Pengakuan Ajudan Soal Sorot Mata Kartosoewiryo Kala Dieksekusi Mati

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Sabtu, 8 Juni 2019

Indolinear.com, Jakarta – Hubungan antara Soekarno dan Kartosoewiryo sebenarnya bukanlah musuh, atau seteru. Kedua tokoh itu, yaitu Soekarno dan Kartosoewiryo awalnya justru berteman.

Mereka merupakan sahabat saat indekos di rumah HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh, Surabaya bersama Semaun. Belakangan, tiga sahabat itu pecah. Masing-masing memilih haluan berbeda.

Soekarno memilih paham nasionalis, Kartosoewiryo menghendaki Islam sebagai dasar negara, dan Semaun yang menjadi merah karena bergabung dengan PKI, atau Partai Komunis Indonesia.

Terkait hubungan antara Soekarno, dan Kartosoewiryo rupanya ada kisah yang tak diketahui semua orang, dilansir dari Tribunnews.com (07/06/2019).

Itu seperti yang terdapat dalam buku “Soekarno Poenja Tjerita”, terbitan tahun 2016.

Dalam buku itu disebutkan, Kartosoewiryo memang tak mau mengakui pemerintahan Republik Indonesia yang dipimpin Soekarno, sejak 7 Agustus 1949.

Konflik di antara keduanya pun semakin meruncing tatkala Kartosoewiryo memberikan instruksi untuk membunuh Soekarno.

“Di Indonesia ada RI dan NII. Dengan begitu ada dua presiden. Maka dari itu, Soekarno harus dibunuh,” tulis buku itu menirukan isi dari instruksi Kartosoewiryo.

Upaya pembunuhan terhadap Soekarno pun terjadi beberapa kali.

Satu di antaranya terjadi pada tahu Juni 1961 di daerah Galunggung. Saat itu Kartosoewiryo memerintahkan kepada Mardjuk yang merupakan bawahannya, untuk membunuh Soekarno.

Mardjuk kemudian melaporkan perintah pembunuhan Soekarno kepada Taruna dan Budi. Mereka adalah dua sekretaris pribadi Kartosoewiryo. Kepada Mardjuk diberikan gigi Kartosoewiryo sebagai sejenis surat kuasa.

Pada April 1962, Mardjuk kemudian memerintahkan kepada Sanusi, Abudin, Djaja, Napdi dan Kamil untuk membunuh Presiden Soekarno.

Selanjutnya, pada 14 Mei 1962, saat Idul Adha, Sanusi menembakkan pistolnya ke arah Soekarno. Saat itu Soekarno sedang salat Idul Adha di halaman Istana.

Beruntung, percobaan pembunuhan itu gagal. Soekarno selamat.

Meski demikian, saat itu beberapa jemaah salat Idul Adha ada yang terluka. Mereka tertembak di bahu dan punggung.

Dalam sidang, Sanusi Firkat alias Usfik, Kamil alias Harun, Djajapermana alias Hidajat, Napdi alias Hamdan, Abudin alias Hambali, dan Mardjuk bin Ahmad Dijatuhi hukuman mati.

Selain menangkap mereka, pemerintah saat itu juga berhasil menangkap Kartosoewiryo.

Kartosoewiryo ditangkap tentara Siliwangi saat bersembunyi di dalam gubuk yang ada di Gunung Rakutak, Jawa Bara,4 Juni 1962. Vonis mati dijatuhkan kepada Kartosoewiryo.

Soekarno menolak grasi mantan sahabatnya itu, sehingga Kartosoewiryo pun tetap dieksekusi mati. Meski demikian, Soekarno bertanya kepada regu tembak pasca eksekusi itu dilakukan.

“Bagaimana sorot matanya? Bagaimana sorot mata Kartosoewiryo? Bagaimana sorot matanya?” tanya Soekarno. Mendapatkan pertanyaan itu mereka pun menjadi bingung.

Meski demikian, seorang ajudan spontan menjawabnya. “Sorot mata Kartosoewiryo tajam. Setajam tatapan harimau pak,” jawabnya.

Mendapatkan jawaban semacam itu, Soekarno pun bernafas lega, dan melempar tubuh ke sandaran kursi, Tak lama setelah itu, Soekarno pun mendoakan keselamatan arwah Kartosoewiryo. (Uli)