Pengabdian Helviani, Menjadi Bidan di Daerah Pelosok Selama Bertahun-tahun

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Sabtu, 30 November 2019

Indolinear.com, Jakarta – Tak semua orang sanggup mengemban amanah di tengah keterbatasan. Tetapi tidak bagi Helviani, yang menjadi seorang bidan di daerah pelosok selama bertahun-tahun.

Pengalamannya di masa lalu yang bertumpuk pelajaran hidup menjadikannya lebih kuat menghadapi masa selanjutnya.

Dahulu sewaktu dirinya masih sekolah, dengan kondisi keterbatasan ekonomi dan orang tuanya sakit-sakitan.

Helviani berpikir menjadi bidan sangatlah mulia karena masa lalu yang sulit, baginya menolong orang yang juga sulit ekonomi juga membuatnya merasa lebih baik.

Bidan yang biasa disapa Evi ini mengikuti program bidan desa PTT (Pegawai Tidak Tetap) pada 2007.

Helviani kini mengabdi di daerah pelosok, butuh waktu sekitar dua jam perjalanan dari ibukota kabupaten.

Kini ia bertugas di Kelurahan Tebo Jaya, Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang, Kabupaten Bungo. Persisnya tempat praktik Bidan Helviani beralamat di Jalan Jeruk, RT 01,RW 01, Dusun Tebo Jaya.

Ia mengenang, ketika menjalani tugasnya sebagai bidan. Saat itu kondisi jalan yang ia lalui rusak. Alhasil, ia berkali-kali jatuh dari sepeda motor, tetapi itu tidak membuat ia menjadi trauma.

“Saya sudah memilih untuk di tempatkan di sini dan saya harus bertanggung jawab dengan pilihan saya,” ujarnya, dilansir dari Tribunnews.com (28/11/2019).

Evi tak jarang bertemu dengan pasien-pasien yang tidak mampu membayar dengan uang.

Pasiennya ada yang hanya bisa membayar dengan hasil pertanian seperti cabe dan pisang, bahkan meninggalkan KTP.

Tetapi bagi Helviani hal tersebut tidak menjadi masalah, sebab yang terpenting orang itu tertolong.

Dia punya dua prinsip dalam menyampaikan konseling untuk calon ibu. Pertama, menghargai pengetahuan yang dimilikinya dan tidak menghakimi.

“Kadang kan perbedaan pendapat dengan beberapa ibu adalah hal yang wajar bagi saya, biasanya saya melakukan pendekatan kekeluargaan dan secara pribadi untuk pelan-pelan memberikan edukasi terutama dalam hal pemberian gizi,” ungkapnya.

“Untuk mempersiapkan gizi anak, harus dipersiapkan sedini mungkin. Itu diawali dengan gizi saat kehamilan. Oleh karena itu, ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi makanan bergizi, sayur-sayuran dan buah-buahan. Selain itu, ditambah dengan multivitamin serta susu untuk ibu hamil, agar mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan,” paparnya.

Ia mengingatkan, dalam kondisi ini, peran suami dan keluarga sangat penting untuk mendukung ibu.

“Termasuk selama menyusui, agar psikologis ibu terjaga sehingga produksi ASI tidak terganggu,” pungkasnya.

Memang, seorang bidan selain memberikan pendampingan kesehatan fisik, juga mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan.

Tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat.

Kegiatan ini mencakup pendidikan pra kehamilan dan persiapan menjadi orangtua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi, dan edukasi akan pentingnya pemberian nutrisi lengkap untuk anak dan peran Ibu dalam menstimulasi perkembangan anak agar ia bisa tumbuh dan berkembang memiliki potensi prestasi untuk menjadi generasi maju penerus bangsa.

Dia juga berpesan pada para calon ibu agar lebih sadar akan hak reproduksinya, misalnya sang ibu sanggup mempunyai berapa anak, atau kapan sang ibu mau mengikuti Keluarga Berencana.

“Kadang harus tanya suami dulu, bukannya egois tetapi itu juga untuk kesehatan reproduksinya sendiri,” kata perempuan kelahiran tahun 1986 ini.

Helviani juga menuturkan, prinsip kesehatan perempuan siklusnya dari masa konsepsi hingga lansia. “Dari fisik hingga psikis,” tutupnya. (Uli)

INDOLINEAR.TV