Peneliti LIPI: Mitos Ratu Kidul Merekam Peristiwa Tsunami Masa Silam

FOTO: detik,.com/indolinear.com
Senin, 25 Januari 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Penelitian terbaru dari ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap potensi tsunami setinggi 20 meter. Sejak dahulu kala, ternyata tsunami besar sudah terjadi di selatan Pulau Jawa. Peristiwanya diyakini terekam dalam mitos Ratu Kidul.

Peneliti paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bernama Eko Yulianto adalah orang yang menemukan hal ini. Dia memadukan catatan geologi dengan karya sastra Jawa masa lalu untuk menemukan catatan mengenai peristiwa tsunami besar di era silam.

“Kesimpulan saya, mitos Ratu Kidul muncul berkaitan dengan peristiwa gempa dan tsunami 400 tahun lalu,” kata Eko yang dilansir dari Detik.com (24/01/2021).

Awal cerita

Mulanya, Eko meneliti dua sampel lapisan tanah di Pangandaran, Jawa Barat, pada 2006. Dari hasil uji ilmiah ditemukan, lapisan itu menunjukkan adanya tsunami pada 400 tahun lalu.

“Seandainya itu benar ada tsunami raksasa di masa lalu, maka yang terpikir adalah peradaban apa yang mengalami peristwa itu. Peristiwa sejarah apa yang berkaitan dengan peristiwa itu,” kata Eko.

Asumsi Eko melayang ke empat abad silam. Saat itu adalah momentum berdirinya Kerajaan Mataram Islam. “Jika benar ada tsunami besar di masa itu, pastilah peristiwa itu tercatat dalam kebudayaan,” kata dia.

Bukankah jarak antara Pangandaran dan Yogyakarta (lokasi Mataram Islam) sangat jauh? Zona subduksi di selatan Jawa tidak pendek, melainkan merentang dari Selat Sunda hingga kepulauan Nusa Tenggara. Panjangnya lebih dari 1.890 km.

“Dengan panjang segitu, diasumsikan bila runtuh bersamaan maka bisa menghasilkan gempa skala 9,6. Itu skenario terburuk. Kalau itu terjadi, maka tsunami besar akan terjadi,” kata Eko.

Di sisi lain, Robert McCaffrey lewat karyanya ‘Global frequency of magnitude 9 earthquakes’ dalam jurnal Geology edisi 36 tahun 2008 memberikan penjelasan mengenai tsunami masa lalu.

“McCfrey menyatakan ada perhitungan perulangan gempa setiap 675 tahun. Tapi kejadian perulangan ini tidak selalu tetap sama. Kalau saya asumsikan, maka setidaknya dari sekarang sampai 675 tahun yang lalu ada satu kejadian gempa dan tsunami,” kata Eko.

Mitos Ratu Kidul

Mitos Ratu Kidul berkaitan dengan narasi legendaris soal pendiri Kesultanan Mataram, Danang Sutawijaya alias Panembahan Senapati (1584-1601).

Babad Tanah Jawi disikapinya bukan murni sebagai catatan sejarah, melainkan sebagai produk politik. Di dalamnya, ada kisah yang menjadi landasan legitimasi politik, bahwa Sutawijaya adalah orang yang sah untuk menjadi raja.

Narasi itu seolah menepis kenyataan bahwa Sutawijaya bukan darah biru, melainkan anak angkat Raja Pajang Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir). Dengan narasi itu, masyarakat Jawa bagian selatan yang agraris (petani) menjadi yakin akan kepemimpinan rajanya. Di masa modern, mitos-mitos masih sering digunakan sebagai landasan legitimasi politik, misalnya capres X, cagub Y, atau calon bupati Z adalah keturunan raja-raja di masa silam.

“Babad Tanah Jawa bagi saya adalah wujud kecerdasan politik, sosial, dan budaya,” kata Eko.

Meski demikian, meski sifatnya bukan 100% sejarah, kisah-kisah mitologis itu menuntun Eko ke arah yang lebih jauh. Mitos itu menyimpan peristiwa penting di masa lalu, yakni tsunami 400 tahun lalu.

Dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi, Sutawijaya meminta bantuan Ratu Kidul untuk membangun kerajaan Mataram yang berbasis di Alas Mentaok, di masa selanjutnya berubah menjadi Kota Gede, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dalam waktu yang bersamaan, rekan Sutawijaya bernama Ki Juru Martani juga meminta bantuan penguasa Merapi untuk membangun kerajaan Mataram. Praktis, legitimasi mitologis didapat dari Samudera sekaligus Gunung Berapi.

Deskripsi tsunami di Serat Sri Nata

Petunjuk mengenai adanya tsunami di masa lalu ditemukan dalam Serat Sri Nata, sebagai bagian dari Babad Tanah Jawi.

“Penjelasan di Serat Srinata sangat clear. Seolah-olah, itu seperti cerita kesaksian dari korban selamat tsunami Aceh. Sangat deskriptif,” kata Eko.

Begini kutipan dari Serat Sri Nata:

Kilat thathit abarungan

Panjunegur swara kagiri-giri

Narka yen kiyamat iku

Toya minggah ngawiyat

Apan kadya amor mina toyanipun

Semana datan winarna

Ratu kidul duk miyarsi

Lagya sare kanthi denta

Kagegeran manehe Sang Sung Dewi

Dene naga samya mlayu

Arsa minggah perdata

Ratu Kidul alon denira amuwus

Selawas sun durung mulat

Samodra pan dadi kisik

Dene panase kang toya

Anglir agni klangkung panasing warih

Mina sedaya pan lampus

Baya ari kiyamat.

Terjemahan Bahasa Indonesia:

Kilat dan halilintar bersamaan

Gemuruh suaranya menakutkan

Mengira bahwa itu adalah kiamat

Air naik ke angkasa

Bahkan, seperti bercampur dengan ikan airnya.

Pada saat itu tidak dikisahkan

Ratu Kidul saat mendengarnya

Sedang tidur beralaskan gading

Kacau hati Sang Dewi

Bahkan naga pun semua lari

Ingin naik untuk berkelahi(?)

Ratu Kidul perlahan berkata:

“Selama ini aku belum pernah menyaksikan,

Samudra menjadi pesisir [pantai].

Bahkan panasnya air, bagaikan api,

sangatlah panas airnya

Semua ikan mati

Mungkin hari kiamat ini.

Eko berpendapat segala peristiwa besar pastilah tercatat, namun bentuk catatannya berbeda-beda. Alam pasti mencatat peristiwa tsunami, catatannya berada pada lapisan geologis di tanah. Manusia juga mencatatnya, yakni di tulisan dan non-tulisan. Masyarakat Jawa mencatatnya dalam bentuk produk budaya tertentu, yakni mitos Ratu Kidul.

“Di bait terakhir itu dikatakan, Ratu Kidul bersaksi tidak pernah melihat peristiwa semacam ini, yakni air laut surut dan naik ke angkasa bercampur dengan ikan. Ini seolah-olah deskripsi tsunami,” kata Eko yang menyebut pendekatan semacam ini sebagai geomitologi.

Eko sendiri mengaku menerima pertanyaan-pertanyaan yang meragukan keabsahan pendapatnya. Bagaimanapun juga, sains dan mitos berbeda. Namun bagi Eko, sains yang berhenti dipertanyakan dan hanya diyakini sebagai kebenaran, maka sains bakal menjadi mitos juga. Namun mitos bila ditelaah dengan metodologi ilmiah, maka bakal ada kandungan sains dalam mitos itu.

“Sebuah mitos, ketika kemudian dihadirkan di atas meja bedah sains dan dibuka asal-usulnya, mitos itu akan berubah menjadi sains,” kata dia. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: