu hingga dua bahasa untuk menarik turis asing membeli dagangannya, bukan hal yang aneh.

Namun, bagaimana jika penjaja suvenir ini bisa berbicara 12 bahasa dengan fasih ketika berdagang?

Ia adalah Thuch Salik, seorang anak laki-laki dari Kamboja yang sempat menjadi bintang internet di tahun 2018.

Salik adalah satu dari banyaknya anak-anak yang menjajakan suvenir simpel di depan pintu masuk dan keluar Angkor Wat.

Saat itu, Salik yang membawa banyak souvenir untuk diperjualbelikan di Angkor Wat direkam oleh seorang turis saat dia berbicara 12 bahasa.

Beberapa bahasa itu adalah Thailand, Kanton, Mandarin, Inggris, Malaysia, Jepang, Korea, Prancis, Spanyol, Jerman dan Filipina.

Video itu kemudian diunggah oleh travel blogger dari Malaysia, Venus Gwc di Facebook.

Saat itu, video tersebut dibagikan hingga 34 ribu kali, dilansir dari Tribunnews.com (22/01/2020).

Salik yang terlihat masih anak-anak itu kemudian dikenal banyak orang.

Kemampuannya berbicara 12 bahasa membuat banyak orang terkesima.

“Aku hanya bisa berbicara bahasa Mandarin, tapi aku tidak tahu bagaimana menulisnya. Aku ingin masuk ke universitas di Beijing,” ujarnya dalam video tersebut.

Selain berbicara bahasa Mandarin, ia juga sempat menyanyikan sepenggal bait lagu berbahasa Mandarin.

Tak hanya itu, ia juga sempat mengganti lirik dari ‘kami di sini menunggumu’ menjadi ‘kami di sini menjual barang untukmu’.

Bak durian runtuh, kepiawaiannya berbicara belasan bahasa itu menarik stasiun TV Beijing untuk mengundangnya.

Di situ, ia ditanya bagaimana bisa menjawab sejumlah pertanyaan dengan bahasa yang berbeda.

Menurut Thaksin, kemampuannya itu berkat turis-turis yang datang ke Kamboja.

Mengetahui hal tersebut, Palang Merah Kamboja mengungkapkan akan membayar uang sekolah Thaksin dan kakaknya..

Salik mengatakan dirinya sudah menjajakan suvenir sejak umur 11 tahun.

Artinya, di tahun 2018, ia sudah tiga tahun terlatih menjadi pedagang.

“Di awal saya mulai berdagang, saya hanya tahu satu bahasa. Saya belajar bahasa Inggris, tapi ibu saya mengirim saya untuk menjual di Gunung Bak Kheng. Di sana ada banyak turis Cina,” katanya.

Dilanjutkan Salik, banyaknya turis Cina itu membuat dirinya harus belajar bahasa Cina untuk kepentingan bisnis kecilnya.

“Turis Cina itu akan berkata saya bisa menjadi superstar di negara mereka,” paparnya lagi.

Disinggung mengenai uang yang ia dapatkan setelah berjualan, Salik mengatakan uang itu diterima ibunya.

Uang tersebut menjadi penopang hidup kebutuhan dasar keluarga dan pendidikan Salik dan saudara-saudaranya.

Rumah mereka hanya beberapa ratus meter dari Ta Prohm dan mereka juga berjuang untuk membayar hutang.

Ketika diwawancara, sang ibu mengakui dirinya tak mengetahui kemampuan Salik yang mampu berbicara 12 bahasa.

“Saya sangat senang dan tak bisa membandingkan hal ini dengan apapun,” kata perempuan bernama Mann Vanna itu.

Ia menilai Salik bisa menyerap semua pengetahuan dan otak Salik bisa mengingat banyak hal.

Melihat kemampuan Salik diatas rata-rata, Vanna sendiri merasa sedih tak bisa memanjakan Salik.

“Ketika yang lain membeli baju baru untuk anak mereka, saya merasa kecewa dengan diri saya karena kami tak memiliki kemampuan itu. Kami tak tahu harus berlaku apa. Kami memberikan mereka hidup tapi kami tak punya kemampuan untuk memberikan pengetahuan pada mereka,” ungkapnya panjang lebar.

Setelah banyak bantuan mengalir, Vanna berjanji tak akan meminta Salik untuk bekerja lagi.

Ia ingin anaknya bisa menjadi seseorang hebat dan berpendidikan. “Karena saya orang yang tak mendapat pendidikan cukup,” tandasnya

Ia juga mendapat sponsor dari pebisnis Kamboja, Khit Chhern untuk bisa belajar di Cina.

Pada 12 Mei 2019, di Facebook Post Chhern, ia menyatakan dirinya akan memayar sekolah Salik di Hailiang Foreign Language School di Zhejiang, China.

Chhern berharap Salik memiliki masa depan yang gemilang. Pemilihan belajar di China itu karena Salik mengakui dirinya nyaman berbicara bahasa China.

Masalah Salik ini, jika dilihat dalam bingkai yang lebih lebar, adalah masalah yang besar.

Banyak anak-anak di Kamboja yang memilih untuk bekerja daripada masuk kelas agar kebutuhan hidupnya tercukupi.

UNICEF Kamboja mengestimasi setidaknya ada 80 ribu anak-anak di sana yang tak bisa menghadiri kelas di sekolah, tempat dimana mereka seharusnya berada.

Organisasi itu mengatakan, kekerasan dan eksploitasi anak cukup tinggi karena kemiskinan.

“Saran kami adalah, turis dilarang untuk memberi uang atau membeli dari anak kecil. Kami tahu itu sulit, tapi itu harus dilakukan dan itu adalah langkah yang benar,” ucap Ketua Perlindungan Anak UNICEF Kamboja, Bruce Grant.

Ia menyarankan, jika turis ingin memberi, bisa memberi buku atau bolpoin yang memang dibutuhkan anak-anak.

“Di Kamboja, banyak dari ribuan anak-anak itu turun ke jalan. Kerjaan mereka adalah membuat turis bahagia. Ketika turis memberikan uang pada mereka, uang itu tidak untuk mereka, tapi kepada bosnya,” papar Grant. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: