Penembakan Orlando, Kisah 3 Jam Berdarah Di Klub LGBT

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Kamis, 10 Oktober 2019

Indolinear.com, Orlando – Jarum jam menunjuk ke pukul 02.00, Minggu dinihari 12 Juni 2016, masih ada 320 orang di dalam klub malam Pulse, Orlando. Dua menit kemudian, seorang pria melangkah masuk. Ia membawa senapan, pistol, dan amunisi.

“Musik masih dimainkan, semua orang menari…saat itulah terdengar suara ‘Bang, Bang!’,” kata, Javier Antonetti, yang ada di dalam klub saat kejadian seperti dikutip dari Liputan6.com (08/10/2019). “Pria yang berdiri di sampingku ambruk. Darah berceceran di mana-mana.”

Antonetti mengaku, mendengar pelaku bicara lewat telepon dengan seseorang. “Berhenti membunuh ISIS. Aku punya banyak peluru,” kata dia, menirukan suara penembak yang belakangan diidentifikasi sebagai Omar Mateen (29).

Antonetti mengaku, ia berpura-pura mati saat kejadian. Itulah mengapa ia bisa selamat, meski harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Beberapa saat kemudian, polisi yang tak sedang bertugas dan menjadi petugas keamanan di klub memutuskan untuk masuk. Ia dan dua polisi lain terlibat baku tembak dengan pelaku.

“Petugas kami terlibat baku tembak dengan tersangka,” kata Kepala Kepolisian Orlando, John Mina.

Saksi mata lain, Janiel Gonzalez mengungkapkan, orang-orang berteriak dan merangkak di lantai. “Saat itu aku bertekad, ‘bukan ini caraku mati, bukan hari ini’,” katanya.

Pada pukul 02.09, klub malam memberikan peringatan lewat laman Facebook mereka. “Semua orang keluar dari Pulse dan terus lari menjauh.”

Saat berada di luar, Gonzalez melihat orang-orang dalam kondisi luka dan berdarah-darah. Orang-orang mencoba lari, tapi mereka terjebak dan menjadi sandera, demikian menurut aparat.

Di tengah penembakan terjadi, Mateen, yang lahir di AS dari orangtua yang berasal dari Afghanistan menelepon 911 untuk menyatakan kesetiaannya pada ISIS.

Tim SWAT yang mengerahkan kendaraan lapis baja bergegas ke lokasi kejadian. Namun mereka memutuskan menunggu di luar klub hampir selama tiga jam.

“Saat itu kami membutuhkan persiapan, evaluasi, melakukan penilaian tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan memastikan semua hal berada pada tempatnya,” kata supervisor Departemen Penegakan Hukum Florida, Danny Banks.

Pada pukul 05.00, SWAT memutuskan untuk membebaskan para sandera. Polisi menggunakan bahan peledak di dalam klub, untuk mengalihkan perhatian pelaku penembakan.

Sementara itu, kendaraan lapis baja ditabrakkan ke dinding klub. Petugas yang berlindung di belakangnya menyerbu masuk. Sebanyak 11 polisi terlibat baku tembak dengan pelaku.

Pada pukul 05.53, Kepolisian Orlando mengumumkan dalam Twitter, “Penembak di dalam klub sudah tewas.”

Penembakan membabi buta di dalam klub Pulse pada Minggu dinihari dideskripsikan sebagai ‘insiden teror domestik’, sekaligus merupakan penembakan massal paling mematikan dalam sejarah AS.

Penembakan di Orlando yang dilakukan Omar Mateen sempat jadi serangan teror paling mematikan dalam sejarah Negeri Paman Sam sejak peristiwa 9/11 pada 11 September 2001.

Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama mengatakan, belum ada bukti langsung bahwa pelaku penembakan Orlando dikendalikan ISIS atau terkait langsung dengan organisasi teroris itu.

Ia kembali menyoroti kemudahan yang dirasakan orang untuk memperoleh senjata dan melakukan pembunuhan massal.

“Pelaku di Orlando diduga bersenjatakan pistol dan senapan serbu berkekuatan tinggi. Pembunuhan massal ini, menjadi pengingat tentang betapa mudah seseorang untuk mendapatkan senjata yang memungkinkan mereka menembak orang-orang di sekolah, tempat ibadah, gedung bioskop atau di klub malam.”

Penembakan Era Donald Trump Lebih Parah

Namun, peristiwa penembakan yang terjadi pada masa pemerintahan Donald Trump mengalahkan ‘rekor’ korban jiwa dalam insiden Orlando

Setidaknya Setidaknya 58 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya terluka akibat penembakan massal yang menargetkan sebuah konser di Las Vegas, Amerika Serikat pada Oktober 2017.

Pelaku, Stephen Paddock memuntahkan peluru dari lantai 32 Mandalay Bay Hotel ke arah festival musik yang saat itu dihadiri 22 ribu orang.

Pria asal Nevada tersebut diyakini bunuh diri saat polisi menyerbu kamar hotel tempatnya berada. Aparat menemukan 10 senapan di dalam kamar tersebut.

Pihak berwenang masih menyelidiki motif di balik kekejamannya itu. Tidak ditemukan keterkaitan Paddock dengan kelompok teroris internasional, meski ISIS mengklaim bertanggung jawab atas insiden itu. (Uli)