Peneliti Menemukan Nenek Moyang Pohon Modern, Usianya 385 Juta Tahun

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Jumat, 13 Maret 2020
Unik | Uploader Yanti Romauli

Indolinear.com, New York – Sebuah fosil hutan yang disebut-sebut sebagai tertua di dunia telah ditemukan. Fosil hutan purba tersebut membentang di atas sebuah tambang yang sudah ditinggalkan di Cairo, New York, Amerika Serikat.

Ditemukan secara kebetulan pada tahun 2009, jaringan akar yang langka di hutan purba itu meninggalkan tanda beberapa pohon pertama pernah berdiri.

Yang menakjubkan, beberapa di antara pohon purba di fosil hutan tersebut memiliki lebar hampir 11 meter.

” Ditemukan di permukaan tambang, kita dapat merekonstruksi kondisi hutan purba itu saat hidup,” jelas Christopher Berry dari Cardiff University, dilansir dari Dream.co.id (11/03/2020).

Nenek Moyang Pohon Modern                        

Beberapa akar pohon purba yang bentuknya panjang ini diperkirakan dari genus Archaeopteris. Genus ini dianggap sebagai nenek moyang pohon modern saat ini.

Pohon ini merupakan salah satu yang pertama dari jenisnya yang bisa menangkap dan menyimpan karbon dioksida dari udara melalui daunnya yang berbentuk datar dan berwarna hijau.

Berperan Mengubah Iklim Planet Bumi

Berkat pohon purba inilah iklim planet Bumi mengalami perubahan secara dramatis. Selain menambah lebih banyak oksigen ke atmosfer, pohon-pohon tertua itu juga menyediakan habitat subur bagi serangga primitif dan makhluk mirip kaki seribu.

Kondisi ini berlangsung selama bertahun-tahun sebelum burung dan binatang besar lainnya mulai menjadikan pohon sebagai sarang mereka.

” Pada akhir periode Devonian (360 juta tahun lalu), jumlah karbon dioksida turun hingga seperti yang kita kenal sekarang,” jelas Berry kepada New Scientist.

Ada Tiga Jenis Pohon Purba

Tim peneliti internasional sejauh ini telah memetakan lebih dari 3.000 meter persegi fosil hutan purba. Selain Archaeopteris, di dalamnya terdapat dua jenis pohon purba lainnya.

Salah satunya dikenal sebagai cladoxylopsids, sementara yang lainnya masih belum bisa diidentifikasi.

Secara keseluruhan, hutan purba ini sangat terbuka dan jarang, dengan cladoxylopsids terlihat mendominasi. Pohon tak berdaun ini menjulang setinggi 10 meter dengan akar dangkal dan cabang seperti seledri pendek.

Tidak Tumbuh Melalui Biji

Sementara Archaeopteris lebih mirip pohon pinus. Tetapi bukan berdaun jarum, pohon ini memiliki bulu, seperti daun pakis.

Ditandai oleh akar kayunya yang panjang, Archaeopteris secara dramatis mengubah cara tanaman dan tanah mengumpulkan air.

Menariknya, ketiga fosil pohon tersebut akan bereproduksi melalui spora, bukan biji, di masanya.

Kehadiran fosil ikan di tambang tersebut menunjukkan bahwa fosil hutan purba ini musnah oleh banjir. Penelitian ini dipublikasikan dalam Current Biology. (Uli)

INDOLINEAR.TV