Penjelasan Sains Tentang  Cinta, Bukan Datang Dari Hati!

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Selasa, 22 Desember 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Sudah jadi sebuah ungkapan populer bahwa cinta itu datang dari hati, atau dari mata turun ke hati. Tentu hal ini buah karya di mana para penyair atau penulis mengungkapkan indahnya rasa cinta.

Namun hal ini sangat berbeda jika cinta dibuka dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Jadi jika ada pertanyaan, dari mana datangnya rasa deg-degan, cemburu, dan perasaan lain yang sering kita asosiasikan dengan rasa sayang dan cinta?

Jawabannya adalah hipotalamus, dilansir dari Merdeka.com (21/12/2020).

Hipotalamus adalah bagian terdalam dari otak di tengah sistem limfatik atau pusat emosi pada otak. Ini adalah bagian di mana semua rangsangan yang diterima oleh manusia diproses, mulai dari pelukan, sentuhan, hingga bentakan dari pacar. Kemudian, hipotalamus akan mengarahkan tubuh untuk memberikan respon yang sesuai dari rangsangan dan emosi manusia.

Misalnya, jika Anda baru saja diputus oleh pacar, hipotalamus adalah organ yang bertanggung jawab memicu munculnya rasa sesak di dada, tingginya tekanan darah, perubahan pola tidur, sampai hilangnya nafsu makan.

Tak hanya itu, hipotalamus juga mampu mengontrol otot wajah untuk menampilkan ekspresi cemberut, marah, atau genit saat bersama pasangan.

Hormon Cinta

Berbagai asosiasi cinta yang dirasakan oleh tubuh kita, kerap kali juga dikendalikan oleh hormon. Hipotalamus sendiri juga jadi bagian otak yang mengontrol kelenjar hormon utama tubuh yakni kelenjar pituitari.

Hipotalamus bahkan bisa menghasilkan hormon cinta sendiri, yakni oksitosin. Hormon ini biasanya muncul saat dua pasangan saling berpelukan dan mampu menghilangkan stres dan rasa cemas. Itu lah alasan mengapa pelukan bisa sangat menenangkan.

Oksitosin juga dilepaskan saat pria ejakulasi. Hormon ini dikatakan dapat meningkatkan ikatan antara pasangan.

Oksitosin

Oksitosin sendiri mungkin jadi hormon paling dikenal luas oleh mmasyarakat. Bahkan sudah punya julukan sendiri sebagai hormon cinta.

Hormon oksitosin sendiri akan muncul ketika melahirkan dan menyusui (yang menyebabkan adanya bonding dari ibu ke anak), hingga orgasme yang tentu memingkatkan ikatan pasangan. Saking ajaibnya hormon ini, ilmuwan juga telah mengembangkannya untuk meredakan kecemasan di situasi sosial dan juga autisme.

Hormon ini efek kardiovaskular yang negatif. Mulai dari peningkatan denyut jantung hingga tekanan darah.

Beberapa penelitian menemukan bahwa hormon oksitosin mampu menyembuhkan gangguan makan, karena ketika hormon ini dirilis oleh tubuh seseorang, ia tak lagi terobsesi dengan bentuk tubuh yang mereka inginkan.

Nah, oksitosin adalah hormon yang selalu tersedia dan siap digunakan kapan saja. Peluk, cium, atau sekadar kontak fisik sederhana yang berkaitan dengan cinta akan membuat otak mengeluarkan oksitosin. Efeknya dalam jangka panjang dari hormon ini adalah kepercayaan yang semakin meningkat.

Jadi, pernyataan apapun yang menyebut frase ‘di dalam hati’, itu bukan secara harfiah ya! Semua perasaan tersebut diatur oleh organ utama dari tubuh kita, yakni otak dan seluruh kerumitan di dalamnya. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: