Pengabdian Guru Siti Habibah Ajar Anak Asmat Sendirian

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Minggu, 28 Juni 2020
KONTEN MILIK PIHAK KETIGA. BERISI PRODUK BARANG, KESEHATAN DAN BERAGAM OBAT REPRODUKSI. MARI JADI PENGGUNA INTERNET SEHAT DAN CERDAS DENGAN MEMILAH INFORMASI SESUAI KATEGORI, USIA DAN KEPERLUAN.
loading...

Indolinear.com, Asmat – Pendidikan merupakan hak dasar setiap manusia. Tidak peduli seseorang memiliki latar belakang apapun. Prinsip itu dipegang betul oleh Siti Habiba.

Berbekal pengetahuan yang didapat di bangku pendidikan formal hingga sarjana, hijaber ini mengabdikan diri menjadi pengajar anak-anak Suku Asmat. Yang mengagumkan, dia tanpa memungut biaya sepeser pun.

Kisah kehebatan Siti diabadikan oleh pemilik akun Facebook Floribertus Rahardi. Dia mengisahkan pengalamannya bertemu dengan sosok Siti yang berjiwa sangat mulia itu.

” Namanya Siti Habiba, S1 Universitas Musamus, Merauke. Ia juga Dan 1 Karateka Gabdian Shitoryukai,” tulis Rahardi di akun Facebook miliknya yang dilansir dari Dream.co.id (26/06/2020).

Rahardi mengatakan, Siti tinggal bersama suami dan dua anaknya di Perumahan Weda Permai, Merauke. Perumahan itu dekat dengan Kampung Asmat Sungai Weda.

Alasan Tak Sekolah Bikin Kaget

Anak-anak Asmat itu tidak ada yang bersekolah. Ini lantaran mereka tidak punya akta kelahiran, yang membuat tidak ada satupun sekolah mau menampung mereka.

” Bu Siti, atas inisiatif pribadi, mengundang anak-anak itu untuk diajari membaca, menulis dan berhitung di rumahnya yang sempit,” tulis Rahardi.

Anak-anak itu begitu bersemangat belajar bersama Siti. Tetapi, Siti kewalahan lantaran dia harus mengajar 113 anak sendirian.

” Karena kewalahan, ia sekalian mundur dari pekerjaannya sebagai guru olahraga di sebuah SMA,” tulis Rahardi.

Seluruh anak Asmat yang dia ajari membaca dan menulis beragama Kristen. Siti tidak mempermasalahkan hal itu dan tetap mengajar anak-anak itu dengan penuh keikhlasan.

Anak-anak itu kerap disuruh datang ke gereja untuk sekolah Minggu. Tidak satupun dari mereka mau lantaran letak gereja yang sangat jauh.

” Bu Siti berinisiatif menawarkan rumahnya, yang sudah menjadi sekolah mereka, untuk menjadi lokasi sekolah minggu. Orangtua anak-anak dan guru sekolah minggu setuju. Maka, anak-anak itu kemudian berkumpul di rumah Bu Siti, untuk bersekolah minggu,” tulis Rahardi.

Siti merupakan satu dari sekian banyak sosok Muslim yang mengabdi pada kemanusiaan. Meski berbeda keyakinan, Siti tetap mengajari anak-anak itu membaca dan menulis. (Uli)

Suku Asmat mempunyai makanan khas berbahan dasar sagu. ada pula makanan yang dianggap ekstrem. Berikut empat makanan khas Suku Asmat.

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: